Please, Please, Please Let Me Get What I Want (Der Dekadent Betrachtungsweise)

          Sebenarnya judul “note” ini persis sama dengan judul lagu yang dipopulerkan oleh The Smith yang tentu saja vokalisnya adalah Morrissey. Lagu yang bagus menurut saya, apalagi dengan vokal dan ketenaran Morrissey sepertinya selalu lebih penting dari apa yang dia sampaikan. Saya merasa sangat keren mengetahui tentang lagu-lagu dari pulau Britania dimana imperium tertua masih bertahan hingga kini dan paling baik dan penyebar kebaikan yang terutama, yang saya maksudkan adalah U.K., kerajaan Inggris Raya. Meraka sangat terkenal baik karena berhasil mendidik bangsa bar-bar Indian di Utara dan bangsa kolot A-(b)origin di selatan. Welcome to England mates! Home of saints for over the centuries.

          Saya mencoba mengurai signifikansi dari lirik lagu ini. Menarik bukan, berbicara tentang musik, tentang The Smith, Britpop atau tentang Western World? Sesuatu yang dengan gampang akan membuat banyak orang tertarik jika menceritakan kilau kemilau musikalitas Inggris sehingga menjadikan saya berfikir bahwa semua orang di dunia tahu siapa Morissey. Ketepatan yang teramat fatal dari seorang yang memang kadang bereaksi dan bersikap fatalis seperti saya. Dengan kategorisasi pengetahuan atau wawasan yang sama sekali teramat sangat penting seperti ini menegasikan keberadaan orang-orang yang tidak tahu siapa itu Morrissey, bukankah saya berkata semua orang tahu siapa Morrissey? Seperti penjaja birahi di pinggiran jalan, seolah-olah atau sedang berpura-pura mengetahui semua tentang apa yang dia ceritakan untuk menyenangkan pelanggan, saya melakukan itu! Tidak, Garry, tourist dari London itu tidak tahu siapa Morrissey. Tanda tanya? Siapa lagi selain Garry, anak sekolah minggu mungkin, preman jalanankah, sebagian besar ustadz, dan penyanyi orkes juga mungkin tidak tahu. Mereka benar-benar mengalami kerugian yang nyata karena tidak tahu siapa Morrissey.

          “Good time for a change. See the luck I have can make a good man turn bad.” Mari berbagi cerita, sehingga semua orang didekat kita berubah menjadi seperti yang kita inginkan. Mari bercerita tentang gilang gemilang Britpop supaya kita melupakan tempat yang terlalu menjemukan ini, anggap saja sarabba atau ballo itu rasanya seperti aroma teh di pinggiran sungai Thames dibawah langit sisa kejayaan zaman Victoria. Mari melupakan tanah ini, yang konon mewariskan pahit, duka serta kebencian selama berabad-abad. Lihatlah, paving block trotoar Abbey Road, mereka memakannya laksana makanan paling enak karena dia berasal dari Inggris. Para pendahulu kita ada juga yang terlanjur keren karena banyak dari mereka yang senang bergaul dengan bule-bule Eropa yang pada saat itu sedang plesiran menyebarkan kebaikan dan menawarkan persahabatan kepada bangsa kita. Para Kiyai, Pendeta, Petapa dan bangsawan serta pengikutnya itu terlalu bodoh menolak kebaikan memakan roti seperti orang Eropa. Mereka terlalu percaya dengan perkataan kotor Tuhan, yang menjadikan kita tidak mungkin menemukan kemegahan taman bermain seperti di kota Blackpool di Barat Daya Inggris karena tidak mungkin mereka mampu membangunnya di negeri ini. Lihatlah pemerintah kita sekarang, mereka itu sudah berpikir sangat maju, jeli dan cerdas, mengganti situs benteng Somba Opu dengan taman air untuk bermain…mereka jauh lebih cerdas dari pemerintah zaman dulu yang mencoba membentengi tanah kita dari kebaikan perdagangan dan pencerahan ala Eropa yang tidak perlu lagi berteman dengan Tuhan. Tentu saja kita tidak butuh benteng itu lagi, dunia barat tidak akan menyebarkan lagi kebaikan menggunakan meriam. Mungkin kita lebih membutuhkan benteng yang tebuat dari tumpukan katalog wisata dan menu-menu makanan yang bisa membuat kita cerdas dan lebih beradab. Atau mungkin kita memang tidak pernah butuh benteng sama sekali, aku menyesal mengapa leluhur kita itu harus membentengi negeri ini dari kebaikan monopoli dagang dan efek baik kolonialisme-imperialisme lainnya yang akan merambah tanah kita sebagai tawaran persahabatan orang-orang Eropa. Atau kita yang terlampau sial lahir di belahan bumi yang terpisah jauh dari benua biru? Aku bahkan malu mengaku sebagai bagian dari bangsa ini, bangsa yang senantiasa memasang benteng untuk setiap kenikmatan, kebaikan dan kemajuan ala masyarakat di tanah Prince William. Yakinlah bahwa benteng itu tidak memiliki makna apa-apa selain tumpukan batu yang bisa jadi malah mencederai mereka yang dulu membangunnya. Tidak mungkin benteng itu bermakna transenden, atau mistis, apalagi membentengi hasrat, budaya atau berbagai hal lain yang memang tidak bermakna butuh akan benteng batu.

