FACEBOOK, SELAMAT (TENGAH) MALAM

Sekitar jam setengah dubelas Jumat(20/02/09) malam kemarin, saya hendak pulang dari Pasar SOSPOL ke PKM. Beberapa orang di sana saya perhatikan sedang menjalani aktivitas yang sama, online. Seorang temanku sedikit gusar karena sedang mengunduh dvd debian 5, driver linux produksi asli Free Software Foundation karena jaringan sedang timbul tenggelam. Beberapa orang lain yang baru datang setalah terkoneksi dunia virtual kadang tertawa cekikin layaknya sedang bercanda dengan layar kotak dihadapan mereka. Sudut mataku mencoba mencuri pandang apa yang sedang mereka hadapi. Ternyata sebuah situs dengan ciri khas yang sangat aku kenali, menu bar biru, primery picture sebelah kiri atas, dan aplikasi di apit kiri dan kanan halamannya. Aku ingat dengan sangat apa saja yang berada di situs itu, apit kanannya berupa kolom iklan, kadang caleg, komunitas atau link ke situs-situs komersialan lainnya. Yah, situs itu adalah Facebook, tentu saja.

Sejurus kemudian, aku serasa kembali kepertengahan tahun 2007 lalu. Saat itu seorang teman memperkenalkan situs ini kepadaku, jejaring sosial baru yang lebih komplit dan menyenangkan, itu katanya. Tanpa pikir panjang, saat itu juga aku segera sign up. Kuawali “akun buku wajahku” dengan mendaftar di group-group diskusi luar negeri. Group-group lamaku berbasis di kota besar dunia semacam Tehran, London, Liverpool, L.A dan N.Y. Teman-teman baruku pun kebanyakan dari sana. Saat itu, sangat susah mencari teman dari Makassar, hanya ada beberapa orang, kesemuanya dari komunitas Biblioholic dan Ininnawa, selainnya hanya ada Toar Andi Sapada. Bahkan untuk network Indonesia masih susah, Jakarta sama sepinya dengan Makassar.

Lambat laun beberapa temanku mulai join. Aku ingat ketika beberapa dari mereka akan berangkat ke U.S.A, kupesankan agar join di facebook mulai dari sini, karena situs pertemanan di negara imperialis itu adalah facebook. Mereka memang join tapi setelah sampai di sana. Network mereka pun lokal sana. Salah seorang yang berangkat belakangan, join mulai dari sini tapi katanya buku wajah itu ribet.

Keping-kepingan memori yang mengisi perenunganku akhir-akhir ini. Aku pernah tertawa cekikin, kadang merasa elitis, bangga sekaligus narsis atau bahkan neurosis. Tentu saja karena fasilitas membuai khas facebook.

Akhirnya, tiga bulan terakhir aku merasakan sesuatu yang besar mulai terjadi di facebook. Semakin banyak orang bisa ditemukan buku wajahnya. Praktis buku ini menjadi buku favorit baru, menggantikan buku yang sebenarnya. Semacam aoutobiography atau riwayat hidup yang ditulis sendiri. Buku wajah memuat hampir semua kecenderungan dan data diri idael dari penggunanya. Mulai dari identitas diri, pandangan keagamaan, pandangan politik, aktivitas, sekolah, universitas sampai sedang berpacaran dengan siapa, pun ada di buku ini. Berbagai argumentasi pernah kulontarkan sebagai pembenaran. Ajang silaturrahim, lebih keren, banyak aplikasinya, komplit dan seterusnya. Aku tidak pernah curiga terhadap hal-hal disebaliknya, mungkin sama dengan kebanyakan penggunanya. Aku yakin, saat itu aku senang seperti senangnya Mark Zuckenberg telah membangun situs ini.
Setelah jenuh dengan tag photo, chatting dan wall comment, kualihkan kesenanganku kepada gaming. Triumph, werewolf, zombie, slayer, vampire, band battle, premier football, street premier football, dan hooligan wars adalah deretan game yang mengadiksiku saat itu. Berbagai urusan di dunia nyata banyak yang terbengkalai, karena jelas facebook lebih menarik.

Rentetan masalah yang timbul oleh kesenangan ini lah yang menerbitkan niatku berencana menutup akun. Ada pilihan lain, seperti pengurangan intensitas berfacebook, menjadi penghalang. Tekadku tidak berhenti begitu saja, aku ingat ketika Kang Jalal mengatakan kalau facebook menjadi salah satu penyumbang besar zionis dalam genocide di Gaza Strip. Ada yang malah mengatakan Facebook digunakan C.I.A untuk memantau dan mengontrol dunia. Sedangkan aku percaya beberapa perusahan besar transnasional mendapat keuntungan pangkat dua karena tidak perlu lagi membuat anggaran untuk melakukan survey khalayak calon konsumen produk mereka. Semuanya tersedia di facebook.

Beberapa hari yang lalu aku berhasil menutup akunku selamanya berkat bantuan seorang saudara. Sebelumnya hanya bisa deactivated account tapi selalu bisa login lagi. Titik kulminasi tercapai, ternyata mampu untuk “berkata tidak” adalah sesuatu yang membahagiakan. Buncahan meletup, bahkan pertemanan itu lebih indah secara langsung. Masih banyak space bebas jika hanya untuk chating selain buku wajah. Menyenangkan memang bermain facebook, saya hanya tidak ingin merasa sedang diawasi, menyumbang untuk penghapusan etnis dan neurosis.

Sepanjang jalan mulai dari FIS III, aku lihat lumayan ramai di depan sekretariat HMJ-HMJ SOSPOL. Aku yakin mereka sedang bermain facebook. Kuteruskan langkahku dengan tarikan nafas dalam-dalam, langkah kaki yang ringan menembus malam. Sepanjang trotoar jalan di sekitaran Sastra hingga depan dan beranda gedung Rektorat kulihat banyak orang duduk berjejer rapi dan semuanya sedang berfacebook ria. Aku merasa bahagia mampu melawan diriku untuk terbebas dari virus mematikan (terurama otak) ini. Wajar ketika beberapa kakak menyampaikan kekesalan mereka terhadap pelayanan beberapa perusahaan publik yang menyebalkan akibat staff mereka lebih memilih dicandui facebook daripada melayani kostumer.

Sesampainya di PKM aku lansung tidur tenang dan sempat berucap dalam hati, Selamat malam Facebook. Kita tidak akan bertemu lagi hingga esok ketika mentari kecewa melihat aku mampu bangun pagi.

Advertisements