SISTEM TANDA DALAM KOMUNIKASI MASSA


Komunikasi massa merupakan salah satu kajian dalam disiplin ilmu komunikasi. Dalam ranah ini, komunikasi massa memiliki perkembangan yang sangat pesat hingga dewasa ini. Pada perkembangan itu, kami mengutip salah satu defenisinya dari McQuail yaitu, “Mass communication comprises the institutions and techniques by which specialized groups employ technological devices (press, radio, films, etc) to disseminate symbolic content to large, heterogenous and widely dispersed audience (McQuail, 2000:13/ http://nurriest.blogdrive.com/comments?id=5)”. Berangakat dari pengertian tersebut, dapat dilihat bahwa komunikasimassa memiliki beberapa karakteristi tertentu yaitu:

 

1. mempunyai jumlah audiens yang sangat besar dan heterogen.

2. impersonal, yaitu sumber penyampai informasi tidak mengenal keseluruhan partisipan secara personal.

3. terencana, dapat diprediksikan dan formal.

4. adanya kontrol terhadap sumber informasi.

5. keterbatasan interaktifitas antara sumber dengan audience-nya.

6. sentralitas terhadap sumber informasi, yaitu sumber merupakan suatu institusi yang mempunyai akses yang mudah dan langsung untuk mencapai audiencenya dalam sekali waktu.

7. dan difasilitasi oleh berbagai bentuk media massa, baik cetak atau elektronik.

 


Melihat kompleksitas yang terkandung di dalam defenisi komunikasi massa, bermaksud membahas keterkaitan sistem tanda yang terikut padu di dalamnya.

Pada pembahasan tentang sistem tanda, saya mencoba nmenggunakan gagasan Barthes tentang tanda. Gagasan tentang tanda ini kemudian disebut sebagai semiotika atau ilmu tentang tanda.

Tanda adalah sesuatu yang bagi sesorang memiliki makna tertentu, sesuatu yang berarti sesuatu yang lain. Tanda pun mencakup banyak hal, mulai dari benda-benda, warna, letak, sikap dan perilaku, hingga ekspresi yang ditunjukkan seseorang(Barthes dan imperium tanda, Peter Pericles Tifonas).

Pada dasarnya semiotika yang dikembangkan oleh Roland Barthes terbagi kedalam dua bagian berdasarkan kandungan tanda. Tanda memiliki kandungan makna primer dan sekunder. Kandungan makna primer kemudian disebut bermakna denotasi yaitu makna-makna natural atau semestinya. Sedangakan kandungan makna sekundernya adalah yang bersifat konotatif yaitu tanda yang membawa pesan-pesan ideologis di dalamnya.

Berangakat dari karakteristik komunikasi massa, saya melihat bahwa media massa memang memiliki kekuatan yang paling ampuh dalam memproduksi keyakinan-keyakinan baru atau dalam bahasa Barthes disebutnya sebagai mitologi-mitologi atau ideologi-ideologi. Betapa tidak, menurut Barthes mitos menaturalisasikan pelbagai perbedaan budaya, membuatnya universal, dan menjadikannya sebagai norma-norma sosial melalui pesona-pesona retorisnya.

Karakteristik yang pertama adalah komunikasi massa itu mempunyai jumlah audience yang sangat besar dan heterogen. Audiens yang besar dan heterogen inilah yang kemudian menjadi objek atau konsumen dari kegiatan produksi mitos atau idologi-ideologi yang terkandung dalam pesan-pesan konotatif yang disampaikan oleh media massa.