        Seandainya saja nenek moyang kita cukup cerdas, mereka tidak perlu singgah di Timur Tengah ketika sedang berlayar ke barat untuk menjajakan buah palanya hingga ke pelataran Buckingham Palace. Apa lacur, mereka malah belajar tentang agama-agama yang lahir di jazirah itu yang sampai kini selalu dituduh sebagai kaum kolot, penyebab kekacauan, perang dan terorisme. Mereka belajar ilmu-ilmu nujum yang menjadikan air bisa menyembuhkan sakit perut, mengusir setan dan menyesatkan kerasukan roh baik. Mereka percaya tahyul bernama surga dan neraka. Kemudian mereka belajar membentengi diri dari budaya memakan pasta dan roti karena mungkin mereka malas menggiling beras menjadi tepung agar mereka bisa membuat pasta dan roti seperti yang mereka liat di emperan kaki lima di sekitar kastil Duke of Cambridge. Mereka membuat benteng itu sekokoh bentangan tembok Hadrian dari Wales hingga ujung Birmingham di Midlands Britain. Maka mereka pun mulai memitoskan bahwa kebaikan bangsa barat itu tidak cocok dengan kebodohan kita. Mereka mengatakan bahwa bukan agama yang menjadi penyebab perang, tetapi kebaikan orang-orang bule-lah yang menjadi penyebabnya. Bahwa mereka membutuhkan minyak untuk digunakan sebagai bahan bakar menghangatkan perapian, karena di utara itu sangat dingin. Kemudian menuduh dengan mengarang cerita dunia peri bahwa di akhirat nanti mereka akan mendapatkan api berlebih dari panasnya makanan seperti paving block yang disantap untuk mengusir dingin yang menjangkiti alam tempat tinggal mereka sepanjang tahunnya. Bukankah surga yang diceritakan leluhur itu sejuk, nyaman dan segala sesuatunya tersedia lalu dapat diperoleh dengan gampang secara swalayan seperti di mall-mall, sehingga mereka yang tinggal di daerah kita ini akan masuk surga karena Tuhan takut terhadap leluhur kita dan Dia terlalu lelah dikutuk dan dianggap lebih buruk mengurusi cuaca dibanding badan meteorologi, iklim dan geofisika sehingga panas di tanah ini menjadi alang-kepalang. Leluhur mendongengkan bahwa sumber daya alamlah penyebab perang itu selalu berkobar, tapi mereka menjadi picik dengan menjadi anti-materialists sampai harus menghalangi dan bermusuhan dengan para pencerah dari utara yang butuh bahan makanan, minyak dan pasar untuk menjual barang-barang mereka yang diproduksi melebihi kebutuhannya. Leluhur kita terlalu pelit, mereka enggan berbagi dengan bangsa Eropa. Lebih parah lagi, leluhur itu menyebarkan ajaran sesat dimana Tuhan menjadi inti ceritanya. Untung baik ada orang Eropa yang segera sadar bahwa Tuhan itu terlalu banyak mengekang, terlalu mengatur dan menghalangi kemajuan peradaban. Selama 9600 tahun peradaban jalan ditempat karena Tuhan terlalu berkuasa. Lihat sekarang hanya butuh sekitar 400 tahun untuk mencapai kemutakhiran zaman seperti hari ini. Jayalah bangsa Eropa, jayalah pencerahan, jayalah kemandirian yang terbebas dari Tuhan.

