SANG AKU

 

Aku duduk bersandar di kakinya. Membolak-balik catatan lama. Sekedar menertawakan ketidak tahuan isyarat udara. Geli, menggelitik ujung-ujung sensori menonton peran sang pelakon. Aku kadang tersipu, tersentil tawa saat konektor memori tersambung adegan-adegan parodik semi operet. Apik dibintangi aktor sang Aku. Laksana terusik akan tahu.

“… Ehm…” sedikit tersentak, aku menoleh kiri-kanan. Berulang cepat beberapa kali. Terlintas, “siapa ya?” Dia tertawa kecil-kecilan. Kaget, mendongak, merupakan ekspresi primerku yang paling spontan. Pastikan sedari tadi dia ikut menonton pagelaran sang Aku

Guratan wajahnya jelas tidak sedang menertawakan adegan panggung. Ada kegelisahan dari tarikan nafasnya. Ada gundah di setiap hembusannya. Ada keluh di sana.“Adakah aku pantas mengetahui perihal itu?”, kusambut dengan tanya. “Sekiranya tadi engkau tersipu karena pelakonan sang Aku, sesallah yang aku rasa menyaksikan naskah lain parodi sang Aku. Kemarin, sang Aku bangga merasa tumbuh. Merasa besar serasa kuat. Meski itu tidak berlangsung lama. Terbit kecemasan ketika menyadari persediaan air disekitar mulai habis. Akarnya tidak cukup panjang menjangkau lebih jauh lagi. Hingga hari ini sang Aku selalu benci merasa cukup. Dia berjanji tidak boleh berhenti tumbuh.” Dia seperti tertunduk mengakhiri perkataannya.

Tampak sekitar terlena mendengar cerita sang pohon. Masing-masing mencoba memosisikan diri sebagai sang Aku. Mencoba menggapai makna kisah. Mereka menyelam untuk itu.

Dia berempati kelihatannya. “saat seperti apa engkau merasa bahagia?” Berseri dia menjawab, “ketika kuncup-kuncupku mulai bermekaran. Senang menyaksikan pelepah memecah. Aku terbuai, mereka mulai berfungsi. Terbukanya kelopak menebar wangi. Menggembirakan pemukim taman.” Matanya berbinar. “Mereka berubah, menjadi buah, masak, sesaat menjadi tumbuhan baru”, bunga melanjutkan. “Aku tak yakin, apakah kalian melihat kebahagiaanku itu.” Dia meragu, menyisakan perenungan di setiap yang mendengarnya.

 ****

Sungguh, sesuatu yang berat telah menghantam di kepalaku. Tak tahu pasti, bentuk dan adanya seperti apa. Menjalar, menyumbat setiap vena, membendung aliran dalam arteri. Setiap organ akan meledak. Mereka di titik nadir. Kulminasi tercapai, pertahanan porak-poranda oleh perkataan penghuni taman. Ruang ini bercerita lain. Aku terpasung santaria. Mantra akal budi.

Kupaksa menarik simpulan. Saat ini aku butuh duduk. Jika kelopak mengembang, besar kemungkinan menjadi buah. Bisa saja mati tanpa makanan. Distribusi penyebaran harus merata. Bersama akar dan hama, mereka harus bertanggung jawab jika calon bunga tidak sampai mekar, mati sebagai kuncup. Putik tidak sempat menikmati cahaya, helai mahkota menutup diri.

Kembali menengok kiri kanan. Sebagian tertawa, gembira, sebagian menangis, sedih, dan aku hanya diam. Kucoba menghargai mereka, menjadi diri sendiri. Aku tak menari, tidak indah. Aku tak melucu, bukan lawakan. Boleh tertawa, hanya tertawa,ini parodi. Kalau tidak, diam. Tiada kata, kosong makna. Lidah minta istirahat, bibir butuh dikatup. Cukup diam, jangan ambil peran, lupakan peran.

Betapa naskah sang Aku, cerita pohon menyudutkanku. Bebungaan membuatku tertunduk, hilang tegak untuk memandang alam. Aku butuh mentari. Mana peranannya.

****

Kuseret langkahku mencari mentari. Biasanaya dia paling mudah di temui di pantai-pantai terbuka. “Ada apa wahai mentari? Pelakonan sang Aku baru saja selesai diputarkan. Jangan menguak lagi yang telah tertimbun. Bukannya aku takut aib ini terbongkar, tetapi sebelum dihukumi, aku sudah terpuruk akan dosa-dosa. Perjuangan tumbuhnya sang Aku mengempati pengunjung taman. Proses seksualitas bunga-bunga memberikan harapan hidup. Reproduksi yang suci. Apakah ini tentang aib atau dosa-dosa? Bahkan pijarmu tak ingin menjawab.”

