Seni Resistensi dan Perang Ruang Makassar^

dok: DKDN

Kesenian Makassar, Memoar Seorang Awam

Keterbatasan pikiran menyimpan memori seseorang dalam perjalanan melewati waktu seringkali menjadi masalah. Seperti halnya ketika keinginan berusaha menapaktilas ingatan berakhir sama jika ingin memastikan kondisi masa datang. Penggalan-penggalan kisah akhirnya tertimbun jauh ke belakang. Akibatnya, kepayahan pun melanda ketika ia dibutuhkan.

Perkenalan saya dengan wacana kesenian Makassar mangalami hal yang sama dengan penggambaran tersebut. Kejadian-kejadian monumental dan seremonial yang dialami saja yang biasanya segera bersukarela untuk diingat. Tetapi, apakah hal seperti ini memadai untuk menggambarkan masa lalu sementara begitu banyak aktivitas proses yang terpinggirkan, tidak teringat lagi. Sebuah kondisi payah selalu terjadi berulang-ulang. Sangat terlambat untuk mencari catatan atau “diary” yang tidak pernah dituliskan. Memoir diartikulasi dalam keadaan kekurangan bahan, melahirkan frasa kira-kira.

Suatu waktu di tahun 2003, Sanggar Seni Merah Putih melakukan pementasan di Gedung Kesenian Makassar. Momentum ini menjadi awal perkenalan saya dengan aktivitas berkesenian kontemporer kota ini. Pementasan tersebut menyisakan dua nama yang berhasil teringat. Adalah Shinta Febrianti dan Agus Linting, entah siapa dari mereka yang menjadi sutradaranya. Judulnya saja sudah lupa. Pementasan tersebut didominasi oleh pencahayaan biru dan berbagai bentuk kelamin manusia yang diolah dari adonan biru. Susah untuk menggambarkan kesan, apalagi bagi seorang remaja yang sedang mencari keramaian seperti saya.

Berkesenian organisasional dalam pengertiannya yang awam pernah saya lakoni ketika masih duduk di bangku SMA. Wadah kami bernama sanggar seni Anakkukang. Sanggar kami cenderung memilih kesenian tradisional untuk dipentaskan pada acara-acara seremonial internal sekolah seperti penerimaan tamu atau perpisahan dengan guru-guru dari luar negeri yang telah habis masa kontraknya.

Sampai pada pementasan teater oleh sanggar seni Merah Putih saya merasa tetap tidak mengerti aktivitas berkesenian itu sebenarnya. Sepertinya, hal yang dilabeli seni itu selalu membutuhkan panggung, galeri dan semacamnya. Setelah pementasan oleh sanggar Merah Putih tersebut, beberapa kali saya ikut “nongkrong” di Gedung Kesenian Makassar untuk menonton pementasan lagi atau sekedar menghabiskan malam. Saya mulai tahu beberapa nama yang dianggap senior di tempat “khusus” itu. Belakangan saya tahu beberapa diantaranya adalah legislator DPRD kota Makassar.

Tahun-tahun berikutnya saya disibukkan oleh pilihan menjadi mahasiswa sebuah PTN di kota ini. Berbagai rumor dunia kesenian Makassar yang sebelumnya biasa menyelinap pada perbincangan bermodal kopi, pelan-pelan tergantikan oleh romantika kehidupan kampus. Terakhir kali mengunjungi Gedung Kesenian Makassar ketika pementasan dan pameran bertemakan Golden Moment yang  diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan International Unhas beberapa tahun lalu.

Setahu saya, aktivitas berkesenian di Makassar cukup ramai ditandai dengan beberapa nama sanggar seni, studio grafis, komunitas fotografi, perfileman dan sebagainya cukup akrab di telinga. Komunitas-komunitas ini ada yang berbasis kampus maupun luar kampus. Hanya saja, sentrum berkesenian sepertinya terkonsentrasi pada beberapa tempat saja, tentu saja masih membutuhkan panggung dalam arti yang sebenarnya. Gedung Kesenian Makassar, Benteng Ujung Pandang, Benteng Somba Opu, kampus-kampus dan anjungan pantai Losari sepertinya dilumrahkan menjadi tempat pementasan. Meski demikian, beberapa pementasan kesenian memilih tempat selain yang telah disebutkan.

