Sniffing Glue

sumber: googleusercontent.com

Petang tadi, disela rerintikan hujan yang sepertinya enggan melepaskan pelukan eratnya kepada kota ini, sekumpulan bocah meringkuk di depan pertokoan yang telah tutup, sepertinya mereka adalah tukang parkir “khusus” malam hari.  Di tempat mereka nongkrong, kendaran parkir lumayan ramai, mungkin karena sepenjang  jalan Sungai Saddang Baru, warung Sari laut adanya hanya di situ.

Mereka berempat  saling duduk-jongkok berdempetan,  mungkin sekedar  memberikan  sedikit tanggap atas dinginnya udara hujan. Kutaksir umur mereka sekitar 7 sampai 9 tahunan. Tiga dari mereka memegang kantong plastik kecil dan satunya lagi erat menggenggam kaleng lem “Fox” ukuran sedang.  Sesekali diantara mereka menghirup udara dari dalam kantong plastik tersebut. Yah, mereka sedang “ngelem”. Anak sekecil itu ngelem?

Jalan sempoyongan karena “fly” tentu saja, tertawa dengan mudahnya dan sesekali melakukan “snapshouting”. Aku memarkir motorku dan segera mengambil tempat di warung yang parkirannya mereka tunggui. Saat makan aku terus kepikiran mengenai Sniffing activity itu. Aktivitas seperti ini oleh bocah seumuran mereka memang  telah sering kutemukan hampir di setiap sudut Makassar, khusunya di dekat pemukiman “lama” kota. Misalnya di sekitar rusun di dekat  gedung Celebes Convention Centre juga sering aku melihatnya. Pernah beberapa kali aku menyepa mereka, sekedar basa basi dan bertanya apakah mereka itu sekolah. Kebanyakan dari jawabannya adalah mereka tidak bersekolah, kalaupun bersekolah paling mereka di sekolah alternatif seperti “sokola” dan sekolah-sekolah rakyat informal lainnya.

Fenomena seperti itu di kota ini terbilang baru, sekitar 2 tahun terakhir. Sangat rock n roll, Ramones banget menurut ku, “Lets Sniffing Glue”! Tapi mereka masih sangat belia! Aku sedikit moralis berujar dalam hati, kenapa bukan susu yang mereka isap?

Kadang aku bertanya, knapa kalian tidak sekolah? “Tidak ada biaya”, katanya. Dapat uang darimana beli lem? “Dari parkir, ngamen dsb.”

Sebuah ironi murahan sedang kusaksiakn, tapi tidak lebih tragis dari gerakan MAKASSAR tidak KASAR ,  atau berbagai gerakan populis “lebay” lainnya yang juga lagi “trend”, setia seperti hujan.

Jelas mereka berasal dari keluarga miskin. Yang oleh Dg Kumis  dulu dijanjikan pendidikan gratis. Lalu bagaimana sampai tidak bersekolah? Saya mencoba membangun dua asumsi ceroboh yang sangat lacur. Pertama, mungkin mereka telah terdata (saya sedikit berpikir baik terhadap kerja pemerintah) tetapi penjual sepatu, seragam, tidak pernah “mendengar” kalo janji pendidikan gratis itu secara mutlak menjadikan mereka harus membagi percuma barang dagangannya. Kedua, mungkin juga karena Pak Daeng You Know Him sudah lupa, lebih keranjingan membangun kolam renang di Benteng Somba Opu guna memoderenkan arwah para pendahulu dengan memaksa mereka mengganti sarung kunonya dengan bikini terbaru, arwah mereka yang tumpah darahnya disana sebelum  tunduk dalam perjanjian Bongaya. “Pamapporang ka, ki pake sai kodong anne sempa bikini suapaya naciniki to tau bule nakani baji tommi tawwa Makassar, pake bikini mi kakek nenek na, supaya kota ta anne nikana tongi kota internasional ka (kayaknya semua ahli sejarah Bugis Makassar  sepaham bahwa pada abad-abad ke 15 bandar Makassar telah menjadi  salah satu bandar dunia dengan penduduk sekitar 30.000 jiwa dan salah satu ikonnya  adalah BSO. Lalu sekarang napak tilasnya adalah kolam renang baru dimana standar bermain dalam kolam adalah bikini? Hhhhmmm). Atau mungkin juga kemegahan Pocci na Indonesia telah memakan seluruh DAK, DAU, APBD dll yang mestinya untuk para bocah pengisap lem. Aku tidak ingin tahu di tempat lain, biar saja itu jadi penambah “nilai” tingkat prestasi Si BeYe super duper hyper narsis (tapi tetap Daeng You Know Him lah yang paling narsis diseluruh dunia tentunya).