“Hei… kau yang menerangi bumi. Adakah jawab untuk pertanyaanku. Tolong ceritakan kisahmu. Pernahkah engkau merasa lelah? Sempatkah kantuk mengunjungimu, atau sekedar menyapamu? Ceritakan juga tentang waktu. Apakah perasaanku benar hari ini. Bahwa waktu tiba-tiba melambat. Sedang di lain kali dia tergesa-gesa. Aku melihatmu selalalu berjalan beriringan dengannya. Adakah kau menandatangani traktat harmonisasi dengannya? Adakah kitab yang telah kau baca? Di tempat ini kau selalu hadir cenderung konstan pada waktu yang relatif sama, atau memang sama. Entahlah! Kaulah yang tahu.”

“Ceritakanlah…., mungkinkah suatu hari nanti engkau akan pulang ke rumahmu? Rumah dimana mama, papa, kakak dan adik-adikmu senantiasa merindumu, menantimu. Menyambutmu dengan tawa haru, engkau telah berhasil mewujudkan harapan mereka. Aku yakin kau hanya sedang merantau di tempat itu. Kabarkanlah aku jika waktumu telah datang, aku akan mengikutimu. Aku ingin bertemu mama papamu, adikmu yang mungil dan kakakmu yang bijak.

Aku sangat bangga padamu, sampai saat ini. Walau kau belum menjawab tanyaku. Baiklah, kau akan kutanya ulang! Mengapa kau tidak membiarkan Copernicus atau Galileo bernafas lebih lama? Bukankah mereka sahabatmu juga, teman berdiskusimu? Apakah engkau tidak setuju dengan mereka atau saat itu kalian sedang bertengkar. Atau kau memiliki alasan lain. Hari ini kau boleh tidak menjawab pertanyaanku, tapi aku ingin kau bangunkan esok pagi dengan lembut belaimu. Belaian cahayamu, yang selalu dijadikan perisai oleh sang Aku. Dan kau langsung menceritakan semuanya padaku.

Kau tidak akan bertanya padaku, iya kan? Biarlah aku yang bertanya. Aku dan kamu tidak perlu seperti kau dengan Copernicus. Aku belum siap menjadi seperti mereka. Aku takut. Aku tahu bahwa kau tahu aku tidak tahu kalau harus menjawabmu. Dan aku tahu bahwa kau tahu kalau akulah yang harus bertanya. Kau adalah sebaik- baiknya saksi hidup dari apa saja yang telah terjadi di bumi ini. Bahkan semenjak adanya untuk yang pertama. Seperti pohon menyaksikan tumbuhnya kecambah, kau meyaksikan lahirnya bumi.”

Mentari terbenam, meninggalkan aku yang masih bermain ombak. Menyisakan rona merah saga di angkasa raya. Dia menitip pesan lewat temaram perlahan-lahan. “Besok aku datang lagi, hidup belum berhenti, kita akan terus melangkah.”

 ****

“Heii…kawan, bangunlah pagi ini!”, sapaku ke seluruh jagad. “Selamat pagi mentari, terima kasih telah membangunkanku dan untuk cahaya terangmu. Kuawali dengan doa untuk apapun yang akan kulakukan hari ini.

Semalam, rembulan mengajarkanku doa. Sayang sekali aku lupa bertanya, doa ini untuk apa, dan waktu kapan. Kubaca saja untuk mengawali siang.

‘Di hadapan Sembahan ahli ibadah, kembali kami mengadu

Dalam pandangan Sang Sumber, kami tertunduk fana

Ya Tuhan Semesta Alam.

Ampunilah kami yang setia kepada kelalaian dengan ampunan-Mu atas nama cinta

Dan akan kehendak-Mu, bahagiakanlah kami akan jiwa yang benar-benar ubudiyah,

Enkaulah Rububiyah

Kamilah kehinaan, sadar bersalah tanpa malu berbuat

Engkaulah Sumber segala kebaikan, keterhormatan

Jika kami adalah bayangan, pintanya adalah anugerah rasa takut yang ikhlas kepada-Mu

Jadikanlah ketakutan kami ikhlas

Jadikanlah ketakutan kami ikhlas

Jadikanlah ketakutan kami ikhlas

Jadikanlah ketakutan kami ikhlas

Jadikanlah ketakutan kami ikhlas

Jadikanlah ketakutan kami ikhlas

Jadikanlah ketakutan kami ikhlas’

“Mentari, pernahkah engkau bercermin?” aku bertanya padanya. Kali ini, sepertinya dia akan menjawab tanyaku.