Pada level denotatif, media massa sebagai perantara komunikasi massa memberikan pesan yang bermakna semestinya atau sesungguhnya. Seperti halnya suatu kejadian pencurian yang diberitakan di media massa, informasi ini memamang bermakna asli yaitu pencurian. Akan tetapi pada pembacaan konotatif ternyata pemberitaan kasus pembunuhan ini bisa bermakna lain misalnya kehebatan polisi dalam menangkap si pelaku kriminal, atau kehebatan mereka memecahkan kerumitan kasus tersebut. Mereka ( penyampai informasi) tidak akan menyampaikan bahwa penembakan terhadap pelaku kriminal adalah rekayasa, jika misalnya hal itu memang adalah rekayasa. Kejadian ini pun berusaha menyampaikan kepada audiens bahwa negara mereka masih mampu menangkap para penjahat (penjahat kelas teri bisa tertangkap, sedangkan penjahat kelas “pausnya” tidak akan tersentuh oleh hukum. Hal seperti ini adalah bagian kerja dari mitos). Atau hal ini juga bisa berarti bahwa kejahatan di negeri ini akan ditumpas habis oleh aparat. Meskipun pada kenyataannya bahwa si pencuri nekad melakukan tindakan kriminal demi untuk bertahan hidup, di mana-mana kemelaratan tumbuh subur sebagai akibat dari ketidakbecusan pemerintah mengatur sistem perekonomian. Sang pencuri hanya berusaha mencuri kembali haknya yang dirampas oleh sistem yang merajakn akumulasi modal, meski hal ini tidak akan pernah diinformasikan dan sekali lagi berhasil menjadi mitos. Pada kasus lain, iklan sepeda motor Yamaha Vega memang mempromosikan motor tersebut akan tetapi banyak hal yang terkandung di dalamnya yang terlihat natural dan biasa-biasa saja ternyata membawa pesan-pesan yang bermakna konotatif. Seperti halnya slogan yang terikut bahwa yamaha vega itu menjawab semua impian, tetapi akhirnya hal ini kembali menjadi mitos yang mampu berakar kuat di kepala para audiens. Dan seperti inilah kerja mitos menaturalkan ideologi atau keyakinan-keyakinan baru dari pihak produsen (dalam kerja samanya dengan media massa) kepada khalayak yang berposisi sebagai audiensnya.

Karakteristik komunikasi massa yang kedua adalah impersonal, yaitu sumber penyampai informasi tidak mengenal keseluruhan partisipan secara personal. Penyampai informasi bisa berapologi bahwa mereka tidak pernah bermaksud menciptakn mitos-mitos kepada audiens. Mereka bisa saja mengatakan bahwa telah ada regulasi tayangan/siaran (pada media elektronik) dan segmen (pada media cetak) yang membagi penyampaian informasi kedalam kategori-kategori berdasarkan kelayakan tingkat konsumsi dari audiens. Misalnya pada siaran televisi diatur kedalam beberapa kategori seperti dewasa, bimbingan orang tua, atau segala umur. Di media cetak biasa kita lihat ada majalah remaja dan lain-lain. Akan tetapi mereka tidak munkin tahu bahwa partisipan bisa saja ada yang melakukan crossing line, atau mengkonsumsi informasi itu tidak sesui dengan tingkatan kelayakannya, apalgi masyarakat kita belum mampu disebut sebagai masyarakat media literasi atau masyarakat yang melek media. Para penyampai informasi jelas mengetahai hal ini, akan tetapi ada saling ketergantungan diantara produsen informasi dengan para penyampai informasi, dan sekali lagi mitos memang harus diproduksi. Hal ini juga menggambarkan karakteristik komunikasi massa yang lain yaitu adanya kontrol terhadap sumber informasi.

