DEAD BEFORE CHRISTMAS


[Story of Jack Skellington Head’s]

“Selamat pagi”, kusapa sang mentari, terbit kelelahan. Bagaimana harus memulai hari ini? Pertanyaan itu memang terlalu mudah untuk kau jawab, tapi tidak untukku. Kau bisa saja menasehatiku untuk memulainya dengan senyum doa untuk setiap rencana yang akan kujalankan.Tetapi aku masih nyaman berguling-guling dengan mimpi-mimpi semalam. Erat mengikat. Penuh keengganan untuk membuangnya. Harus kukatakan bahwa malam terlalu banyak menceritakan perjalanannya. Sekumpulan malam terlewat menerbitkan antipati kepada mentari yang memang semakin lelah akhir-akhir ini.

Musim dingin rerintikan berujung ketidakpastian. Sepanjang awal tahun ini, begitu setia menemani ditengah keterjebakan kehilangan arah. Seperti mimpi buruk para penulis pemula untuk memulai tulisannya. Berlindung di kedalaman saku bersama sebuah boneka kepala Jack Skellington for Nightmare Before Christmas. Suatu ini menjadikan keadaanku semakin buruk. Awal yang sulit dan lebih lagi, kesulitan menjaga kelanjutan dan ritme cerita. Entah bermulanya seperti apa. Ada perbedaan kisah kepala Jack dengan secangkir kopi semalam. Meski kutahu mereka sama-sama mengandung zat candu untuk rasa ingin tambah. Kusisakan kopi sepertiga cangkir untuk pagi ini, sementara kepala Jack menemaniku sembunyi di sepertiga tahun ini. Tidak seperti secangkir kopi yang hadirnya hampir begitu saja dan habis begitu saja, kepala Jack menemaniku bersama ceritanya yang panjang. Aaghh…kepala Jack berekspresi sama serasa selalu ramah nan hangat kepadaku yang untuk sebagian orang sama sekali tidak memiliki makna apa-apa kecuali boneka kecil bulat berwarna hitam aneh.

Hadirnya mengejutkanku untuk beberapa saat, suatu sore berkabut akhir tahun yang lalu. Dari balik kerlingan kawat metal stainless, dihantar sapa dalam beberapa decybell membuyarkan semua imaji siang tadi yang nyaris terangkai sempurna. “ngopi yuk”, sapanya. Aku hanya terdiam membiarkan siluet siang meriak dan hilang. sebuah ajakan atau masih lanjutan mimpi, entahlah. aku susah memilahnya
Aku memang selalu suka sore dengan semua keentahannya.Ternyata sore ini terlalu indah, sesuatu penantian akan berakhir sekejap…hanya sekejap mungkin. Sore yang keindahannya tak mungkin habis meski telah sayu di puja Seno Gumira. Sore berkabut ini mengurungku ke dalam bingkai baru, bingkai anonim berdaya kejut tinggi. Mungkin sama saja dengan para penikmat malam…sore pasti selalu indah.
Kutatap kelembutan terhampar pasti. Daya magis anomalis menarikku ke ambang batas eksistensi. Entah apalagi yang menuntun kakiku mulai bergerak bergantian. Aku tersipu apa atau dia, sekali lagi entahlah?

Impuls saraf memang bekerja otonomis, tetapi yang pasti pilihan untuk berkelakar jauh sama sekali tidak tersedia. Sementara pilihan tindakan lain lebih lanjut lagi serasa tanpa nyata. Kegamangan yang selalu tanpa rencana. Ada apa? Sekali lagi, entahlah. Sore tanpa bunyi dan kejutan tanpa tafsir. Kami melangkah pergi.

Kuamati sekali lagi, kutatap dalam-dalam menembus penantian merah saga senja. Sampailah aku pada ekstase kelembaman hilang sadar. Keingintahuan terhadap pastinya suasana sore nan aneh. Kususuri file disetiap lipatan memoriku. Tiada sesuatu tersimpan di sana. Kosong di akhir siang kuisi kosong ke dalam sakuku.

Hawa sejuk pegunungan menguapkan hembusan panjang nafasku. Kabut sore mulai terbit mengusik selinapan cahaya mentari di antara ranting-ranting cemara. Sepertinya dia hadir menuntut balas atas kekalahannya pagi tadi…sekali lagi, entahlah

***

Musim melangkah jauh. Tanpa perkiraan di awal siang yang sepi, tiba-tiba saja dia menawariku kepala Jack ini. Seperti cerita saat sore itu, selalu penuh kejutan. Atau hanya aku yang meraskannya, kali ini pun masih saja entahlah? Aku serasa kehilangan sosokku yang pasti. melebur dengan campuran rasa sempurna..meski ku tak mampu memaknainya..

Kuyakinkan diriku bahwa dalam hujan lebat sekalipun, selalu ada sedikit tempat untuk berteduh. Setidaknya itu ada di setiap harapan yang tidak sempat terucap. Iklim yang semakin tidak beraturan dan cuaca yang tak ingin lagi diterka. “Wahai hujan, siapakah dia yang membuatku harus bertanya kepadamu? Seperti aku yang selalu hebat berbicara dalam hati, semampuku hanya bertanya itu, kepadamu.” Itulah tempatku berteduh…dalam setiap tanya.

Aku belum melakukan apa-apa.

Sejauh ini Jack nyaris saja tidak terpisahkan denganku. Imaji tentang dia kukurung dalam bulatan senyum si Jack. Tanpa maksud hiperbolis, ternyata Jack pun seakan bosan bersamaku. Suatu petang gerimis di tengah hutan beberapa pekan yang lalu, Jack tanpa permisi melangkah pergi dari sisiku. Betapa sedih aku setelah tahu. Teman-temanku dalam sekejap berhasil menyusulnya. Dengan segala ketulusanku, aku merajuk memintanya untuk tetap bersamaku, di sisiku. Akhirnya seperti kebanyakan orang yang selalu suka “happy ending”, saat itupun kisah Jack ber”happy ending” juga. Dia masih bersedia menemaniku, bahkan dia mempertegasnya dalam sebuah janji, i”ll stand by you till death do us fuck”. Semampuku pun kukecup kening mungilnya.

***

“Hey….Jack, sudah cukup lama kita bersama. Perjalanan ini semakin menantang saja. Semakin banyak tanjakan di tepi tebing-tebing curam. aku tak yakin masih bisa selamat seandainya jatuh di jalan ini. Tapi jika memang harus jatuh, yakinlah Jack, kau masih kumiliki…masih bersamaku. Mungkin sebelum natal tahun ini perjalanan akan sampai. Mungkin akan “happy ending”, mungkin juga berakhir mati “dead before christmas”.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s