GOT NOTHING IN MY BACK


ada apa dengan yang terlewat? kenapa aku selalu membencinya…yah, mungkin saja penyebabnya karena setiap sesuatu yang sudah aku anggap selesai selalu saja ada satu atau lebih hal yang terlewatkan[tidak sempat direalisasikan] yang menjadi bagian dari hal itu. akhirnya aku pun harus menyisakan beberapa space di otak untuk memikirkannya kemudian, entah menjadi sebuah memoria atau apa.

sedangkan hal lain sudah bertumpuk untuk segara mendapat perhatian…anggap saja nomornya di arisan sudah keluar..

belum lagi ketika aku berhitung tentang harapan hidup atau umur maksimal manusia sekarang! aku ternyata belum melakukan apa-apa disaat sudah berada di sepertiga range umur. belum belajar inilah…itulah. belum tahu inilah..itulah,. meski harus selalu kuingatkan diriku bahwa tidak akan mungkin mengetahui segala sesuatu,,, so pasti!!! masalahnya adalah apa sebenarnya prioritas utama hidupku? lahir, sd, smp, sma, kuliah, bekerja, menikah, punya anak, jadi tua, punya cucu, uzur bin pikun, dan mati. inikah yang disebut hidup? beginikah seharusnya hidup itu? aku tidak akan pernah menyetujui hal ini terjadi padaku. tidak adakah sesuatu lain yang bisa menegaskan identitas kehidupan kita? misalnya saat muda menjadi seorang pemberontak tak berotak, atau setidaknya pernah bertanya tentang siapa aku, dari mana asalku, dan mau kemana aku…dan sebagainya.

selalu saja berakhir sama, hidup tanpa ketegangan apa apa kecuali ketakutan terbesar menghadapi realitas diri di umur tiga puluhan alias masa depan. aku tidak akan pernah menakut nakuti diriku untuk menjadi sesuatu di area itu sebelum landasan pandangan duniaku jelas sejelas jelasnya. i never think about what jobs that ill take for the next journey of mine, but i always think how i am gonna be then..apakah aku sudah paham tentang diriku sendiri, pandangan duniaku, ideologiku, kesadaran dan ketidak sadaranku, masyarakatku dan banyak lagi tentang aku. menurutku itu jauh lebih penting dari pada bercita2 menjadi “penjual coto” kemudian. aku selalu berpikir bagaimana lagi cara berkontemplasi yang maha dahsyat yang harus kulakukan. dengan demikian aku tidak hanya menjadi seperti rentetan proses lahir, hidup hingga mati. ya ngga? ya iya dong.

sore tadi bersama kanda naqi, aku melewati area pondokan tamalanrea. tiba2 saja dia berceloteh, “waduh anak pondokan”. lalu beruntunlah beberapa lanjutan seperti ini, ngampus sebentar, selebihnya di kamar. tahan yah. kalau itu aku sudah mati 3000 kali mungkin. aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak berdiam diri, bahkan tidurpun harus di minimalkan. aku pasti menyesali hidupku kalo di umur 40an tahun, kemudian kusadari kalu 15 tahun diantaranya hanya kupergunakan untuk tidur. bagaimana dengan pengetahuanku, berapa jam aku membaca tiap harinya. wajar saja kalo kerja otakku tidak akan pernah mungkin maksimal sampai aku uzur. dia tidak akan berkembang jika yang dia pikirkan hanyalah sebuah ideal dari cita-cita. kemudian kanda naqi menimpali, “bergaul pun butuh biaya bung”.mang betul, makanya jangan hanya tidur di kamar saja menunggu kapan kiriman datang…banyak kok tempat atau komunitas murah kalo hanya untuk sekedar menambah pengetahuan dan pengalaman.

sudah dulu yak, cape’ neeh

April 18, 2007 |

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s