Seniman Firman Djamil pernah mengadakan pementasan teater di pinggir jalan Perintis Kemerdekaan. Beberapa kolektif juga memberikan pemaknaan yang berbeda terhadap “panggung” dan melakukan pementasan dengan cara mereka. Salahsatu di antaranya adalah  Puisi Purnama yang awalnya berlangsung di pinggir danau Unhas. Pentas Puisi Purnama mewajibkan semua yang hadir sebagai penampil membacakan puisi.

Momoar ini sepertinya tengah berjalan pada koridor tanpa pelibatan penonton. Pementasan, panggung, dan kesenian Makassar dalam ingatan saya didominasi oleh kealpaan afeksi pada ruang-ruang sosial. Kesenian yang berada di pusat keramaian kota sepertinya memiliki hubungan intim dengan kekuasaan dan wewangian politik. Sepertinya, terdapat jarak yang cukup untuk memisahkan lantai panggung dengan tanah di mana dia berdiri.

Seni untuk Seni, Sebuah Wacana Mematikan

“Kepercayaan pada seni untuk seni lahir kapan saja seorang seniman berada di luar keselarasan dengan sekitar sosialnya.” – G.V Plekhanov-*

Menyoal tentang seni dan kehidupan sosial, saya mencoba membangun sebuah pertanyaan analogikal untuk mengawalinya. Pada suatu masyarakat yang mempraktikkan demokrasi langsung (suatu sistem sosial tanpa hirarki kekuasaan) di mana produksi primer pada bidang usaha ril menjadi sumber penghidupan bagi semua orang yang didistribusikan secara langsung sehingga tercapai kesejahteraan bersama. Serupa halnya dengan pernyataan “normalnya” kehidupan berkesenian tanpa bumbu radikalisasi ketika situasi sosial-politik juga “normal”**. Dalam kondisi seperti itu, lalu di mana posisi seniman ditempatkan? Bagaimanapun, sampai hari ini belum ada seorang pun yang lebih berhak dari orang lain dalam penentuan nilai estetika yang dirasakan masing-masing orang. Selamanya akan terjatuh pada subjektivitas ataupun berbagai tetek bengek yang melatarinya. Semua orang masih setara dalam memaknai keindahan dan menikmatinya.

Sejarah perkembangan seni misalnya setelah zaman pencerahan di Eropa ditandai dengan lahirnya seniman sekaliber Leonardo Da Vinci sepertinya selalu memberikan tempat khusus bagi penguasa dalam bahasannya. Gegak gempita ketenaran Da Vinci tidak bisa dilepaskan dari peran penguasa yang memberikan subsidi untuk hidupnya. Lebih jauh, misalnya, tersingkirnya nama Amedeo Modigliani dari pembahasan karena kalah bersaing dengan Pablo Picasso yang lebih dekat dengan penguasa.

Makassar memiliki Da Vinci maupun Picasso atas dasar latar status yang serupa. Beberapa nama seniman Makassar kerap kali tampil pada pesta-pesta penguasa sekedar membacakan puisi sanjungan tanpa merasa malu. Suatu tontotan estetis anti kemanusiaan yang kronis. Sepertinya semua orang telah faham bagaimana watak birokrasi pemerintahan di negara ini. Selanjutnya kenyamanan ini menjadi sempurna ketika seniman hadir memberikan sanjungannya. Penggalan kalimat G.V Plekhanov di atas menceritakan situasi yang sama di mana Soviet Rusia sebagai latarnya.

Seni untuk seni, selamanya berujung pada dua hal yaitu pemujaan terhadap penguasa dan langgengnya penindasan terhadap rakyat. Lalu, untuk apa wacana seni itu sebenarnya? Apakah seni sekejam itu? Menciptakan keindahan untuk penindasan? Ataukah seperti hari ini dimana seni dalam berbagai sekadar menjadi pengalih perhatian kelas pekerja sehingga mereka memperoleh sedikit semangat hidup lalu kembali melanjutkan kerja kepada beberapa tuan.