Seandainya mereka memberikan uang  parkir itu kepada orang tua (kalau pun punya) mereka bukannya membeli lem, mungkin akan mengamankan stok beras hari ini. Tapi siapa perduli, hidup harus bersenang-senang selagi bisa, karena sinetron itu hanya ada di tv di mana di akhir cerita biasanya yang tertindas itu yang senang, dan jelas kulit mereka kencang,  putih dan mulus,  tidak kering nan keriput  seperti para kulit  bocah pengisap lem.

Apa yang tejadi, apakah hidup sebegitu kerasnya (memang sih…pajak, pajak, dan pajak. Coba saja setiap kita menghitung berapa pajak yang masing-masing kita setor kepada gayus setiap harinya. Kalau saya paling kurang RP 15.000, dengan perincian idealnya : rokok mini Rp 300/ batang, bensin non subsidi, warung makan, parkir, dan bayak lagi (saya sadar, bahkan tidak ada sesuatu apapun sekarang ini yang luput dari pajak, bahkan air dan udara sekalipun dengan sistem yang berlipat-lipat misalnya sebatang coklat Silver Queen, pajak petani coklat, pupuk nonsubsidi petani coklat , pajak pedagang coklat, pajak mobil pengangkut coklat, pajak pegudangan coklat, pajak pengolahan bahan baku coklat, pajak pabrik coklat silver queen, pajak distribusi silver queen, pajak mall/ mini market penjual silver queen —- yang semua itu dibayar oleh 2 pihak saja, pembeli silver queen dan petani coklat, bagaimana bisa? Itulah pajak-pajak nilai “yang terus” tambah) dan kebanyakan dari pajak itu hilang untuk hukuman sekitar 7 tahun penjara,  tapi bukan untuk menyekolahkan para bocah pengisap lem . back sound :The Beatles- The Taxman:. Sama juga dengan air aqua, galon pondokan, air es dll. Sama juga dengan pajak udara melalui tingginya harga kayu, pajak tissu, kertas, polywood, dsb). Hidup memang berat dalam hukum sebuah negara seperti Republik ini.

Apa yang negara kembalikan kepada kita? Berita kriminal di tv dimana aparat selalu protogonis? Jalan rusak berlubang? Atau mungkin negara  mengembalikannya dalam banyaknya pembangunan mall di Makassar yang jelas bukan tempat sekolah atau nongkrong para bocah pengisap lem, padahal populasi mereka juga tidak bisa disngkirkan walau dengan aturan pelarangan memberikan sumbangan di jalan (setelah pemiskinan terstruktur, institusi negara kemudian mencoba “cuci-tangan” dengan genocide kaum miskin kota).

Lalu apa butuhnya  kita terhadap negara? Tentu saja untuk membayar pajak, mengurus KTP dan terwakilkan di Piala AFF.  Dan untuk menggaji Papa ku juga rupanya hehehehe.

@Light House 4:31 am, Jan 25, 2011

Pojokan Negeri 1001 Masalah, Selamat Datang

sumber: graffhead.com

Ruang ini penuh harapan. Sengaja aku memilih di bagian sudut dan tidak terlalu luas. Aku kira, semoga karena ini hanya di sudut, jadinya yang datang ke sini benar-benar yang ingin masuk ke dalam. Dan yang paling penting semoga pengawasan dan lampu sorot tidak menjangkau tempat ini.

Meski demikian, sesekali kedepannya saya tetap akan memublish sentilan tidak penting di dinding-dinding etalase pertokoan dan gedung-gedung advertising.

Sebenarnya blog edisi sebelum negeri1001masalah ini ada, hanya saja saya merasa malas untuk mengurusnya. kebanyakan tulisannya menyoroti masalah personal saja. saya merasa tidak begitu tertarik lagi membincangkan hal-hal yang terlampau persona. tetapi jika ingin berkunjung, silahkan saja. antedot adalah pintu depannya.

Semoga semua mimpi ini bisa kuwujudkan.