The Cangqe Saga Part I

Sunset di Kepulauan Pangkep

Mengingat Kenangan Melupakan

Aku mampu berujar bohong kepada rerumputan, bercerita tentang kekarnya pohon-pohon besar perkasa menantang badai. Hanya saja, rumput mana yang akan percaya jika melupakan sebagian jiwa bisa menjadi kebanggaan. Aku tahu, tidak jarang pohon tumbang oleh belaian lidah angin. Sebagian lagi akan layu dan sebagian dari yang layu mengering lalu mati. Maka ijinkanlah aku menjadi yang layu untuk segar kembali. Ijinkan aku melalui badai mendapati keheningan pagi bersama kenangan yang tidak lagi menghempasku seperti badai siang kemarin.

Aku menyisakan sesak pada sebatang pohon kenangan di tengah-tengah pulau Cangqe. Sesak ini memang tidak semestinya menjadi sesak untuk orang lain. Sesak ini adalah kenanganku sendiri, kenangan besar bagiku yang mungkin tidak akan semegah roman Dg. Abu. Sesak ini mulai menjalar mengurangi kadar air dalam jaringan daun-daun ingatanku. Menjadi kesengajaan untuk mengatakan kebetulan saja teman-teman sedang akan berangkat ke Cangqe. Kesengajaan kebetulan ini lamat-lamat memekatkan hasrat untuk melupakan, menghapus kenangan. Sesuatu yang kelihatan dramatis dan sepertinya memang sengaja didramatisir. Kebetulan sengaja ini sebenarnya belum meyakinkan ku apakah aku mmampu menghapus kesan kenangan jika aku benar-benar menguliti pohon itu atau apakah ini benar-benar sangat penting. Aku mungkin sedang ingin melihat keluasan cakrawala dan kedalaman laut, itu saja. Aku harus ke Cangqe, aku akan ke Cangqe.

Entah berapa penulis tenar yang telah mematri kisah Dg. Abu menjadi kemilau prasasti dalam etalase kaca modernitas. Entah berapa penulis naskah yang mengurai kepedihan Dg. Abu kedalam urai-urai spektrum tabung cahaya. Yang aku yakini, akan menjadi perjumpaan menyenangkan melihat Dg. Abu tergelak dalam tawanya yang benar-benar tulus. Aku senang berbincang dengannya untuk tertawa. Aku merasa selera humor Dg. Abu sama rendahnya denganku, kami akan tertawa terhadap kelucuan hidup semestinya. Karena aku sangsi kalau Dg. Abu akan mengerti selera humor yang tinggi ala OVJ atau persuasi komersial minuman pemicu detak jantung sama seperti aku yang kepayahan mengeja kegelian yang diperankan Sule. Seperti sebelumnya, aku berusaha tidak akan meninggalkan kesan yang akan membebani pikiran Dg. Abu, lagipula mimpi apa yang bisa kubagi dengannya tentang meriahnya hidup. Seperti aku berusaha melupakan kepedihan, aku pun selalu berusaha agar Dg. Abu tidak perlu mengingat namaku atas nama janji-janji.

Mencacilah semampumu, boleh saja kau mengolok semua tentangku. Tentang kenangan-kenanganku, melupakannya bagiku sama halnya dengan mengingatnya terus-menerus. Memakilah sekuatmu, kau bahkan boleh bunuh diri dalam selera yang paling rumit. Sedikit saja yang ingin ku muntahkan ke dalamnya laut, aku tidak terlalu senang mengunyah hidangan cepat saji, termasuk makanan, minuman, nyanyian, humor, tontonan, perayaan tragedy, sensualitas, seksualitas bahkan sensasi. Kau boleh memasang tangga hingga ke awan kegirangan atas percobaan-percobaan konyol yang kulakukan. Esok hari semua akan menjadi kenangan yang siap dilupakan. Lagi-lagi lupa bahwa semua-semuanya berasal dari dalam diri sendiri. Kenangan pun sebenarnya adanya dalam diri bersama kepedihan, kesenangan, cinta dan kebahiagaan.

Keberangkatan Perjalanan

Suatu kelumrahan jika setiap perjalanan meniscayakan syarat berupa awalan-awalan. Kesenangan untuk jelata selalunya berupa sudut-sudut batu akik yang tidak melimpah seperti udara. Persiapan-persiapan biasanya berakhir pada kelupaan yang sama jika dibaca sebagai lalai untuk percampuran mimpi-mimpi.

