EUFORIA SUBLIMINASI

Kekahawatiranku memang terbukti. Pagi ini melangkah tertatih lesu menuju ke lapangan PKM UNHAS, segenap sial kukumpulkan bersama sisa tenaga setelah semalam tidak tidur, kemudian menyetubuhi pagi yang buram. Sampai di lapangan suasananya sudah ramai, semrawutan peserta KKN berekspresikan wajah serupa tidak memungkinkan aku menggapai orgasme. Semuanya tampak cemas bercampur senang. Mungkin mereka gelisah dengan ketidakjelasan prosesi keberangkatan, ketidakjelasan nasib di lokasi, dan berbagai ketidakjelasan lainnya. Senangnya mungkin dikarenakan sebentar lagi akan menjalani salah satu penjegal terberat untuk segera angkat kaki dari kampus yang sadar atau tidak memang memenjarakan. Aku impoten mendapati pagi semeriah ini.

Sungguh aku tidak bisa menikmati keadaan ini. Entah apa yang ada di benakku. Prosesi simbolis yang tidak berguna menurutku. Belum lagi upacara pelepasan yang tentu saja tidak mungkin aku ikuti. Sejak tamat SMU aku telah berjanji tidak ingin lagi ikut upacara semacam ini. Pendisiplinan di bawah payung dominasi negara melalui kaki tangan lembaga pendidikan.

Kesialan tidak berhenti sampai di situ. Mobil yang kami tumpangi over loaded. Kami harus berdesakan meski telah membayar uang KKN sejumlah Rp 450.000,-. Sebagian harus berdiri di pintu dan di lorong mobil walau kita tahu perjalan ini tidak singkat. Perjalanan yang menjemukan. Belum lagi setelah setengah perjalan, tiba-tiba seseorang memutar playlist yang kontan saja menstimulasi otakku berakhir pening. Seseorang itu mencoba memancangkan identitasnya di tengah-tengah kami dan ingin kelihatan cool. Dia tidak akan mendapatkan simpati apapun dariku. Aku menganggapnya seseorang yang jika diandaikan adalah sebuah symbol yang tidak akan pernah berjumpa dengan maknanya.

Akhirnya tiba juga di lokasi, bongkar muat di depan kantor kecamatan. F**k, para lelaki yang kutemani tadi tidak memiliki otonomi sedikitpun. Tidak ada kesadaran kolektif yang terpancar dari gerak mereka. Beberapa jeda kemudian upacara penyambutan pun digelar. Dua orang arsitek bahasa pendisiplinan tampil di depan. Sepanjang omong kosong mereka, aku sibuk mengobrol dengan temanku via SMS. Bahkan pembacaan doa pun aku tetap tidak ngeh. Tidak kurasakan adanya spiritualitas di sini, mungkin Tuhan sedang sibuk sehingga lupa hadir. Yang terjadi adalah komodifikasi sosial melalui institusi moral bernama Islam. Kaki tangan Muawiyah mengajak menghaturkan puji sukur kepada Allah. Euforia tidak sadar menjadi respon rekan-rekan. Mereka tidak sadar sedang digiring ke penjagalan kreatifitas dan kepatuhan keterjajahan. Mengamini penguasa lalim adalah kekafiran lipat ganda bagiku, dan semakin menyakitkan melakukan ini dengan kesadaran penuh bahwa ini salah.

Melangkah ke chapter berikutnya yaitu berangkat ke posko masing-masing. Satu-satunya yang kusukuri di dunia sosialku hari ini adalah posko yang menyenangkan, Pakde yang ramah serta teman-teman yang menyenangkan. Demikian untuk hari ini.

07 Juli 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s