Way Back Home

14735264
“Tuhan mungkin tidaklah sibuk karena Dia telah bermurah hati dengan menganugerahkan-freewill- dan mengobral janji bahwa gerak kita menentukan ke mana arah takdir akan menunjuk.”
“Lets find way back home”
Diskusi rapat internal Kontinum yang difasilitasi Fuhrer Alende membangunkanku dari tidur panjang. Perdebatan sengit Uranilovka, Ijha, dan Alissa Dita Manimpian seperti jalinan tambang menjadi jembatan menuju titik remang jalan “pulang”.
Lama rasanya timbul-tenggelam di lautan stagnansi beraroma “kafir”. Seperti hal ini –menulis-, sejak lama aku sepaham bahwa ini sesuatu yang penting. Dulu aku lumayan biasa menulis catatan harian, walaupun keterlaluan kalau sampai menyebutnya sering. Untuk waktu yang tidak bisa dibilang singkat, tanpa apologia, aku mengalami kelupaan yang sangat sering dan mematikan. Aku lupa menulis, lupa membaca bahkan lupa diri –mengapa aku disini?-. yah, aku akan memulainya lagi, mencoba merutinkan catatan perjalanan harian. Catatan tentang rekaman nilai tanpa harapan bahwa ini akan membuatku terekam dalam sejarah. Aku tidak berharap ini menjadi sesuatu yang begitu penting untuk orang lainyang akan ramai digunjingkan dimasa datang ketika aku telah mati. Sumpah haram jadah, ini lebih untuk diri sendiri.
Aku tahu penyakit bawaan yang diderita manusia akibat terlempar dari alam idea Plato ke alam dunia fana mawaddah warahmah. Adalah kelupaan yang akut sebagai penyakit yang jelas diidap setiap orang. Terlalu gampang melupakan moment yang memanusiakan apalagi perlakuan dosa. Menurutku, menulis setidaknya membantu kita untuk mengingat dan sedikit meringankan beban ingatan. Menulis bisa menjadi autokritik yang ampuh asal saja kita “mau” bertransformasi. Menulis bahkan mungkin menjadi aktivitas multiguna yang tidak tersedia di supermarket atau hypermarket manapun di seluruh jagad. Bersabar, ulet ,aktiv, awas, objektif, sahaja, idealis menjadi sedikit deretan dari selangit multigunanya.
 Praktis dua tahun terakhir aku nyaris tidak pernah membaca dengan sungguh. Efeknya seperti cermin ajaib yang jika ditanya siapa manusia paling bodoh didunia maka si cermin akan menjawab tegas lantang kalau itu aku. Aku tidak merasa pernah memiliki pengetahuan, yang aku tahu aku pernah ingat secuil pengetahuan tapi ironi bercerita bahwa sekarang aku menderita kelupaan akan itu. Bangunan pengetahuan yang sangat kecil di akalku telah habis terkikis angin bingun dan tergerus air waktu. Pengetahuan mungkin saja mirip semut yang akan datang terus menerus menghimpun dalam akal dimana gulanya adalah kontinuitas dan frekuensi membaca. Inkonsistensi menyebabkan kebodohan dan kebodohan yang paling mematikan adalah kelupaan, apalagi lupa cara membaca buku. Bagiku,mending belum tahu daripada lupa. Pengetahuan sepenggal menjadikan angkuh, dan pengetahuan mendalam, terstruktur dan integral pastilah menguatkan dan bisa jadi memanusiakan serta “keren” tentu saja.
 … serasa masih begitu banyak yang ingin kutulis, begitu banyak mestinya yang mampu kutulis tapi terlalu mudah aku lupa. Sepertinya tadi aku memiliki cukup banyak hal yang siapa aku tulis tapi tanpa permisi, sebagian besar pergi dari ingatanku. Mungkin kondisi sakit ini diperparah karena aku belum mampu untuk tabah dan tekun dalam menulis. Semoga besok aku tidak lupa dengan harapan dan sumpah yang tak terucap –masih tersimpan dalam hati-.
Ayo anak muda, bergeraklah!
04062010 @Rumah Dean
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s