Be mE, Be yOu, bEiNg SeLF

“kata-kata menggambarkan isi kepala seseorang”

yah..saya setuju dengan ungkapan di atas, yang kerap kali terdengar meluncur swingly dari bibir seorang teman ketika dia sedang mencaci sikap
ketidakberkepribadian seseorang alias tidak bertanggung jawabnya atas apa yang
keluar dari mulutnya. setidaknya untuk pemberlakuan standar idealnyanya untuk sebuah scene ato komunitas.

teringat beberapa waktu lalu, saya terhenyak mendengar pertanyaan dari Boudrillard,,,eh jacQues Lacan [satu diantara mereka,lupa] kepada Freud yang
bunyinya seperti ini, “dari mana asal ketidaksadaran [beyond the mind/ subliminal] pada manusia, apa yang membentuknya?” Mmhh..saya belum pernah memikirkan hal ini sebelumnya..

saat itu, konsep Freudian sepertinya tidak mampu menjawab pertanyaan super rumit ini [setidaknya super rumit untuk saya]. lalu dijawablah sang penanya [boudrillar ato Lacan..cuih, asli lupa] bahwa yang membentuk ketidaksadaran pada konsep yang berasal dari Joseph Breur itu adalah ‘bahasa’. hows supprised me!!

yah …penjelasan lanjutannya bahwa kerja bahasa itu salah satunya adalah identifikasi…sedangkan setiap dari kita, untuk mengetahui sebuah identitas
selalu dan pasti memakai bahasa..pengetahuanpun tidak pernah
lepas dari konstruksi bahasa..entah itu kesadaran atau ketidaksadaran. nah
sekarang kita mencoba memakai teori panaopticon dari Focoult. tepatnya untuk
kuasa bahasa dan discontinuity. bahwa bahasa itu bekerja untuk membentuk
pengetahuan kita, sementara pengetahuan biasanya berfungsi sebagai panaopticon
[fungsi pengawasan] terhadap tindakan kita. dalam hal ini pengetahuan berusaha
mendisiplinkan setiap aksi kita, entah itu aksi yang berasal dari pengetahuan
sadar atau tidak sadar sekalipun.

berangkat dari rangkaian asumsi ini, saya akhirnya sependapat dengan ungkapan
diatas, bahwa aksi kita untuk berkata-kata sangat tergantung
pengetahuan kita juga. artinya dominasi pengetahuan kita itu terwujud dalam
aksi termasuk berucap, menanggapi, atau berargumen terhadap apa saja.
ketika kita berucap tentang sesuatu yang nyeleneh bisa jadi yang dominan di
kepala kita saat itu memang hanyalah hal-hal nyeleneh..artinya yang menjadi
pengetahuan kita dominannya hanyalah omong kosong. ketika kita selalunya
berucap tentang seksualitas, yah itulah hal yang kita miliki..belum lagi
variabel seberapa sering, seberapa kuat bahkan bisa jadi itulah kita, sesosok
benda yang di bentuk oleh pengetahuan. seperti halnya tentang lifestyle, itulah
kita, mahluk mahluk lifestyle yang kadang tidak paham tentang apa yang
sedang kita lakukan..artinya tidak paham sama pengetahuan kita sendiri bahkan
diri otentik kita sekalipun.

sangatlah ironis realitas mode hari ini. teenager yang beranggapan bahwa mereka
adalah apa yang mereka kenakan, seperti pakaian, aksesoris dan berbagai
tetekbengek gaya lainnya. saya berani mengatakan bahwa terlalu bodoh untuk
mengaggap diri kita sebagai benda yang eksistensinya atau keberadaannya
mestinya tergantung pada kita. maksud saya adalah mestinya pakaian itu
berfungsi karena kita [self] menggunakannya, jadi tidak logis jika
ada sikap tidak percaya diri hanya karena persoalan pakaian yang kita
kenakan. bagi saya, pakaian secara totalitas bukanlah kita. kita ini
mestinya menjadi manusia yang orisinil kemanusiaannya, bukan sosok yang
eksistensinya tergantung pada benda2 atau materi sebagai entitas terendah.
atau sosok yang isi kepalanya hanyalah pakaian, sexualitas rendahan dan
berbagai hal nyeleneh tanpa sadar lainnya.

saya tidak sedang berusaha bersikap anti mode, tapi saya hanya memaparkan bahwa
kemanusian [eksistensi] itu tidak tergantung pada hal-hal tersebut. dan
juga bukan berarti bahwa hal-hal itu tidak penting, bukan. hal itu tetap
penting pada tataran harfiah hakikatnya dan silahkan berekspresi apa saja
secerdas atau sebodoh apapun, karena setidaknya itulah yang mampu
mengidentifikasi pikiran, pengetahuan dan eksistensi kita. untuk setiap
standar ganda, semuanya memang berguna. tiada kebodohan tanpa adanya kecerdasan.

…yang lebih ironis lagi, kenyatan yang hadir di hadapan kita bahwa ternyata
sebagian besar kaum maha terpelajar* yang berada di tengah-tengah kita pun
sangatlah bodoh. oke, kita sebut saja mereka dengan sebutan yang paling mereka
sukai, “profesor”[para pelaku kepura-puaraan sosial terparah]. para profesor itu seakan tidak memiliki lagi eksistensi di realitas bahasa. betapa mereka akan marah ketika dipanggil hanya dengan sebutan namanya saja. “iya prof, saya yang salah prof”, selalu saja harus seperti ini bahasa yang mereka suka untuk penyebutan eksistensinya [identitas] yang bagi saya sama sekali bukan mereka [self]. mereka dengan serta merta dan spontan bertindak irrasional ketika menyapa mereka misalnya dengan sebutan mau kemana Fid, Adi, ect. padahal mereka inilah yang mestinya paling sadar dengan hal2 demikian. mereka menggantungkan eksistensinya pada jabatannya, dasar sosok feodal beretika mati rasa.

belum lagi ketika mengajarkan atau menjelaskan sesuatu konsep. pastilah mereka bukan memaparkan pengetahuan [setidaknya pengetahuan mereka yang kerdil tentang konsep tsb] tetapi selalunya malah menegaskan otoritasnya. misalnya untuk
sebuah contoh kasus, mereka biasanya berucap seperti ini ketika ditanyai
mengenai sebuah rencana penelitian skripsi, “kamu tidak boleh mengambil
penelitian seperti ini, karena kamu masih anak S 1”, wah ini bego atau tolol
sih prof. mestinya menjelaskan permasalahan dan memberikan bimbingan
saja, eh malah menegaskan otoritas jabatannya. padahal jabatan sama sekali
tidak pernah bisa menjadi ukuran keilmuan seseorang. seperti halnya titel
tidak pernah bisa merepresentasikan kecerdasan sang penyandangnya.
“damn our education.”

*sebutan untuk para guru besar saat ujian tesis atau desertasi.
padahal saya lebih setuju dengan satire seperti ini, “bahwa guru kecil itu
menyampaikan segala yang dia ketahui, sedangkan guru besar mengetahui segala
yang dia sampaikan”, nah lo

bE mE, Be yOu, bEinG sELf

April 11, 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s