Ideologi dominan hari ini dalah ideologi pasar. Media massa memproduksi informasi-informasi yang mendukung ideologi ini. Mereka mengiklankan produk menggunakan metode-metode yang sangat efektif. Fashion misalnya, diinformasikan secara global dan sama sekali tidak mempertimbangkan kelokalan dari daerah tujuan pasar. Fashion musim dingin di Amerika diideologikan di Indonesia. Kembali lagi hal ini kemudian menjadi mitos bahwa trend hari ini di Amerika adalah mode tersebut, dan dengan serta merta masyarakat Indonesia mengikuti trend tersebut meskipun di Indonesia tidak pernah ada musim dingin seperti di Amerika. Ini adalah akibat dari propaganda media massa bahwa masyarakat Amerika adalah masyarakat yang keren dn seperti inilah kerja mitos dalam menaturalisasikan perbedaan budaya. Dalam hubungannya dengan komunikasi massa bahwa salah satu karakteristiknya adalah terencana, dapat diprediksikan dan formal, sehingga kelebihan produksi fashion di Amerika memiliki pasar di tempat lain misalnya di indonesia, belum lagi produksi dari perusahaan-petusahann multinasional yang induknya di Amerika. Sementara itu ideologi dominan ini memiliki perangakat yang signifikan dalam menyebarkan keyakinan-keyakinanya kepada audiens yaitu dengan adanya sentralitas terhadap sumber informasi, yaitu sumber merupakan suatu institusi yang mempunyai akses yang mudah dan langsung untuk mencapai audiencenya dalam sekali waktu. Semua orang yang melek media tahu bahwa yang menguasai media massa hari ini adalah Amerika dan mereka inilah yang paling memiliki keentingan terhadap langgengnya ideologi yang di produksi oleh sistem tanda dalam komunikasi massa dominan. Belum lagi kenyataan bahwa mereka (para penganut ideologi pasar yang paling dominan diproduksi oleh media massa) memiliki fasilitas yang paling bagus dalam hal ini yaitu berbagai bentuk media massa, baik cetak atau elektronik.

Demikianlah menegenai sistem tanda dalam komunikasi massa. Meski saya sadari bahwa pembahasan ini masih sangat jauh dari pemikiran Barthes tentang tanda, apalagi pembahasan ini sangat tidak mendetail baik dari segi komunikasi massa maupun dari pembahasan tetang tanda itu sendiri tetapi menurut saya sistem tanda memang memiliki peran strategis dalam menciptakan mitologi-mitologi kepada kahlayak konsumen informasi. Media massa menggunakan tanda-tanda dalam menciptakan idologi-ideologi yang diyakini oleh aoudiensnya terutama dari pesan-pesan yang bermakna konotatif.

Konstruksi Budaya Islam dalam Film AAC


Menilik tulisan Hanung Bramantyo tentang kisah dibalik produksi film Ayat-Ayat Cinta mengenai kekagumannya terhadap tokoh Ahmad Dahlan dan kedekatannya dengan Muhammadiyah memberikan petunjuk bahwa latar belakang Hanung memahami Islam tidaklah jauh dari patronase kedua hal tersebut.

Muhammadiyah dalam pandangan sarjana dalam dan luar negeri memiliki kemiripan dengan Reformasi Kristen di Eropa sebagai reformasi keagamaan dalam konteks Islam Indonesia. Salah satu kesamaan antara Muhammadiyah dengan Calvinisme di Eropa bahwa keduanya sama-sama mengajarkan Skripturalisme yaitu hanya berdasarkan pada skrip kitab suci dalam hal ini Al Quran dan Bibel.

Hal inilah yang kemudian mempengaruhi kekaguman Hanung terhadap Kairo sehingga menganggapnya sebagai Islam itu sendiri. Kehidupan di Kairo dengan segala macam aktivitasnya menjadi daya tarik awal Hanung untuk memproduksi film ini. Universitas Al Ahzar menjadi representasi sentrum studi dan budaya Islam bagi Hanung, kemudian Arab adalah Islam. Pandangan ini sangat skriptualis jika dilihat dari kacamata Weber. Di sisi lain, Hanung bukanlah seorang santri yang total, dia adalah sarjana lulusan IKJ yang bukan berdasaskan pada nilai kegamaan secara dominan. Kedua sisi ini akan berpengaruh terhadap penggambaran Islam dalam film Ayat-Ayat Cinta.

Secara sederhana kami memberikan asumsi awal bahwa jika sutrada yang menjadi pengarah dalam produksi film ini menganggap garapannya sebagai film Islam maka hal yang ditonjolkan secara dominan adalah visualisasi tafsirannya terhadap objek yang difilmkan tersebut. Hal ini berarti bahwa apapun yang tersaji sebagai hasil produksi adalah paduan dari kedua sisi yang mempengaruhi cara sutradara menafsirkan Islam.

