TAJUNCU: THERE IS NO FAIR TRADE , THERE IS NO SMILING MARKET

 

Keterbukaan komunikasi menjadikan sense kolektifitas di Posko KKN kami meningkat signifikan dalam dua hari. Pagi dingin nan temaram tidak menyurutkan semangat untuk beraktivitas. Ke-engganan Matahari berbagi hangat mengharuskan adanya pemanasan ekstra di rumah ini. Sedang yang menjadi menu utama sarapan adalah cerita ceria berisi candaan renyah dan banyolan gurih.

Seperti anak umur 6 tahun di hari pertamanya masuk sekolah dasar, kami begitu bersemangat merapatkan barisan dan mempertegas langkah menuju ke Pasar Kecamatan. Tajuncu, sebuah pasar tradisional yang susah kita dapatkan lagi di kota semetropolis Makassar. Homogen bahasa sebagai pengantar berkomunikasi menampilkan kami tampak berbeda. Semua orang bercakap menggunakan bahasa Bugis, menggambarkan bahwa Indonesia tertolak keberadaannya. Aku menganggap negara tidak sedang hadir di sini kecuali perampokan atas namanya melalui tangan-tangan penarik retribusi jalan dan bangsal-bangsal pasar.

Kompleksitas masyarakat pedesaan terpampang nyata dalam pasar Tajuncu. Arus hegemoni globalisasi Kapitalisme hadir dengan warna Merah Jambu yang norak mentereng. Aku saksikan beberapa penjual pakaian menunggui dagangan mereka yang bermodel desain kekinian mengisi sebagian besar ruang dalam pasar. Penjual pupuk dan ragam sida serta perlengkapan agraria menempati beberapa petak bangsal pasar. Meskipun Tajuncu pasar tradisional, tetapi harga globallah yang terdengar berbicara. Sebotol Roundupp seharga dengan sekarung kepompong ulat sutra. Sekilo ZA sama harganya dengan sekuintal gabah kering.

Prosesi sosial ekonomi di Tajuncu kuprosakan dengan frasa “There is no fair trade, there is no smiling market.” Itulah mengapa masyarakat seakan tidak butuh negara. Negara yang semestinya melindungi, mengakomodasi kepentingan, dan menyejahterakan warganya tidak pernah berbayang di pihak mereka. Negara tidak berdaya menyeimbangkan harga pupuk dengan kemampuan ekonomi rakyatnya. Sementara aparatnya begitu beringas menagih pajak dan retribusi. Berbagai alasan meninabobokan masyarakat dilantunkan dengan sendu dan semerdu mungkin. Ada subsidi inilah ada program penguatan masyarakat itulah, yang pelaksanaannya tidak akan pernah bisa membalut gerogotan luka bangsa yang telah kronis. Aku teringat dengan ungkapan seorang kakak bahwa “Indonesia hanya ada ketika melakukan pengurusan KTP dan pada saat pertandingan sepak bola.” Bagiku sendiri, Indonesia ada saat sedang ditilang polisi lalu lintas meski tanpa adanya pelanggaran yang jelas.

Di dekat gerbang pasar terdapat penjual obat yang berdagang dengan teknik retorika tingkat tinggi. Menurutku, para akademisi mestinya ada di tempat ini menonton si penjual obat agar mereka menjadi faham bahwa teori yang mereka diktekan di depan kelas hanyalah sampah yang tidak memiliki tempat buangan. Penjual itu begitu lihai memainkan tempo dan volume bicaranya. Gerakan lidahnya menghipnotis setiap yang datang untuk sejenak memperhatikan atraksinya. Ada yang kemudian bertransaksi, ada juga yang pergi dengan senyum ragam makna. Suasana seperti ini akan selalu kita jumpai di setiap pasar tradisional di Tanah Air. Sementara itu, aku semakin yakin bahwa keberhasilan transformasi Kapitalisme yang sukses melompat ke tingkatan lanjutnya dikarenakan peran retoris advertising dan keganasan media yang menjadi dasar tumpuannya. Persis seperti yang sedang dilakonkan si penjual obat. Atraksinya selalu seksi membuai libido khayali para penontonnya.

08 Juli 2008
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s