MENINGGI

“Heeiyyy…apa kabar rentetan temaram?”, dia sepertinya menyapaku. sedang aku masih saja bertanya, “apa benar yang disampaikan laba-laba di ekor naga?” katanya ada tiga sosok yang cukup berarti di garisan putih ini.

Ayolah bicara tentang apa saja, mungkin itu bisa menyilaukan mataku lagi. aku tahu ini mimipi, memang. tapi setidaknya ini mimpi yang indah. mimpi indah tanpa harus diawali kepulan asap dari rumput yang terbakar. aku ingin menyepuh logam itu. iya, logammu yang lebih mirip sebagai cermin dari kata-kataku sendiri. atau kulebur saja menjadi batangan besi sehingga bisa kutanam sebagai tiang tunggal untuk Bivouac kita yang sebentar lagi kupancang di tepi imaji….

Benar….memang ucapannya bisa benar bahwa badai sedang berhembus dari arah barat daya. namun bisa saja kita menyelamatkan Bivouac itu. penyelamtnya berada di sekitaran sumsum lanjutan dari batang otakmu. kau hanya butuh menggerakkannya vertikal ke atas saat peringatan badai kuteriakkan untuk kali terakhir. badai barat daya itupun tidak akan mungkin mampu menerbangkan Bivouac kita.

Ada kengerian seandainya tiba-tiba kau berdiri tegak dan menegaskan badanmu mampu mengikuti kelenturan angin hanya dengan menggerakkan horisontal sentripetal berulang dari sumsum lanjutan itu. aku pasti berdiri tegak juga di depanmu, membiarkan badai terbelah melewati samping kiri-kanan tubuhku. dinamikanya akan membuat tubuhmu terputar terutama di bagian sumsum lanjutan itu secara sentripetal bervelositas tinggi. kau bisa menembus bumi dan kau pasti selamat.

Meski aku bukan pahlawan, tapi aku memang memilih itu! kusaksikan pertama bibirku melebar tercabut kemudian rambutku beterbangan. tangan dan kakiku diikuti seluruh sisi samping badanku melepas sedikit demi sedikit. terakhir kedua bola mataku terpantul melewatimu hingga badai benar-beanar berlalu. aku pasti mati. mati dalam senyum terperih yang paling terakhir.

Tahukah kamu, aku belum pernah kalah melawan badai sebelumnya. dan jika kali ini aku harus kalah, kupastikan dua hal harus mengada. aku akan mengucapkan terima kasih kepadamu tulus untuk rasa yang pasti kukecap untuk kali pertama. denganmu aku merasakan kekalahan pertama kaliku melawan badai barat daya. selanjutnya, yakinlah bahwa sebagian wujudmu akan terkurung dalam sangkar yang menyala di setiap temaramnya malamku, di setiap diamku. akan kujaga adorasi untuk hal itu sampai laba-laba di ekor naga menjaring di celah jalanku ke depan. itulah pertanda bahwa garis putihku tadi telah hampir berujung.

“dalmation 101 untuk setiap malam forgotten lullaby”

Losari, April 10th, 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s