Gedung Kesenian Makassar sepertinya telah menjadi monumen di mana seni itu elitis yang tidak berimplikasi pada kehidupan masyarakat luas mendapat perayaan. Keindahan menjadi milik sebagian orang saja. Masyarakat luas masih berkubang lumpur kemiskinan sehingga belum mampu secara moral dan mentalitas untuk menikmati seni seperti yang hadir pada panggung-panggung teater. Kemiskinan telah memborok, salah satu penyebabnya adalah keberadaan para pemimpin yang kerap dihadiahi puisi puja-puji oleh beberapa seniman.

Wacana seni untuk seni adalah lantai panggung yang berjarak terpisah dengan tanah tempatnya berdiri. Jika demikian, seni sebagai bahasa lain dari keindahan sepertinyabersifat rasial. Hanya bisa dinikmati tuan-tuan tertentu. Ia bersifat rasis terhadap masyarakat sehingga cenderung menjadi salah satu variabel yang menyengsarakan kehidupan banyak orang. Belum lagi jika ia dikaitkan dengan komodifikasi ala ekonomi-politik. Pewacanaan tentang seni sekalipun telah menciptakan jurang hirarki dominasi di dalamnya. Semestinya seni berada di tengah-tengah masyarakat luas dinikmati bersama. Keindahan itu semestinya bisa menghapus derita, salah satunya yang disebabkan oleh penguasa baik itu politik maupun ekonomi.

Seni untuk seni, kecenderungan untuk menyuarakan perjuangan rakyat saja belum cukup karena wacana seni selalu berjarak dengan kenyataannya. Pementasan atas nama kerakyataan pada tempat-tempat privat malah seperti perayaan onani di mana rakyat sekali lagi hanya sekadar objek dari sebuah perhelatan. Sama halnya dengan lembaga-lembaga swadaya atau NGO yang bergerak pada kesejahteraan rakyat tetapi melakukan sosialisasi program di hotel-hotel berbintang.

Seni untuk seni tentu saja selalu mendapatkan lawannya sendiri. Praktik-praktik aktivisme kesenian yang berdiri menentang berbagai dominasi tetap ada, hanya saja belum menjadi kekuatan yang dominan.

Aktivitas Perang Ruang Makassar

Ruang adalah modal bagi siapa saja. Termasuk kepada para tuan-tuan penguasa, pemilik modal maupun kepada gerakan-gerakan perlawanan. Ruang seringkali berubah menjadi arena peperangan untuk sekadar penyampaian pesan atau dan sebagainya. Ketika berbagai kanal penyaluran aspirasi tidak lagi menyenangkan, perebutan beberapa spasi pada ruang-ruang publik maupun privat perkotaan menjadi alternatif bagi kebanyakan orang.

Wacana seni rupa pada ruang luas perkotaan Makassar bukanlah latar yang dominan bagi hadirnya serangan-serangan dari berbagai pihak pada ruang publik maupun privat. Sebagian orang tidak percaya terhadap seni dan klasifikasinya mengambil langkah otonomis menyuarakan tuntutan melalui grafis yang hadir pada tembok, ataupun pementasan teater jalanan yang kemudian secara sadar atau tidak telah merebut beberapa spasi ruang publik yang menjadi area pertunjukan. Seperti seni peristiwa (happening arts) oleh Firman Djamil ketika mencoba mengurai ironi pemilihan umum. Pementasan ini sama sekali menghapus jarak dengan siapa saja yang hadir di sekitar tempat dia berdiri. Pementasan ini melibatkan semua yang berada di dekatnya, termasuk supir angkutan umum ketika menyerobot ruang jalan Perintis Kemerdekaan. Pementasan ini sarat akan tuntutan pribadi Firman Djamil yang turut menyertakan tuntutan banyak orang.