Dari tinjauan Barthes kami melihat bahwa ada proses naturalisasi makna terhadap konsep Islam awal yang diyakini sutradara. Ketidak sesuaian antara tokoh Fahri dalam novel dengan film. Hal ini diakui sendiri oleh Hanung dalam penggalan tulisannya. Bahkan Hansung memisahkan realitas film dengan konsep Islam semestinya yaitu terdapat dua adegan yang meskipun dalam film itu mungkin Islami tetapi terhadap penonton itu adalah representasi Islam. Adegan ketika Fahri dan Maria berduaan di tepi sungai Nil dan malam pertama Fahri dengan Aisha. Mazhab apapun dalam Islam tetap menganggap ini sebagai tontonan yang tidak Islami selama mereka berdasar pada Al Qura’an dan Hadist Nabi SAWW.

Latar belakang sutradara yang dekat dengan Muhammadiyah dan sarjana IKJ adalah sesuatu yang menjadikan makna film sebagai sekunder atau konotatif. Hanung menggambarkan Islam dalam film ini sebagai agama yang damai dengan konsepnya yang sempurna yang terwakilkan oleh para tokoh sedangkan tempat dan bahasanya digambarkan bahwa Islam itu Arab. Mempertontonkan konsep poligami ala Islam versi sutradar yaitu sangat terpaksa oleh keadaan, bukan atas dasar wahyu Tuhan atau petunjuk Nabi, sisi lain Hanung bermain di sini. Belum lgi ketidak sukaannya dengan ustad-ustad di TV dan pada tokoh-tokoh dalam yang menurutnya sangat membosankan dan Hanung sama sekali tidak berempati dengan hal itu.

Dari pembahasan singkat di atas tergambar bahwa Hanung melakukan dekonstruksi terhadap konsep Islam Skriptualis Muhammadiyah meskipun tetap menonjolkan sebagian besar konsep Islam tersebut pada panggung depan film sehingga memitoskan pandangan Hanung sendiri. Sedngakan ideologi yang ditawarkannya jelas jauh lebihdinamis dari sekedar Ideologi Puritan ala Muhammadiyah. Hanung menyisipkan perkelahian Ideologinya pada adegan perkelahian Fahri di atas metrobus dengan seorang Islam Eksposure. Secara konotatif, Hanung menggambarkan cacatnya konsep Islam ini dengan berbagai konspirasi dibalik pakaian gamis Arab Islami yang ingin mencelakakan Fahri.

KESIMPULAN

Berepa hal yang dapat kami simpulkan dari penelitian ini adalah ringkasan jawaban terhadap pertanyaan penelitian sebelumnya, yaitu bagaimana sutradara mengkonstruksi budaya Islam dalam filmnya dan iedeolgi yang ditawarkannya.

Sutradara mengkonstruksi filmnya didominasi oleh konsep Islam Skriptualis yang sangat Arabis, seolah-olah Islam adalah Arab. Meskipun demikian bukan hal ini yang menjadi poin utamanya melainkan kritikan terhadap budaya Islam yang telah menjadi “mitos” bagi kebanyakan masyarakat Islam Indonesia dengan adanya berbagai adegan berlawanan dengan kekakuan dan selubung kepentingan atasnama Islam. Sedangkan Ideologi yang ditawarkan sutradara sangat jelas yaitu Islam yang lebih dinamis yang tidak menganggap film itu sebagai barang haram tetapi sebagai refleksi atas kesucian diri dari tiap-tiap ummat.

Demikian tulisan hasil penelitian kami. Secara sadar, kami mengakui bahwa penelitian ini sangat jauh dari kategori kelayakan dan terdapat berbagai kekurangan bahkan kerancuan disana-sini. Menurut kami hal ini murni karena keterbatasan kami dan minimnya waktu penelitian dan penyusunan tulisan ini. Olehnya itu kami tetap mengharapkan masukan dan kritikan yang proporsional dan membangun agar bisa lebih baik di kesempatan lain.