LELAKI YANG DIRINDU SETIAP WANITA

 

Berperawakan sedang dan wajah tirus seakan menyembunyikan bakat hebat yang terpendam di balik kediamannya. Namanya Muhammad Ridwan, lelaki berdarah asli Bugis Soppeng mulai mencengangkan dunia sejak hadir di mukanya pada 28 Februari 1985 silam. Tubuh yang tergolong ideal untuk kebanyakan lelaki Indonesia biasa dipanggil Iwan oleh teman-temannya. Kami memanggilnya Ridho.

Perkenalan ku dengannya baru beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika kami sama-sama akan berangkat ke Posko KKN Unhas Antara 2008 di depan kantor kecamatan Donri-Donri. Tentu saja aku beruntung berada satu posko dengannya. Aku memang tidak asing lagi dengan wajahnya. Aku biasa melihatnya beraktifitas di sepanjang koridor FIS IV FISIPOL UNHAS. Meski kami kuliah di Fakultas yang sama, entah kenapa aku tidak akrab dengannya sejak awal, padahal kami satu angkatan.

Setelah tiga hari menjalani aktifitas bersama di Desa Sering, dia selalu tampil tidak terduga. Setiap geraknya adalah bahasa candaan yang manis. Kontan membuat suasana kebersamaan begitu hidup. Cara dia mengolah kata selalu menghasilkan kalimat-kalimat menggelitik saraf ketawa menyebabkan kami sering terpingkal lepas. Meski kami cenderung asing satu sama lain, waktu yang terbilang singkat untuk saling akrab menjadi nyata akibat sebagian besar ulahnya. Ridho selalu menghangatkan suasana dingin Desa Sering.

Hari ini, dia pulang ke rumahnya di kecamatan sebelah. Beberapa jam berlalu mulai terasa adanya perbedaan yang tajam di tengah-tengah kami. Satu persatu rekan poskoku terlihat “not in the mood”, terutama rekan-rekan cewek. Hari ini berjalan cenderung datar dan terasa hampa, candaan-candaan seakan kehilangan ruhnya. Aku semakin yakin bahwa hanya Ridho-lah yang bisa mengembalikan keadaannya.

Sebelum suasana “BT” bertambah semakin parah, selincah mungkin aku harus menghadirkannya. Setelah makan malam, aku menjemputnya di rumahnya. Sampai di Posko, kehadirannya langsung disambut gembira rekan-rekanku. Sontak suasana hidup terasa lagi setelah mati suri ditinggal Ridho. Malam ini berakhir lelah terpingkal karena ulahnya. Quote darinya untuk hari ini, “ijo-ijo buah ketapang, tentara kapang.” Kami semua tertawa dengan berbagai gaya yang tidak lazim hanya karena kata-kata ini. Aku yakin kata-kata ini tidak lucu sama sekali seandainya bukan Ridho yang mengucapkannya. Karena candaannya yang selalu cerdas, maka aku menyebutnya sebagai “Lelaki yang dirindu setiap wanita.”

10 Juli 08

TAJUNCU: THERE IS NO FAIR TRADE , THERE IS NO SMILING MARKET

 

Keterbukaan komunikasi menjadikan sense kolektifitas di Posko KKN kami meningkat signifikan dalam dua hari. Pagi dingin nan temaram tidak menyurutkan semangat untuk beraktivitas. Ke-engganan Matahari berbagi hangat mengharuskan adanya pemanasan ekstra di rumah ini. Sedang yang menjadi menu utama sarapan adalah cerita ceria berisi candaan renyah dan banyolan gurih.

Seperti anak umur 6 tahun di hari pertamanya masuk sekolah dasar, kami begitu bersemangat merapatkan barisan dan mempertegas langkah menuju ke Pasar Kecamatan. Tajuncu, sebuah pasar tradisional yang susah kita dapatkan lagi di kota semetropolis Makassar. Homogen bahasa sebagai pengantar berkomunikasi menampilkan kami tampak berbeda. Semua orang bercakap menggunakan bahasa Bugis, menggambarkan bahwa Indonesia tertolak keberadaannya. Aku menganggap negara tidak sedang hadir di sini kecuali perampokan atas namanya melalui tangan-tangan penarik retribusi jalan dan bangsal-bangsal pasar.

Kompleksitas masyarakat pedesaan terpampang nyata dalam pasar Tajuncu. Arus hegemoni globalisasi Kapitalisme hadir dengan warna Merah Jambu yang norak mentereng. Aku saksikan beberapa penjual pakaian menunggui dagangan mereka yang bermodel desain kekinian mengisi sebagian besar ruang dalam pasar. Penjual pupuk dan ragam sida serta perlengkapan agraria menempati beberapa petak bangsal pasar. Meskipun Tajuncu pasar tradisional, tetapi harga globallah yang terdengar berbicara. Sebotol Roundupp seharga dengan sekarung kepompong ulat sutra. Sekilo ZA sama harganya dengan sekuintal gabah kering.