Para graffito artist maupun graffito yang menolak dilabeli artist sebagai bentuk penolakan wacana seni rupa melakukan hal yang sama. Berlomba-lomba dengan pemerintah atau pihak penguasa maupun iklan luar ruang produk-produk perusahaan mengisi setiap spasi yang kosong. Keadan yang kontras ini menjadi atmosfir yang menarik dalam pemanfaatan ruang. Sejauh ini, perang ruang perkotaan Makassar selalu menghadirkan kekontrasan. Pada wilayah resistensi, setidaknya ekspresi semacam ini berhasil mengada dalam bahasa yang lebih jujur dan menghapus jarak antara subjek dan objek yang menjadi permasalahan dalam perwacanaan seni.

Hari ini, tanpa tendensi untuk melakukan pemaksaan mengunyah sajian sederhana oleh Taring Padi dan Tanahindie, mengadakan perjamuan untuk kembali melakukan peninjauan ulang terhadap aktivitas berkesenian kita di Makassar. Ajakan ini bisa jadi serupa harapan yang akan menjadikan kita mampu merebut hak-hak menikmati, mempraktikkan, dan berbagi nilai dan rasa estetika secara lebih rasional. Ajakan ini ditujukan kepada siapa saja termasuk komunitas kesenian maupun yang menolak kata itu. Jika kata-kata adalah senjata lalu mengapa tidak “kesenian” yang jauh lebih variatif diangkat pada tataran yang lebih terhormat.

catatan:

^Hand out diskusi panel peluncuran buku Taring Padi Seni Membongkar Tirani di Kampung Buku, Tanahindie-Kampung Buku-Taring Padi, 11 Oktober 2011 oleh Darmadi.

*G.V Plekhanov, “Seni dan Kehidupan Sosial” terjemahan Samandjaja 2007 hal 8.

**Alexander Supartono dalam Taring Padi, Seni Membongkar Tirani, Lumbung Press 2011 hal 7.

sumber: taringpadi.com
Advertisements

6 thoughts on “Seni Resistensi dan Perang Ruang Makassar^

  1. >> cool stuff cika’….. 🙂
    Ane jd teringat kpd seorang Augusto Boal yg terkenal dengan teater Arenanya, di Sao Paulo Brazil pada dekade ‘60an. Semua karya Boal berisi simpulan bahwa yang menjadi tujuan dari setiap bentuk teater yang digubahnya adalah untuk membebaskan masyarakat dari penindasan struktural dan kultural sesuai dengan realitas ruang dan waktu, di mana mereka berada. Setiap orang adalah seniman, dan setiap tempat adalah panggung untuk mengekspresikan permasalahan bersama; belajar mengamati permasalahan bersama; lalu melawan bersama demi membebaskan diri mereka sebagai rakyat tertindas.

    1. teater dalam forma awalnya selalu membutuhkan panggung yang berjarak dengan penonton, begitupun dengan lakon dan cerita diatasnya, hanya saja..selalu terdapat pesan yg bisa jadi mengandung biopolitik dan dinamika resistensi yg berkobar-kobar. happening art hadir kini untuk setidaknya dalam lakon teater jarak antara cerita dan realitas bisa diperpendek, demikian juga dengan lakonnya yang mana setiap orang menjadi pelakon disekitar TKP pentas

    1. yah, jelas pengaruh tokoh besar…tapi saya yakin, pengaruh setiap orang juga besar…karna Stirner tidak lebih berpengaruh daripada seorang penebang pohon dalam membangun atau menghancurkan kehidupan

  2. Kak Mad….ajarin lebih banyak tentang “Perang Ruang Kota” pertama dan terakhir dengar tentang itu waktu maen ke Kampoeng Buku kmaren dr cewek cantik lagi..hehehe (ninja)

    1. hahahahha…mari pade belajar bersama, perang kota mula2nya banyak dibahas oleh Guy Debord seorang Situasionist pada tahun 1950an dengan teori2 nya tentang urbanisme, kemudian susul menyususl Habermas (public sphere), Foucault, dan beberapa pemikir lagi…kalo tidak salah, Nietzsche juga terkenal dengan salah satu quotation nya mengenai perang kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s