MANIFESTO BAJINGAN PEMIMPI

Sudah habis dunia kucaci maki. Ternyata tidak ada perubahan apa apa terjadi selama itu berlangsung [dah lewat, sekarang caci maki dunia dah basi]. Sama seperti perkataan Jim Morisson [the doors] bahwa, “tidak akan ada perubahan dalam skala besar kalau tidak di mulai dari revolusi diri/pribadi yang berasal dari dalam dan sangat individual”. Makanya dari dulu aku memilih untuk tidak lagi mencaci maki dunia. Jangan-jangan tidak ada yang salah dengan dunia, dengan semua yang terjadi dengannya, dengan manusia manusianya. Jangan-jangan kesalahan terletak pada diriku sendiri, pada caraku memandang dan bersikap, pada paradigma yang mendominasi dan menjajah otakku, pada semua ketidaktahuanku akan banyak hal.

Seandainya dulu sebelum lahir aku bisa memilih menjadi apa, aku ingin menjadi seorang polos yang tidak perlu tahu apa-apa sama sekali kecuali hasrat makan untuk hidup tetap ada [ini bukan ungkapan penyesalan sama sekali. regretting? for what, am i have done something to making me right in regret,,,yeah you right, i am wrong…i never done anything before]. Tapi mana mungkin semua itu hanya seperti itu saja kalau kenyataan berteriak bahwa kita sedang hidup di sebuah negara super miskin, bersistem maha miskin juga. Rakyatnya yang miskin harta, pemimpinnya yang miskin etika dan moral, masyarakat kelas satunya yang miskin kasih sayang dan rasa berbagi, dan yang pasti sistemnya miskin kesetaraan; persamaan; kesejajaran; dan keadilan serta bangsanya yang tramat sangat miskin pengetahuan, smangat untuk maju [atau setidaknya dendam membara untuk memerangi segala kemiskinan ini], dan tingginya angka kemiskinan curiousityness nya, serta sangat miskinnya dari semangat untuk tidak hanya tidur saja. Aku sudah tidak berteriak tentang semua hal-hal, karena ternyata itulah penggambaran sosok diriku yang paling nyata dan paling sempurna.

Jadi saat ini aku lebih baik tetap mencaci maki tapi hanya untuk diriku sendiri. I’d rather blamed my self than surround. Yah setidaknya masih ada apologia yang tersisa bahwa istilah dari hal itu adalah autocritics. …wakakakakak…..

Dari pada aku selalu menceritakan kehebatan, kecerdasan, atau apapun yang positif dari diriku yang sebenarnya tidak pernah kumiliki dengan tujuan hanya untuk mencari-cari simpatik dan perhatian orang lain, maka bukankah lebih baik kalau kucaci maki diriku [mending kalo yang kucaci masih diriku sebenarnya, kalo dah orang lain,…nah lo] dengan maksud untuk menghancurkan bentukku hingga aku tak berbentuk. Mana mungkin aku bisa mengidolakan orang lain sementara derajat ku saja tidak pernah bisa ku angkat, bahkan di wilayah pikiran dan mentalitas pun tidak [seperti inilah watak miskin orang Indonesia kebanyakan akibat terlalu lama dijajah Sriwijaya, Majapahit, Portugis, Spanyol, Jepang, Belanda, Orde Lama, Orde Baru, dan sang penjajah trakhir bernama the new brand imperialist. Orang Indonesia sangat menikmati kebodohannya, keterjajahannya, dan ketertindasannya serta keadilan yang tidak akan memunculkan dirinya di mana pun di negeri ini].

Maka dengan kontinyu akan kucaci maki bentukku hingga tidak berbentuk sama sekali, kan secara fenomenologis ini lebih baik, aliran dekonstruktif dan rekonstruktif pun pasti setuju, ya ga? Dan semua tatanan mapan di balik tengkorakku akan tumbang dan sesuatu yang barupun hadir [kalo hadir, lha…kalo malah mati selamanya, gmana dong? let it be…wakakakakakakak].

Dengan berlaku seperti inipun, aku masih saja menjadi sosok terpandai untuk menipu diriku sendiri. Tapi apakah memang ada sesuatu yang benar-benar bertentangan? Ada ga? Entahlah! Bertentangankah ketika aku menghina sebuah aliran pemikiran dengan menggunakan sebuah yang lain? Bertentangankah ketika aku mencaci beberapa majalah dan mengagungkan majalah yang lain. Menurutku hal itu sama saja bodohnya … itulah aku dengan kebodohanku, sok tahu menilai kerja orang sedangkan aku tidak mungkin terukur [ukuran saja mungkin tidak sudi diberlakukan padaku…wakakakakaka], am i god? Absolutely no!!!!

