Tinggal Aku, Kalian Berlari

Untuk sejenak, aku terduduk nanar menatapmu membusuk dalam caramu menyiksa diri. Sepertinya seluruh indera kita habis dayanya, mata buta, telinga tuli, dan akal yang mulai mengakal-akali.

Bahasa terlalu bening untukmu bersembunyi, jangan, kita sedang berjalan di pesisir barat menanti sunset. Kau harus tahu bahwa telinga ini memiliki pemindai yang lebih mutakhir dari seluruh maksud segudang kata-kata di kepalamu. Semoga kita masih sefaham bahwa bahasa mewujud, kata-kata bernyawa.

Lihailah kepada dirimu sementara, karena malam selamanya akan gelap dan kita akan bertemu lagi esok pagi di telaga janji. Hanya kita yang tahu semua hal yang kita buang pada setiap tepi dipan yang menghalangi lelap.

absensi Januari
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s