DAN HUJAN


(refleksi tanpa batas)

Pagi menjelang, hujan segera berhenti. Dalam keseharianku, hanya sesekali mendapatkan momen seperti pagi ini. Betapa hujan yang deras tadi subuh telah membersihkan segala noda-noda hari kemarin. Mengikis habis debu-debu di atap gedung-gedung, di dedaunan pepohonan. Semuanya terasa bersih meskipun tetap menyisakan genangan air di setiap cekungan. Rerintikan, harapku tidak terhenti.
Awal yang sangat tenang walau kesannya sedikit suram. Adalah sensasional untukku, saat-saat seperti ini. Betapa tidak, fenomena dua kali dua sangat menakjubkan yang hanya sesekali terjadi. Aku jarang mendapatkannya. Pergantian malam menjadi siang yang dibarengi dengan peristiwa hujan menuju berhentinya. Dua peristiwa berbalikan supersensasional yang terjadi bersamaan. Ada yang tergantikan, ada yang mengganti. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada kematian dan kelahiran yang baru. Mentari bahkan enggan mengusik ketenangan ini. Tiada mampu membakar harmonisasi. Semuanya kembali mengalir, normal, ada harap yang kutitipkan lewat air di comberan. Alam terbaring di kedamaian.
Sesaat aku terdiam, duduk di tempat ini. keagungan membuai membawaku jauh ke alam fikiranku. Kuharapkan hujan juga mampu membersihkan hatiku, hati seorang kelas dua, seperti dia membersihkan alam. Kuharapkan hujan juga mampu menghanyutkan sampah-sampah di jiwaku, jiwa seorang cadangan, seperti dia menghanyutkan sampah-sampah alam. Kuharapkan hujan bisa mengalirkan air comberan di segenap nuraniku, nurani seorang alternatif lanjutan. Tetapi tiada hujan, tiada sesiapa di diriku. Hanya kondensasi awan yang masih baru. Dan untuk terjadinya hujanku, suhu kondensasi ini harusnya lebih dingin lagi. Dan aku tidak memiliki freezer untuk itu. Freezer ini kudapati jauh di balik wajahmu. Lalu pantaskah aku untuk menggunakannya, memilikinya? Sedangkan aku sadar arti pentingku bagimu. Aku bukanlah satu-satunya untukmu. Aku terdiam dalam kehampaan.
Ingin kutanyakan ini pada hujan, tapi telah terganti. Wahai pagi, inikah peran tangis yang melembutkan hati? Ataukah itu hanya untuk alam? Apakah tangisan ini memang bukan untukku? Mungkinkah mata masih sudi berkompromi?
Aku hanya bisa membangun harapan tanpa keberanian untuk berharap. Terlebih lagi ketika takdir mengajarkan untuk tidak memaksakan sesuatu apapun. Tiada kekuasaan yang akan dijelang pada setiap pemaksaan, bahkan Tuhan sekalipun tidak melakukan itu. Takdir mempertegasnya melalui simfoni:
Argentum
munafik ku bila tak suka
namun adakah cinta dipaksa
ku tahu siapa diriku dan di mana tempatku
ku tak bisa jadi kekasihmu
seorang yang lain menantimu

dan dia terbaik untukmu

maafku bila tak berani
biarlah tersimpan dalam hati
ku tahu siapa diriku dan di mana tempatku
ku tak bisa jadi kekasihmu
seorang yang lain menantimu
dan dia terbaik untukmu
n.e.r.i.u.m

Sekali lagi aku hanya bisa memandangimu dari tempatku. Aku hanya bisa mengagumimu melalui ketenangan hujan. Tanpa berani mendekatimu, apalagi memanggilmu, menyapamu.

Seandainya hujan ini terjadi dilain waktu, mungkin suasana akan bercerita lain. Seandainya hujan ini terjadi di siang hari, maka cahayanya mungkin malah menghangatkan aku. Seandainya hujan ini terjadi di lain kesempatan, kupastikan terjadinya tidak di pagi hari. Seandainya hujan ini terjadinya frontal konvensional, kupastikan cahayamu menyinari tempatku. Tapi tak ingin juga aku mengusik ketenangan hujan pagi ini. Aku sama sekali tak punya kemampuan untuk melakukan itu.

Jika saja hujan ini benar-benar terjadi di siang hari, maka aku tidak lagi perlu berucap banyak. Kupastikan sinarnya akan mereaksikan ion-ion di awan kondensasiku. Menghasilkan guntur gemuruh sebagai tanda berawalnya hujan. Guntur gemuruh sebagai simbol keberanianku untuk mendekatimu. Lalu, jika saja hujan ini terjadinya frontal konvensional, pelangi pasti akan hadir, terbit sebagai kepastian bahwa di matamu pun sebenarnya aku memiliki tempat. Walau itu hanya di matamu. Tetapi kenyataannya, hujan ini terjadi di pagi hari dan bukan frontal konvensional.

Engkau memanglah hujan, hujan yang aku sanjungi. Engkau memanglah hujan, hujan yang kunantikan. Tetapi kau adalah hujan yang telah disambut dan itu bukan aku. Engkau adalah hujan yang dinantikan, tapi kedatanganmu bukan hanya untukku. Aku tidak punya penadah yang cukup luas untukmu menerpa. Aku tadak memiliki tempat yang cukup tinggi yang bisa lebih cepat menerima jatuhmu. Aku adalah satu titik di lembah yang rendah dan sama sekali tidak terlihat.

Di tempatku ini aku hanya berani memujamu, bukan mendekati hatimu. Dari sini, aku memang berani mengagumimu, bukan memanggilmu. Dan di sini, aku cukup berani memandangmu tapi tidak untuk menyapamu.


Rana Taria

 

Advertisements

3 thoughts on “DAN HUJAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s