Pernikahan Dwi

Aku mulai bersiap sejak pagi. Meninggalkan Lisa dan bergabung dengan yang lain di kampus. Sesaat kemudian meluncur ke perumahan NHP, ke tempat Groom, Kak Yusran. 
Karena satu dan lain hal, kami akhirnya beranjak duluan menuju daerah KIMA, melanjutkan survey yang sedang dikerjakan Kak Harwan, aku hanya menemani. Sesampainya di sana, setelah Kak Harwan tidak tampak lagi, aku menyetel mp3 player sambil menunggu. Beberapa kali ditegur satpam karena masalah parkir, akhirnya ada juga tempat parkir yang tersedia dan di izinkan satpam. Memang galak satpam di pabrik ini, menurutku begitu.
Setelah beberapa lama, sepertinya para buruh pabrik mendapat jatah istrahat dan makan siang. Mereka berhamburan keluar dari pabrik dan memadati sebuah warung makan di pojokan depan pabrik. Mereka tampak riang gembira. Para buruh yang semuanya perempuan sepertinya benar-benar menikmati waktu istrahat mereka.
Dalam hati aku bertanya, mengapa mereka kelihatan begitu riangnya? Apakah karena jam istrahat? Mengapa pula harus teramat senang jika ini jam istrahat? Ataukah ini karena sesuatu yang lain? Mungkinkah karena ini tanggal tua, sudah gajian? Apakah karena upah mereka besar? Atau karena kondisi kerja yang nyaman? Entahlah. Satupun dari sekian banyak tanda tanya itu tidak ada yang berakhir dengan perubahan menjadi tanda seru atau sekedar titik.
Akhirnya perihal kami di pabrik Plywood itu selesai. Langsung saja melaju dengan tujuan gedung resepsi di ujung jalan Alauddin, jauh yah? Sesampainya di sana, aku perhatikan banyak wajah lama yang baru aku lihat lagi. Beberapa teman-teman angkatanku di kampus juga terlihat dengan wajah exited atas perhelatan ini. Maklum, acara ini adalah resepsi pernikahan teman seangkatan kami, Dwi Agustriani.
Dari jauh, kulihat Dwi seperti spotlight, terang berbianar. Begitupun dengan pasanngannya. Dia tampak terang, cerah mengenakan gaun pengantin tradisional berwarna kuning hampir jingga. Ketiaka semakin dekat ke pelaminan, kulihat tipikal senyumnya, senyum yang bisanya dia tebar di lorong-lorong kampus saat dia masih kuliah dulu. Hanya saja, kali ini senyumnya sedikit berbeda dari biasanya. Dia tersenyum lebih bahagia!
Kerlap-kerlip pelaminan seakan menjadi pendukung dan penegas bhwa di tampak sangat cantik. Yah, aku menyelamati Dwi dan berkata dalam hati “ this day you looking most beautiful ever since”. Aku bersyukur dan turut berbahagia atas pernikahan salah seorang sahabat terbaik yang pernah kupunya.
Saat melangkah turun dari pelaminan, berbagai kilas peristiwa masa lalu berseliweran terlintas di benakku. Salah satu yang paling jelas bahwa saat dia masih kuliah, hampir semua KRS ku dia yang isikan. Dalam senyum, aku meretas ucapan terimakasih, semoga Tuhan selalu ada adalam pernikahan kalian dan semoga kebahagian selalu seperti hari ini.
Tentang pernikahan, aku selalu memiliki pertanyaan yang berkecamuk membingungkan seperti tanpa titik terang. Pernikahan, sebuah institusi yang melibatkan kehadiran banyak orang berkumpul, saling senyum dan mungkin basa-basi. Sahabat lama bertemu kembali, musuh lamapun berjabat tangan dan tetap tersenyum. Sebenarnya, aku tidak terlalu merisaukan kompleksitas semacam ini dari pernikahan. Adalah pertanyaan, “bagaimana jika nanti aku yang menikah?”, ini seperti sesuatu yang bagiku nyaris telah menjadi enigma dan rada utopia. Berbagai kalkulasi, berbagi aspek dari tetek bengek pernikahan dan rumah tangga menjadi misteri yang tak terpecahkan untukku.

31072010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s