“Dan cerminku tidak akan mungkin merekam bayangan karena dia sedang kotor berdebu. Cerita hari ini adalah dominasi cahaya. Sang Aku kerap berlindung dari sinar mentari, cahayaku.” Benar, mentari sudi menjawabku. Dia melanjutkan, “dan air telaga tidak akan bertambah, ketika parit-parit yang memediasi aliran tersumbat. Mungkin membelokkannya atau malah habis meresap ke dalam tanah. Aku bisa memilih, longsoran, jatuhan batu atau sampah-sampah yang menyumbatnya. Aku harus tahu itu. Sebab telaga pasti indah jika airnya banyak dan bersih. Akan singgah bangau di sana, angsa bermain atau burung-burung yang hijrah. Akan gemulai geliak tarian ikan-ikan. Si kodok bisa bebas berenang. Meski hujan tidak turun. Ini musim kemarau.”Pengungkapan mentari tidak aku mengerti. Aku tak akan menanyakan lagi maknanya. Terlalu cerewet, mungkin.

“Aku ingin mendengarmu bercerita. Tentang sang Aku atau…., yah…. tentang apa saja!” Desakku dan sedikit memaksa. “Kurang sukakah engkau seperti saudaramu, bulan yang kerap bercerita kisah nostalgia, kisah cinta yang indah. Dan kadangkala dihiasinya malam dengan kisah yang biru. Cerita sang Aku, tentang pengkhianatan atau ketidakberdayaan melawan otoritas yang membelenggu cinta. meskipun pada akhirnya selslu berujung bahagia. Kata bulan, memang semua orang sukacerita yang berakhir indah, sang Aku menjadi pemenangnya. Entah dia hidup atau mati, sebagai martir.” Aku memicingkan mata kearahnya. “Saudaramu senang bercerita kisah-kisah seperti itu. Aku tidak tahu mengapa.”

Mentari menggeser posisi duduknya sambil berucap, “Aku juga pernah menyaksikan parodi sang Aku dipentaskan di sebuah Condominium Imaji.” Mentari berkisah, “sang Aku berujar kepadanya, “Aku tahu engkau terlahir dari surga, dari kibasan sayap cinta. Dan kau asing bagiku. Engkau memang datang dari surga kepadaku, di nerakaku. Lalu bagaimana mungkin kau melihat surga di tempatku. Asal kita adalah sebuah konsepsi yang berbeda dan berlawanan. Meskipun bagiku ini belum nyata! Aku masih bermimpi Sang Amor memerintahkan si Cupid melesakkan busur panah kearahmu. Menembus dadamu. Aku masih menunggu Amor memenangkan cinta ini untukku. Dan nyata tatapmu saat ini. Kau di sampingku”. Sang Aku kemudian terdiam. Layar menutup panggung.” Mentari mendesah, menarik nafas dalam-dalam. “Mungkin kau pernah mengalami kisah seperti parodi sang Aku”, tegas mentari sembari melirik kepadaku. Aku tersipu wajahku merona.

Untuk kesekian kalinya aku terusik cerita parodi sang Aku. Cepat-cepat ku berusaha mengalihkan pembicaraan. Inilah pertahanan terakhirku. Aku tak tahu mengapa mekanisme pertahanan perasaan kecenderungannya seperti ini. “Bolehkah aku melihat rekaman sejarah yang tersimpan di bundel tahunan kala rotasimu?” Elakan tepat menurutku. “ Aku ingin kau bercerita tentang masa dinosaurus. Aku ingin tahu mengapa T-Rex menjadi maha guru bagi sebagian besar mahluk manusia.” Akhirnya, berhasil juga aku menghindar. Mentari tertunduk, sesuatu yang tidak biasa dia lakukan.

“Aku tidak bermaksud membuatmu risau. Tidak ada yang perlu kau risaukan. Kau adalah pencerita sejati. Pencerita sejarah yang paling objektif, dengan detil-detil fakta paling otentik”. Aku bermaksud menormalkan suasana. “Sang Aku merindu ibunya”, mentari meretas galau. “Ibu, apa kabarmu di sana? Bagaimana dengan dapur kita? Masihkah ada yang akan kau masak? Adakah sesuatu yang bisa kau jual besok siang? Masihkah adik-adikku bersekolah? Ibu, aku rindu padamu. Tanyakan aku, apa makna pengabdian itu.” Mentari menghentikan ceritanya sejenak. Dia mendesah dalam-dalam. “Begitulah yang tertulis dalam naskah”. Mentari kemudian berbasa-basi, sekedar menitip hangat untuk malam ini. Dia berpamitan kembali ke kontrakannya. Kembali meninggalkanku dengan satu senyum menyambut bulan. Sang Aku datang menghampiri. Di hadapannya aku memuja mentari, “oh… raja cahaya, semoga kau berumur panjang. Aku berharap, semoga seterusnya kau selalu bersinar. Membagi makna untuk bumi dan segenap isinya yang tahu menghargai waktu dan kebahagiaan.

 ***

Untuk hari-hari bersamamu,

 reminding IOI dalmation

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s