Prosesi sosial ekonomi di Tajuncu kuprosakan dengan frasa “There is no fair trade, there is no smiling market.” Itulah mengapa masyarakat seakan tidak butuh negara. Negara yang semestinya melindungi, mengakomodasi kepentingan, dan menyejahterakan warganya tidak pernah berbayang di pihak mereka. Negara tidak berdaya menyeimbangkan harga pupuk dengan kemampuan ekonomi rakyatnya. Sementara aparatnya begitu beringas menagih pajak dan retribusi. Berbagai alasan meninabobokan masyarakat dilantunkan dengan sendu dan semerdu mungkin. Ada subsidi inilah ada program penguatan masyarakat itulah, yang pelaksanaannya tidak akan pernah bisa membalut gerogotan luka bangsa yang telah kronis. Aku teringat dengan ungkapan seorang kakak bahwa “Indonesia hanya ada ketika melakukan pengurusan KTP dan pada saat pertandingan sepak bola.” Bagiku sendiri, Indonesia ada saat sedang ditilang polisi lalu lintas meski tanpa adanya pelanggaran yang jelas.

Di dekat gerbang pasar terdapat penjual obat yang berdagang dengan teknik retorika tingkat tinggi. Menurutku, para akademisi mestinya ada di tempat ini menonton si penjual obat agar mereka menjadi faham bahwa teori yang mereka diktekan di depan kelas hanyalah sampah yang tidak memiliki tempat buangan. Penjual itu begitu lihai memainkan tempo dan volume bicaranya. Gerakan lidahnya menghipnotis setiap yang datang untuk sejenak memperhatikan atraksinya. Ada yang kemudian bertransaksi, ada juga yang pergi dengan senyum ragam makna. Suasana seperti ini akan selalu kita jumpai di setiap pasar tradisional di Tanah Air. Sementara itu, aku semakin yakin bahwa keberhasilan transformasi Kapitalisme yang sukses melompat ke tingkatan lanjutnya dikarenakan peran retoris advertising dan keganasan media yang menjadi dasar tumpuannya. Persis seperti yang sedang dilakonkan si penjual obat. Atraksinya selalu seksi membuai libido khayali para penontonnya.

08 Juli 2008

EUFORIA SUBLIMINASI

Kekahawatiranku memang terbukti. Pagi ini melangkah tertatih lesu menuju ke lapangan PKM UNHAS, segenap sial kukumpulkan bersama sisa tenaga setelah semalam tidak tidur, kemudian menyetubuhi pagi yang buram. Sampai di lapangan suasananya sudah ramai, semrawutan peserta KKN berekspresikan wajah serupa tidak memungkinkan aku menggapai orgasme. Semuanya tampak cemas bercampur senang. Mungkin mereka gelisah dengan ketidakjelasan prosesi keberangkatan, ketidakjelasan nasib di lokasi, dan berbagai ketidakjelasan lainnya. Senangnya mungkin dikarenakan sebentar lagi akan menjalani salah satu penjegal terberat untuk segera angkat kaki dari kampus yang sadar atau tidak memang memenjarakan. Aku impoten mendapati pagi semeriah ini.

Sungguh aku tidak bisa menikmati keadaan ini. Entah apa yang ada di benakku. Prosesi simbolis yang tidak berguna menurutku. Belum lagi upacara pelepasan yang tentu saja tidak mungkin aku ikuti. Sejak tamat SMU aku telah berjanji tidak ingin lagi ikut upacara semacam ini. Pendisiplinan di bawah payung dominasi negara melalui kaki tangan lembaga pendidikan.

Kesialan tidak berhenti sampai di situ. Mobil yang kami tumpangi over loaded. Kami harus berdesakan meski telah membayar uang KKN sejumlah Rp 450.000,-. Sebagian harus berdiri di pintu dan di lorong mobil walau kita tahu perjalan ini tidak singkat. Perjalanan yang menjemukan. Belum lagi setelah setengah perjalan, tiba-tiba seseorang memutar playlist yang kontan saja menstimulasi otakku berakhir pening. Seseorang itu mencoba memancangkan identitasnya di tengah-tengah kami dan ingin kelihatan cool. Dia tidak akan mendapatkan simpati apapun dariku. Aku menganggapnya seseorang yang jika diandaikan adalah sebuah symbol yang tidak akan pernah berjumpa dengan maknanya.

Akhirnya tiba juga di lokasi, bongkar muat di depan kantor kecamatan. F**k, para lelaki yang kutemani tadi tidak memiliki otonomi sedikitpun. Tidak ada kesadaran kolektif yang terpancar dari gerak mereka. Beberapa jeda kemudian upacara penyambutan pun digelar. Dua orang arsitek bahasa pendisiplinan tampil di depan. Sepanjang omong kosong mereka, aku sibuk mengobrol dengan temanku via SMS. Bahkan pembacaan doa pun aku tetap tidak ngeh. Tidak kurasakan adanya spiritualitas di sini, mungkin Tuhan sedang sibuk sehingga lupa hadir. Yang terjadi adalah komodifikasi sosial melalui institusi moral bernama Islam. Kaki tangan Muawiyah mengajak menghaturkan puji sukur kepada Allah. Euforia tidak sadar menjadi respon rekan-rekan. Mereka tidak sadar sedang digiring ke penjagalan kreatifitas dan kepatuhan keterjajahan. Mengamini penguasa lalim adalah kekafiran lipat ganda bagiku, dan semakin menyakitkan melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa ini salah.

Melangkah ke chapter berikutnya yaitu berangkat ke posko masing-masing. Satu-satunya yang kusukuri di dunia sosialku hari ini adalah posko yang menyenangkan, Pakde yang ramah serta teman-teman yang menyenangkan. Demikian untuk hari ini.

07 Juli 2008