RAMADHAN, AKU PULANG

going-home-l
Mata tak lagi sembab. Hati semakin membatu. Lalu di mana ku titipkan pesan Hugo tadi pagi, bahwa “bahagialah manusia karena dua hal; mata untuk menangis dan hati untuk mencinta?”

Kutatap jalan ini semakin kabur. Jejak-jejak suci perlahan meraib. Surat-surat cinta yang biasanya datang di awal bulan, kini tiada hadir lagi. Aku terjebak dipenghambaan tanpa tuhan. Tanpa cinta tanpa airmata.

Sosoknya yang hadir disetiap sepi memang cantik, tak berwajah tak berbayang. Salah satu yang kuyakini, bahwa dialah bayang-bayang. Menyapaku dalam kalimat yang sama, “dari mana?” atau “ mau ke mana?” atau “sedang apa?” “Inikah basa-basi?”, jawabku jauh terbungkam di kedalaman. Pertanyaannya wangi penuh dendam. Sejenak aku seperti menjilat luka lalu pulang ke pikiranku, itulah yang nyata. Sepi di sini kian menjadi-jadi, tanpa hati tanpa airmata.

Di kebun ini kami sempat membangun sebuah taman ilmu beberapa tahun lalu, tanpa bangku tanpa bivouac, hanya bergandengan tangan. Bebungaan mulai ditanam. Ada mawar merah, hitam, dan putih, beberapa biji melati, dan setangkai nerium. Wanginya mulai tercium beberapa pekan kemudian. Meski kami tak pernah menyemai bibit bunga bangkai, tapi ada juga yang menciumnya di sini. Sepohon bodhi berdiri kokoh di sana, tempat kami biasa menafsir mimpi, meretas nyata, mengecap buah waktu yang selalu disajikan seorang kakak. Ditengahnya ada telaga bening tempat angsa menata sayapnya … mungkin agar terlihat bersih mengkilap diterpa pendaran sinar mentari sore kala pulang kerumah. Indah menjadi angsa, aku hilang arah lupa jalan pulang.

Di taman itu, basa-basi mewujud dalam jawab dalam tekad. Suasananya bukan sensasi, mampu mengisi kosongnya kenyataan. Setiap kita berada dalam kita, mendekati kata “kita”. Inilah hidup yang semestinya. Hidup yang sadar bahwa membedakan siang dan malam itu nihil. Siang yang kadang berlebih terang dan malam berkurang terang. Sementara sumber cahaya masih tetap matahari. Siang selalu terang, menerima cahaya langsung dalam keluarga dua belas jam. Itulah mengapa riak hidup lebih nyata di siang hari, karena meski malam biasa terang bulan, itu hanya pantulan dan keberadaan bulan tidak selalu tetap, tergantung seberapa kelam malam dan hadirnya mesti meritmik. Dan sumber cahaya selalu metahari. Perihal nyata di taman kami, dirintis tutur belaian seorang kakak.

Huh….kenangan yang selalu saja berusaha menghapusku. Untung saja aku mampu mengingat taman tanpa bangku tanpa bivouac itu. Dan aku berterima kasih kepadamu, sosok cantik tak berwajah tak berbayang. Hahahahah … aku jatuh di penghambaan tanpa tuhan. Kau mampu menjadi tuhan. Mengajakku melupakan kenangan sebagai hamba.

Meski tanpa kau tunjuk, aku pasti akan lupa. Seperti kebanyakan hal telah kulupa hari ini. Tahukah kau, kalau Milan Kundera mengatakan itu. Basa-basimu menari dalam gelap malam. Aku selalu mengatakan suka akan malam karena pagi terlalu silau. Seperti saat ini aku setengah mati mengahampiri Ramadhan. Aku suka malam dan terlalu takut kenyataan. Takut akan aku. Kau bayang-bayang menggerakkan malam dengan tarian keramaian sepi. Tarianmu mistis menjengahkan, mempertegas lupa. Sayang sekali kau bertanya pada kebosanan yang sama. Memfungsikan terima kasih karena sekaligus mengingatkanku untuk menyambut pagi.

Hmhhh … aku memang ingat tentang taman tanpa bangku tanpa bivouac, tapi aku lupa kapan aku mulai menyukai tarian bayang-bayang malam. Aku lupa kapan aku mulai terjangkiti phobia yang berulang. Dan sangat aneh untukku berujar hanya tahu katika aku salah karena tidak seperti itu. Dan kembali lagi aku tidak pernah meragukan hal lain kecuali diriku. Bagaimanapun bayang-bayang tidak akan mungkin mewujud paripurna kecuali dalam pekatnya malam. Atau dalam situasi dikelilingi cahaya dari semua sudut dalam kadar candella yang sepadan.

Betapa sepi di sini. Aku lelah memuja bayang-bayang. Sebelum kelupaan melangkah lebih jauh, aku harus tidur. Mengistirahatkan rupa-rupa pura-pura malam. Terlalu sakit mamakai rupa-rupa itu, sampai sakit inipun serasa pura-pura. Semoga besok wajah mereka yang memilih mati terlupakan daripada hidup dikenang sebagai pecundang sudi menyapaku. Dengan sedikit candaannya yang mampu mengusir sepi.

Pergilah, karena aku memang lelah. Cukup peranmu menjadi bayang-bayang, malam menjadi cermin. Kulihat diriku terpantul dalam jelaga. Telah lelah kubunuh seribu rupa namun tak lagi habis. Ramadhan tahu hal itu, dia punya cermin yang lebih bening, tanpa lumut tanpa kerak. Aku butuh lebih bersih karena kutahu mataku semakin merah perih seiring malam mendekat pagi.

Pergilah bersama malam, aku menantikan Ramadhan. Aku ingin di sini seperti angsa telaga di taman kami menata bulu-bulunya. Aku tidak mungkin lupa kalau aku masih penuh ketakutan, dan sukar bagiku menghapus itu. Aku akan mencoba untuk lebih berani saja. Pergilah karena Ramadhan tidak peduli siapa aku. Akupun lelah meninggalkan jejak yang tidak bisa menjadi penunjuk jalan untukku pulang. Aku butuh hati untuk menangis. Aku butuh tangis untuk berhati. Dan saat ini, aku hanya ingin pulang. Hilal esok menjadi gapuranya.

September 13, 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s