An Empty House Is Not A Home

fbe04-kisahpelangiSahabatku karuan mengucap kata-kata itu, setelah sebelumnya aku bertanya apakah dia akan pulang ke rumahnya pada beberapa malam lalu. Yakin menjawab tanyaku, rumahnya sedang kosong. Aku takjub sejenak, bukan karena akan berbaring berdampingan lagi dengannya dalam percakapan rendah seperti masa-masa sebelumnya.  Mengunjungi lagi  cerita lama yang telah kehilangan ketegangannya, kehilangan kejutannya dalam balutan tawa atau tangis. Atau merangkai cita dan nujuman kelanjutan kisah besok pagi dan pagi-pagi setalahnya. Aku takjub akan kata-kata itu, “rumah yang kosong bukanlah rumah”. Kata-kata tentang rumah, perjalanan pulang yang berada sekian lama di kepalaku berhasil dia rangkai dengan indah.
Sebenarnya, kalimat itu memiliki makna langsungnya, tentu saja rumahnya sedang kosong dan dia tidak akan pulang untuk melewati malamnya sendirian. Hanya saja, aku boleh ragu apakah kalimat itu menjadi beku dalam tingkatannya pada latar yang sama, tentang sahabatku yang tidak ingin pulang karena tiada sesiapa di rumahnya. Kata-kata itu sangat kuat sehingga mampu menghancurkan penjara makna yang membatasinya untuk berlarian kesetiap sudut kemungkinan yang lebih tinggi ataupun sebaliknya.
Bukankah rumah bisa berarti apa saja. Seperti kata pulang sebagai kata kerja tentang kegiatan berjalan, dan perjalanan tidak selalu bermakna material tentang fisik yang berpindah tempat berdiri. Keberuntungan hanya terjadi dalam dunia tanpa Tuhan karena mencipta dan berkarya tidaklah pernah melupakan kerja sebagai syarat utamanya. Perjalanan pulang dalam rangkaian perjalanan selalu bermakna bahwa tujuannya itu adalah rumah. Kosong sendiri memiliki maknanya sendiri, dalam konteks kalimat sahabat saya itu bermakna ketiadaan orang lain.
Perjalanan panjang kehidupan juga adalah perjalanan pulang menuju asal, seperti itulah yang kuyakini dengan semua catatan tentang perbekalan, tanda tanya dan kesibukannya yang lain. Perjalanan pulang ini juga sedang menuju ke rumah dalam bahasa arif. Tuhan sebagai tujuan pulang –tanpa merendahkan keMahaanNya- bisa jadi berarti Rumah. Kekosongan tetap saja berarti tanpa orang atau suatu ketiadaan. Kalimat sahabat saya menolak atheism sebagai ketiadaan sesiapa untuk pulang.
Kisah hari esok adalah sebuah bangunan yang akan kita sebut rumah masa depan. Apakah dia rumah dalam makna langsungnya atau bukan, yang pasti “an empty house is not a home”. Semoga suatu saat dimasa depan aku berada dalam sebuah rumah, yang mulai kubangun hari ini. Semoga Baginda Rasul SAWW sudi menyertakan kita dalam rumahnya dalam lanjutan perjalanan pulang ke rumah sebenarnya.
Kesendiarian bukanlah sifat manusiawi, kesendirian adalah milik Tuhan sepenuhnya…Maha Esa. Kerinduan kepada Kekasih dan kekasih-kekasihNya sepertinya selalu disertai syarat belajar dan kejutan-kejutan seperti hadiah pada hari ulang tahun kelahiran. Semoga aku tidak sendiri dalam perjalanan ini, hanya Tuhan yang boleh sendiri. Baginda Rasul SAWW memerintahkan untuk berkawan dalam perjalanan pulang. Kembaraku, betapapun telah terjebak dalam kubangan kerendahan fana dan berputar-putar tetap saja masih bertujuan yang sama dengan tujuan setiap manusia. Seperti itulah awamku menafsir kejaiban kalimat keenam dan ketujuh Tuhan dalam kitab milik Baginda Rasul Muhammad SAWW. Jalan yang lurus, an old way would carrying us home…
…  
OctoberOffer, Light House LFM
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s