Facebook v.s Jurnal OL

Cerita ini bermula dari awal tahun ini. Kala itu aku masih teradiksi bermain FB, untung saja dah deactivated permanently, artinya skarang ga lagi.

Ada yang protes katanya saya ini mengacuhkan orang disekitar terutama mereka yang mendatangiku untuk sekadar bersilaturrahim gitu. Yah, aku ngaku deh kalo sperti itu. Pas FB ku kubunuh untuk slamanya aku datangi juga tempat mereka. ” You Know what? I got the same thing! diacuhkan slama sekitar dua jam. Sibuk ngutak atik jurnal, itu yang aku tahu.

Aku kemudian berfikir media baru ini ternyata memiliki kesamaan di antara bejibun perbedaannya. “sama-sama bikin kita mengacuhkan tamu kita, wkwkwkwkwkwkwkk.

Entah apa yang sedang terjadi, saya berusaha menjadi biasa saja. i didn’t mean to make annoying.

Advertisements

Sudut Ruang

Matahari menyengat menjilat embun yang masih lelap. Rerumputan merenggang melupakan nyenyak malam musim ini. Membuai setiap kelopak ilalang menjelang hari. Hmmmh…pagi seperti membisik bahwa siang nanti hujan libur, berwisata ke tempat lain. Kutarik langkahku meninggalkan pete-pete di sebelah tugu metal lancip di perempatan kampus. Keengganan muncul dari kedalamannya, aku tidak tahu apa yang akan kujalani setelah ini. Suatu kegiatan asing dipelataran yang baru saja kujejaki. Sebenarnya bisa saja aku memilih ke tempat yang menurutku lebih menarik. Dosa apa yang menghukum keputusan untuk terlibat dalam gulak ini. Sialnya aku percaya begitu saja buaian Senior itu.

Teman-teman telah berkumpul di kelas, menunggu dosen yang hadirnya selalu tidak tepat waktu. Kuliah terakahir untuk hari ini. Beberapa berbinar seperti akan mendapat hadiah, beberapa tampak lesu seperti aku. Ada juga yang sedih, mungkin semalam mimpi buruk melihat rerumputan tertawa riang. Terakhir kuketahui ternyata tidak mendapat restu Bunda untuk celaka bersama kami.

Ketika perkuliahan telah dimulai, aku seperti ditarik kenangan ke suatu tempat dingin berkabut di kaki gunung. Tidak sempat kucerna sarapan yang disuguhkan Bapak bersuara berat di depan kelas. Yang kusaksikan bukan suasana kelas lagi. Serpih-serpih memoria itu silih menghampiri. Kadang teman menembus terjangan hujan saat sore, terjatuh lalu ditertawakan. Ada juga yang berkumpul diperapian membantu api mendidihkan masakan dalam dandang tinggi. Sepintas kulihat dia sedang duduk laksana Raja dari atas baruga sedang menatap kearahku seperti akan menjejal hingga rongga terdalam perasaanku. Dia yang terpaut beberapa tahun diatasku kemudian hari kudapati selalu saja melakukan hal yang sama saat di Lembah Gunung sana.

Prosesi sejuta rasa akhirnya selesai menyisakan beberapa persambungan alur sama seperti yang akan terjadi tiga hari kedepan. Kerap dia terduduk di beranda itu, mamandang tajam setiap aku melintas. Entah apa yang dia inginkan dariku. Hal yang sukar untuk kuhindari, sekadar melempar senyum datar dan sapaan basi.

Gusar berubah menjadi seperti biasa saja. Bahkan telah menjadi kebiasaan dan cenderung mengadiksi. Serasa menagihku selalu hadir dihadapannya. Sensasi musim huan, selalu menyejukkan hari, menyuburkan lapang hatiku yang gersang kisar setahun.

Masih kuingat beberapa minggu lalu ketika dia menghampiri. Membawaku ke suasana yang menggetarkan. Padahal, dia hanya bertanya tentang asal daerahku, sekolahku dan beberapa pertanyaan standar lainnya. Aku menemukan sesuatu yang lain dibalik tatap tajamnya di setiap sudut hariku. Menjadikan jalanku di kampus mulai ditumbuhi bebungaan yang menunggu menguncup untuk mekar. Hanya dia yang bisa memekarkan kelopak bunga di lorong-lorong kampus yang kulewati. Hanya dia yang bisa mewarnai suramnya masa menjadi mahasiswa baru sepertiku.Tatapnya bukan bermakna kesialan. Tatapnya mencoba melindungiku, menyelimuti dan menjagaku. Seakan ingin berteriak apakah aku sedang baik-baik saja.

Tetap saja apa yang akan kuhadapi tiga hari kedepan belum tentu menarik. Kurasakan langkahku begitu berat menjajak bumi Tamalanrea pagi tadi. Aku tidak begitu tertarik mengambil peran tapi juga tidak memilih untuk menonjol dan menjadi pembicaraan senior-senior lalu menjadi musuh bersama. Aku gontai menjelang hari, tidak seperti pagi yang membakar di perempatan kampus. Belum lagi terpampang baliho kobaran api mahasiswa teknik yang siap menerkam dan memberangus setiap yang lewat di salah satu sisi perempatan.

Berangsur jemu berganti riak semangat. Ketika kulihat Dia duduk sendiri di tempat biasa, tetap menatapku. Dia tampak lain hari ini, seperti semangat siang yang juga terasa lain. Senyumnya lebih hidup, memberi sedikit daya untuk melalui onak kedepan. Aku pun bergumam disudut senyumku kepadanya, “Sa nda akan kecewakan Ki’ Kak”. Dari sudut ruang terdalam di matanya dapat kudengar suara melantun merdu berkata, ” Sa selalu bangga sama Kita’ Dek”. …..