Aku sangat mendukung budaya lokalku [Makassar] dengan memakan lahap roti bakar “Bandung”, belanja di “Bandung cool stuff shop,” dengan meneriakkan semangat D.I.Y, dan merasa melakukan aktivitas berdasarkan hal itu padahal ternyata sama sekali aku tidak paham, atau mencintai semangat indie movement kotaku yang seakan tak punya talenta dengan mengagungkan beberapa keparat seperti Arian13, n ect.. yang menurutku mereka pasti terinjak-injak mati jika berani melintas di Gilman Street [jangankan Ripple yang gratisan, celana dalam mereka saja andai diobral di koridor “rumahnya”, pasti akan laku dengan nominal yang mencengangkan … they’re as shit as me … aku memang belum selesai di wilayah pikiranku … so let em rape n eat my mind … is it cool, isn’t? … iya, cool untuk tai ngenge ku] … akupun jadi pusing, aku ini ingin perubahan/pendewasaan atau hanya ingin sekedar berbeda saja [biar kelihatan up to date dan berpura pura smart+berwawasan luas] … kurang aneh apalagi aku dan pasti lebih aneh lagi kalau aku tidak mencaci maki diriku yang hampir saja telah beragama Bandung [kiblat sudah jadi the only one Bandung] …

Nah sekarang apa lagi, gila sudah menjadi term untuk mengasumsikan hal keren [menurut kamus pergaulan hari ini], akupun harus menjadi gila karena aku keren [die for fake plastic], meski aku sadar aku bukanlah orang yang memiliki jati diri yang tegas [mass mental] dan sebenarnya akupun tidak tahu apa-apa, bahkan untuk kebanyakan hal yang meluncur keluar dari mulutku aku sama sekali tak pernah tahu atau mau tahu apa itu sebenarnya, aku masih lebih bodoh dari DAMAGED BODY PIERCING sang punkers itu ketika mengatakan, “biar kau bayar berapa, aku takkan membaca”, lha… punk species apa lagi ini [species punk bertatto Rp 3 juta sebelah kiri, dan 4,5 juta untuk sebelah kanan … lha belum lagi piercingnya/ keren lagi, menjadi punk khan mahal] … iya aku masih lebih bodoh dari dia [kasihan sekali Marjinal menghadiahinya buku yang hanya jadi pajangan, mending botol Jack D, kan bisa untuk koleksian], dan akupun masih tetap lebih bajingannya dari dia … Marlyn mansur Manson saja bisa berani berkata dirinya tuhan pasti didapatnya dari buku buku bacaannya … aku masih tetap lebih bodoh dari dia.

Teruss aku memang harus mencaci diriku karena bermimpi bahwa Tuhan itu masih dan memang ada … lebih buruk daripada para agnostik bin atheis yang memang sudah tidak punya mimpi lagi, aku lebih bodoh dari mereka yang berasumsi bahwa neraka surga belum tentu ada, kalo ada kan mereka tinggal mendobrak pintu neraka dan berlompatan kedalamnya dengan riang gembira dan muka ceria tralalalala [kan begitu konsekuensinya] … lha kalau ternyata surga neraka tidak ada, maka kerugian terbesar jatuh ke tangan orang-orang yang selama hidupnya hanya diisi dengan menakut nakuti diri tentang bar atao diskotik di neraka dan tempat tempat ibadah di surga yang ternyata tidak berbeda sama sekali, di bar sering terjadi perkelahian…di tempat ibadah sering terjadi pembantaian dan penipuan dahsyat. dan aku tetap saja bodoh karena tidak menerima dan setuju dengan kedua asumsi dari para atheis, maupun dari para “pemuja surga+takut neraka”, aku akan memilih diriku sendiri dengan cara kontemplasiku sendiri dan memuja tuhanku sendiri, tuhan miniaturku [menghampiri wujud sebenar benarnya tuhan yang tidak pernah bisa kuterka ke apaannya dan keadaannya] yang kuciptakan di otakku dengan berbagai anggapanku bahwa dia memang maha pengasih dan maha penyayang yang akan selalu hadir di sisi sisi sensitif jiwaku. itulah aku tanpa perbedaan apa apa.

yahhhh…. habis deh waktuku hari ini untuk mencaci diriku…daripada mencaci orang lain dan caci diri juga sudah lelah maka mungkin lebih baik kalau aku diam saja dan tidak perlu melakukan sesuatu apapun, tidak juga untuk keluar dari penjara ciptaanku berterali longgar bongkar pasanhg nan portable ini…diam

me maDDie, lowport aliansi diam

April 18, 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s