         Saya senang melihat teman-teman berbagi cerita sehingga menjadi semacam Opium yang mereview band-band Britpop sekaliber Stone Roses yang perlahan-lahan akan menggantikan buruknya selera musik bangsa ini sebagai sisa dari bodohnya leluhur yang mewariskan mental balada yang sekarang telah mendarah daging di tubuh bangsa ini mewujud kedalam dendang tembang melayu. Kita ini suka damai, maka janganlah menjadi penyuka lagu melayu tapi berlaku kasar. Jangan ulangi perangai leluhur kita yang kolot itu, yang suka melawan dan menentang kebaikan dan gilang-gemilangnya root musik Britpop sampai harus membangun benteng setebal tembok Fort Rotterdam. Ingat, kita harus menirukan orang-orang Makassar yang tidak kasar sebagai contoh aksi kreasi kaum intelektual muda kita yang brilliant, penyayang sesama, cinta damai, produktif, edukatif, visioner, maju, useful, efektif dan efisien. Saya salute dan angkat topi akan hal itu. Sekali lagi, mari berbagi cerita sehingga setiap orang yang dekat dengan kita berperilaku seperti yang kita inginkan. Semoga para supir pete-pete ditahun-tahun mendatang mulai memutar lagu-lagu Manic Street Preacher, Lush, atau Radio head. Semoga para tukang becak mulai menyukai nikmatnya makanan yang bernama paving block yang berasal dari trotoar Abbey Road. Mereka hanya butuh sekali mencoba, selanjutnya mereka akan menyukai kebaikan makanan itu, bukankah leluhur kita suka makan kambing karena terlanjur lebih dulu melihat orang-orang Timur Tengah makan kambing. Seandainya saja mereka lebih dulu melihat bangsa Woad memakan pasta, roti dan paving block…bisa jadi sekarang ini kita jauh lebih maju dan beradab. “Please let me get what I want this time!”

“Haven’t has a dream for a long time, see the luck I have can make a good man turn bad.” Seandainya leluhur kita menyukai Britfolk, maka bisa saja kemarin negara kita yang menang menjadi juara di piala AFF. Kenyataannya orang Malaysia lebih bisa berbahasa Inggris dibandingkan kita, sehingga mereka lebih faham bagaimana komentator ESPN menjelaskan jalannya pertandingan Liga Premier Inggris yang tentu saja lebih mendidik dibandingkan komentar Bung Towel di MNCtv. Lihatlah orang-orang Malaysia itu, mereka tahu tentang Ocean Colour Scene, Oasis, atau Super Furry Animals. Mereka mendengarkan Britpop dan tidak lagi menyanyikan lagu Melayu sehingga penjual DVD bajakan di MTC kehabisan stock jualan band-band Malaysia. Malaysia berhasil menceritakan musik kepada bangsa kita sehingga sekarang kita yang meramaikan produksi tembang-tembang Melayu. Mereka juga tidak lagi suka makan kambing, dan mulai memakan paving block dari Abbey Road sehingga mereka sekarang lebih maju dan beradab. Sebagai teman yang baik, Malaysia telah menjadikan kita seperti yang mereka mau, memproduksi lagu-lagu Melayu. Maka, sebagai teman yang baik, ceritakanlah tentang Britpop kepada teman-temanmu sehingga mengikuti Malaysia yang mulai maju dan beradab. Ceritakan pula bahwa paving block itu lezat sehingga mereka mau mencobanya dan akan menyukainya. Mereka pasti tertarik, tergantung se-seksual apa engkau beraktorika dan selucu apa engkau menirukan Sule’ Van Java. Yakinlah bahwa gen kebodohan yang merupakan bawaan dari leluhur masih dominan dalam diri teman-temanmu sehingga mereka akan mudah melakukan seperti apa yang kau inginkan. Ceritakanlah kepada temanmu bahwa Britpop itu seindah pesisir Lanceshire, dan paving block itu senikmat kehidupan The Beatles.

