Teh Dingin untuk Sarapan

image source: sensibiliteas.blogspot.com

Sekali lagi, jangan paksa aku percaya bahwa seperti ini kemampuanmu. Jangan paksa aku menganggap Tuhan bermain dadu. Jangan paksa aku, kebetulan dan kebenaran kata dasarnya berbeda makna. Tapi jangan paksa aku kebaruan, bahwa ketika makna awal sama, kebetulan jalan ini banyaknya tidak terhingga.

Aku membenci Marx meski tahu dia hampir benar absolut. Demi setiap uraiannya, anak adalah kutukan. Menjadi komoditas mengelabui kepalsuan kebetulan kesadaran. Semakin banyak anak, semakin hilang persaudaraan.

Maka tidak akan aku menjilati buih teh dingin ini. Aku tahu rasanya kelabu, dingin kata-kata dan gelap disembunyi.

Advertisements

The Servant Rhapsody

6
Sepertinya hujan musim ini meneteskan air yang tidak cukup untuk memadamkan bara api mengenai berbagai tanya tentang hidup. Bukannya sok platonian, hanya saja, jalan panjang untuk ditempuh membutuhkan peletakan makna di titik awal yang memaksa memberikan penghargaan lebih kepada hubungan antar sesama daripada sekadar peruntungan material. Kedirian dan eksistensinya serta bagaimana menghargainya, benar-benar menempati peringkat teratas dari klasifikasi harga tersusun. Ceritakanlah tentang remeh temeh tanpa kesan komodifikasi, cukup kepedulian immaterial.
Kehidupan pelayan telah mengajarkan bagaimana rasa derita-derita. Jadilah saudara, sahabat karena hanya itu yang mampu menawar sakit. Derita bersama saudara itu lebih indah daripada kehidupan nyaman bergelimang harta dimana memperbudak diri adalah harganya. Ketika tawaran itu sama, telah lama itu tidak meruang bagi pelayan. Kehidupan yang hanya saling tegur sapa untuk pekerjaan adalah derita yang sebenarnya.
Pundak, bagi sahabat adalah pijakan, itu kebanggan pelayan. Perut boleh terluka menahan lapar atas nama persaudaraan adalah kesehatan jiwa pelayan. Menampik setiap belaian nasib untuk tidak berpisah dengan saudara adalah etika pelayan. Hanya saja, persaudaraan itu mestinya saling memanusiakan. Jika kepedualian hanya untuk hal material dan gilang gemilang kalkulasi kejayaan, itu adalah derita baru. Jika kepedulian hanya tampak dari pandangan mata, terdengar telinga yang berdekatan, itu bukanlah persahabatan. Biarlah rumah bagi pelayan adanya hanya dijalan yang terbiasa dengan derita, sesak oleh debu, terik mentari dan dinginnya hujan yang karib membasahi.  Derita-derita masih teratasi, entah sampai kapan hingga bendera putih benar-benar harus dikibarkan, tapi bukan sekarang. Semoga Tuhan selalu mengasihi semua mahlukNya.