SNMPTN DAN PERTARUHAN MIDDLE CLASS

Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri tahun ini seperti sebelum-sebelumnya menjadi suatu tradisi industri akademik tahunan skala nasional dimana harapan dan cita-cita personal peserta dan harapan keberlangsungan negara dipertaruhkan. Tidak menutup kemungkinan, ratusan atau bahkan ribuan peserta seleksi tidaklah pernah memikirkan akan pendidikan yang sebenarnya atau sekadar bertanya akankah kelak kita akan mendapatkan pendidikan yang layak. Bisa jadi motivasi untuk benar-benar menempatkan diri dalam pemilihan fakultatif keilmuan dengan tujuan benar-benar untuk belajar telah menjadi butir-butir serpihan dandelion yang beterbangan ke angkasa di musim panas alam kelupaan. Demi menceburkan diri dalam pertaruhan dan peruntungan akan pelabelan status sosial yang menjadi modal utama memasuki industri yang lebih besar yaitu dunia kerja maka siapa yang butuh jawaban lebih. Pilihan telah jatuh pada jurusan yang memiliki peluang kerja tinggi. Kehidupan negara tentu saja sangat tergantung terhadap keberlanjutan produksi tenaga kerja yang akan mengisi setiap sudut dunia kerja yang menyokong keberadaannya.

Beberapa waktu yang lalu, segmen berita stasiun-stasiun televisi nasional mengabarkan tentang seorang anak yang lulus ujian nasional sekolah menengah atas tahun ini dengan predikat menyandang nilai evaluasi tertinggi ternyata tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi karena alasan kemampuan ekonomi. Apakah SNMPTN yang secara online bisa diakses siapa saja di dunia maya kemudian menjadi sesuatu yang benar-benar bisa diakses dalam dunia nyata? Samar-samar selalu terdengar dengung suara pemerintah bahwa penaikan standar nilai nasional baik itu ujian nasional dan SNMPTN adalah untuk menjaring putra-putri terbaik bangsa. Tetapi tidak pernah terdengar sistem yang ada itu bisa diakses oleh siapa saja. Hanya mereka yang mampu membayar yang berhak mengikuti seleksi ini. Lalu, kita tidak akan menegok kebelakang mencari dimana dasar-dasar konstitusi berdirinya negara ini berada. Undang-undang itu biasanya memang bukan untuk kaum lower class. Hari gini, Siapa sih yang peduli dengan si miskin. Mungkin untuk membayar uang pendaftaran SNMPTN ujian tulis yang kurang dari dua ratus ribu rupiah bisa menjadikan keluarga mereka harus menanggung lapar untuk beberapa hari. Maka jangan pernah berfikir dia akan mendaftar pada jalur SNMPTN JPPB atau apalah namanya yang tidak disubsidi oleh negara. Ternyata digitalisasi SNMPTN tidak akan pernah menjadi jawaban kepada si miskin untuk memperoleh kesetaraan akses terhadap pendidikan seperti yang kabarnya berlandaskan kemudahan akses dan kesetaraan. Terlampau banyak orang miskin dinegeri ini, yang menutup setiap kemungkinan akan adanya jalur bea siswa yang benar-benar membebaskan pelajar dari berbagai biaya-biaya.

          Survive for the fittest, kata-kata bapak evolusi Charles Darwin selalu saja mendapat tempat yang layak dalam kondisi kehidupan hingga hari ini. Betapa tidak, dunia pendidikan kita misalnya, sepertinya tidak mungkin mengelak untuk mengamini kalimat tersebut. Ketua panitia pusat SNMPTN melalui salah satu media nasional mengatakan bahwa pendaftar SNMPTN tahun ini hampir mencapi 800 ribu orang. Sementara itu daya tampung 60 universitas yang ikut dalam SNMPTN tidak mungkin mewadahi jumlah sebanyak itu. Belum lagi pembagian kuota pada sebagian besar universitas ternama ke dalam berbagai model penerimaannya yang melulu berlasan bahwa mereka menginginkan calon mahasiswa yang benar-benar berkualitas semakin mengurangi peluang lulus melalui SNMPTN. Universitas Gajah Mada setidaknya memiliki tujuh jalur masuk yang mana SNMPTN menjadi jalur dengan biaya pendaftaran terendah. Kuota untuk SNMPTN sendiri pada universitas-universitas ternama itu umumnya kurang dari 30 persen yang semakin mempertegas bahwa peluang untuk menjadi mahasiswa pada universitas-universitas ternama itu sangatlah kecil. Hanya yang “cocok” yang akan terpilih.

Betapapun regulasi mengenai komersialisasi pendidikan seperti RUU BHP dibatalkan oleh wakil rakyat yang kalah perang jalanan melawan konstituennya, tetapi bukan berarti “pengaburan” aturan ini tidak mampu dibaca oleh pihak-pihak yang menjalankan industri dunia akademik. Universitas-universitas tidak pernah mendapat teguran mengenai pengadaan berbagai jalur masuk yang beberapa diantara menembus nominal ratusan juta rupiah untuk uang pendaftarannya saja. Inilah jualan paling menguntungkan yang diproduksi oleh lembaga-lembaga pendidikan. Di sisi lain, dalam masyarakat kita pengakuan terhadap sumber-sumber pengetahuan yang hadir bukan melalui dunia akademik selalunya tidak diberi tempat. Telah menjadi common sense di dunia akademik bahwa profesor-profesor di negeri ini tidaklah produktif dalam berkarya. Jurnal-jurnal ilmiah yang dihasilkan oleh dunia akademik bisa dihitung jari di negeri ini. Sementara berbagai argumentasi maupun hasil penelitian-penelitian yang bukan diproduksi oleh dunia akademik paling-paling mendapat apresiasi yang terlayak jika dipandang sebelah mata. Lalu apa yang bisa dilakukan negara untuk menjawab persoalan-persoalan semacam ini. Kondisi seperti ini sepertinya terpelihara baik untuk stabilitas industri pendidikan. Belum tentu ada peserta SNMPTN yang peduli atau setidaknya mau tahu akan hal seperti ini.

Kondisi dunia pendidikan yang begitu buas tidak pernah menjadikan angka pendaftar SNMPTN mengalami penurunan jumlah. Tantangan dunia kerja menjadi alasan dominan penerimaan kenyataan ini. Kita semua harus bersekolah yang tinggi guna memperoleh ijazah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, walau kadang tidak sesuai. Permasalahan mendasar kehidupan seperti ketahanan dan kemandirian pangan secara nasional belum tentu menjadikan pendaftar SNMPTN yang memilih fakultas pertanian bercita-cita menjadi petani. Banyaknya pegawai-pegawai bank dan lembaga-lembaga pembiayaan berstatus sarjana pertanian bisa jadi menjadi alasan mengapa pemerintah kita sangat senang menimbun keuntungan dari kegiatan mengimpor bahan pangan. Jelaslah bahwa dunia pendidikan kita hanyalah salah satu fase yang harus dilewati middle class untuk mempertahankan kondisi kehidupan yang layak. Dalam sistem besar seperti ini, lower class akan selamanya memiliki akses yang terbatas untuk merubah nasib dan upper class akan semakin nyaman dengan pertambahan profit dari semua proses yang terjadi. Negara yang bercita-cita untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyatnya dengan bisa hidup langgeng untuk waktu yang lama karena pewujudan harapan-harapan itu tetap berada di garis yang sepertinya tidak berujung dalam sistem seperti ini.

d.k.D.N

akhir Mei

Kamar Pelita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s