Mari kita berangkat dan melihat kenyataan tentang gaya hidup sebenarnya. Seperti inilah humor rendahan yang mampu memuaskan seleraku. Humor bagiku adalah benturan-benturan pertentangan nyata ketika menemukan panggungnya. Lucu bagiku mengagumi elegannya kamar-kamar hotel, beningnya pintu-pintu swalayan, wanginya pengharum kamar mandi dan sterilnya plastic belanjaan. Sementara kitab lupa mengalami kelupaan mengajarkan bahwa sebagian besar hal-hal memiliki dua sisi. Jika ada yang elegan, bening, harum, wangi dan steril lalu mengapa harus ada penolakan terhadap kerendahan, buram, busuk dan kekotoran sebagai sisi lainnya. Siapa yang paling banyak menyumbang untuk kenikmatan-kenikmatan yang tertolak itu. Tidak mungkin Dg. Abu karena aku tahu dia tidak ingin dan mungkin belum pernah merasakan dinginnya semburan udara dalam swalayan. Sementara kanal ini tidak mungkin dan tidak akan pernah bersumber dari dapurnya. Tentu saja sumbernya dari dapur-dapur pemukiman dan setiap bangunan yang tertanam di kota ini juga. Memang benar bahwa yang paling busuk itu berada di ujung kanal sebelum muara, serupa halnya bahwa orang-orang kecil akan selamanya dipandang rendah karena mereka mendapat swaka istimewa untuk harus selalu merasa nyaman menikmati sisi buruk dari bencana perkotaan dan gaya hidup orang-orang kota dimana mereka hampir tidak memiliki andil sebagai penyumbang keburukan itu. Seperti busuk dan kotornya kanal di Poetere ini bagai kepedihan yang berusaha dilupakan oleh kelas menengah ke atas dari masyarakat perkotaan yang lagi-lagi mewajarkan bahwa itu layak bagi orang-orang kecil.

Salah Satu dermaga Pulau Karanrang

Aku terlampau bahagia dengan humor paradoksal pelipur kerendahanku. Perang kelas itu punya potensi untuk mewujud. Ketika pendidikan formal menjadi satu-satunya cara melanggengkan dominasi kelas, aku melihat kebencian dari kelas tidak terdidik formal seperti bara yang mulai membakar sekam. Karl Marx tidak butuh menjelaskan terlalu jauh bahwa sebenarnya kelas sosial itu bukan hanya persoalan ekonomi belaka. Tetapi juga menyangkut konsumsi wacana dominan yang selalu menciptakan jarak antar setiap hal termasuk persepsi antar kelas terhadap mereka yang bukan kelasnya. Andai saja kedua gadis kecil itu terbiasa dengan sarapan dan cerita meja makan seperti orang-orang kota, mungkin saja aku tidak akan menemukan hal-hal aneh di balik matanya ketika menatap ke arahku. Aku menemukan kengerian dan ketakutan dalam bening mata mereka terhadap pemaksaan cara kita memandang mereka. Suara sumbang dan kalimat sinis dari ibunya kadangkala berupa benteng untuk melawan paksaan kita menilai hidup mereka yang sering mendiskreditkan sesama. Aku mendengar salah seorang dari mereka berkata “oh mahasiswa, ku kira mahasiksa”, aku seperti berada di negeri antah berantah. Memang benar, humorku rendah karena aku suka belajar tentang kerendahan yang sederhana dari kedalaman dan kurang tertarik berpikir berputar-putar untuk mencapai ketinggian yang kadang dirumit-rumitkan termasuk selera humor.

Yah, aku boleh dilabeli barcode sebagai seorang esensialis karena aku memang tidak akan mungkin mengakui bahwa pohon plastik yang ditanam dalam mall-mall itu sama dengan pohon sebenarnya. Pohon plastik itu diseolah-olahkan sebagai banyak hal, bisa peduli lingkungan, bisa keliaran alami, bisa juga penaklukan terhadap dunia. Sama halnya berusaha memastikan kepemilikan kenangan terhadap prestise-prestise kita yang mampu menjangkau hal-hal yang jauh dengan resiko tingkat tinggi melalui pemenjaraan kerang kima kedalam botol-botol sesak yang sangat kecil jika dibandingkan luasnya lautan sebagai tempat semestinya mereka berada. Seperti biasanya, alam akan menanggung semua resiko dari tingginya persepsi manusia akan gaya hidup. Sebenarnya aku tahu aku berada di mana tetapi pura-pura lupa dan berandai-andai sedang berada di dunia barat yang telah terjangkiti penyakit individualis selama ratusan tahun. Penyakit yang mewajarkan langgengnya tuan-tuan dan hamba-hamba yang tentu saja bukan Tuhan. Penyakit yang menganggap semua hal telah siap saji dan lupa cara menyajikan karena itu tugas pelayan. Silahkan kecewa dan mulailah membenci karena aku sedang sangat senang seperti saat-saat jatuh cinta. Bukankah telah menjadi satu paket jika persekutuan itu selalu digunakan untuk menyenangkan sekutu, saat ini rasa adalah sekutu ku rasa senangku sendiri. Aku sedang menikmati Opera tanpa Java dimana kesengan dan kelucuan adalah ketika yang lain direndahkan. You may say I am an idiot, disturbing, but I am not the only one and I will never walk alone.
…to be continued…

dkDNwelt, Akhir Juni @ Dapur Sepakat

Advertisements

3 thoughts on “The Cangqe Saga Part I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s