Seandainya leluhur kita lebih lama bergaul dengan orang Inggris, mungkin kita yang akan menjuarai piala AFF kemarin. Malaysia pantas jadi juara, saat ini mereka bersahabat baik dengan tahta Ratu Elazibeth yang masih dan selalu menyebarkan kebaikan di seluruh dunia seperti di Iraq, Afghanistan, Gaza Strip dan West Bank, bahkan di negara kita. Sangat wajar Inggris melakukan itu, negara-negara itu adalah negeri para muslim yang selalu dituduh kolot, penyebab perang, biang kerusuhan dan terorisme. Kita dukung saja Inggris, bukankah kaum beragama itu kolot? Wajar jika mereka diajari kebaikan yang sebenarnya. Bukankah keberagamaan itu selalu menghalangi kita untuk memakan pasta, roti dan paving block seperti yang dihidangkan dimeja makan Prince William? Kita ingin maju, negeri orang-orang beragama selalu menghalangi kemajuan karena mereka bertuhan. Biarlah saat ini mereka dididik untuk mencintai kedamaian oleh Inggris. Mestinya bangsa-bangsa kolot itu mencontoh orang-orang Makassar yang tidak kasar yang mencintai kedamaian ala Britpop, menyukai kelezatan bistro segurih paving block, dan akrab karib dengan orang-orang suci semisal Lhaksmi Mittal, George Soroush, maupun Warent Buffet .

Bisa jadi memang benar agama itu kolot, penyebab perang dan dalang terorisme. Makanya mari kita menyukai sepakbola Inggris yang berhasil mengganti penggunaan hari minggu yang biasanya untuk beribadah bagi orang Nasrani menjadi pertandingan Big Match EPL Super Sunday. “We don’t celebrate Sunday in Church anymore, we celebrated it in football stadium. Negeri Inggris memang sangat maju dan beradab. Dibandingkan bertindak konyol dengan menuhankan sesuatu yang tidak mungkin dilihat dengan mata kepala, lebih baik menuhankan bola yang merupakan benda yang memiliki bentuk paling sempurna, bola itu bundar. Daripada mereka menyayikan kidung jemaat yang sangat agamais dan bersahabat dengan Tuhan, maka tentu saja lebih baik menyanyikan musik Britpop yang meniadakan Tuhan dalam makna liriknya dan chants tim sepakbola yang penuh semangat dan kadang amarah. Yang paling mutakhir dari kemajuan mereka adalah fakta bahwa memakan paving block itu telah menjadi kebaikan yang mendunia. Apalagi sekarang ini standar etika dan moral yang paling baik adalah tergantung seberapa hafal engkau dengan nama pelaku industri kebaikan sepakbola, seberapa banyak koleksi band britpop yang kau miliki, dan di booth mana engkau pernah memakan paving block yang terlezat. “We participate, You participate, They Profit.” Sekali lagi, berbagi ceritalah kepada teman-temanmu sehingga mereka bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Demi kemajuan dan peradaban, saya memang sepakat bahwa Tuhan telah lama mati semenjak paving block enak dimakan. Saya juga sangat sepakat bahwa agama terbaik hari ini adalah agama ketidak ber-agama-an, jika Tuhan yang disembah adalah bentuk sempurna bulat, kotak atau segitiga. “Please, let me, let me get what I want this time”

d.k.d.n

awal Juni

Ruang Dapur Sepakat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s