Ramadhan Memang Holiday

our own courtesy

Tanpa proses pengalamiahan makna, saya mencoba melupakan sejenak riuhnya politik bangsa kita yang semakin spectacle. Jokowi mungkin tidak berniat menggangu tuan-tuan itu, tidak akan dia menghilangkan Central Park Jakarta atau berbagai kasus perebutan lahan oleh perusahaan-perusahaan properti gergasi. Akan tetap ada perebutan lahan dan penggusuran. Jokowi pada sisi tertentu tetaplah tontonan yang semakin menjauhkan kesadaran kelas dan kemanusiaan dari ranah wicara dan praktiknya. Akan dibangun menara-menara Babel baru yang menjauhkan pijakan orang-orang dari tanah, menjauhkan tetangga dari tetangganya, memilah kasih sayang dari maknanya dan memisahkan agama dari Tuhannya.

Konsumsi didesain melalui kanal-kanal segala media benar-benar mendapatkan panggung perayaan sekaligus pesta perkawinan kapitalis dan agama.  Sebenarnya bahkan tanpa Ramadhan media-media tontonan ini telah didesain seragam, juga untuk menyeragamkan (juga baca: menumpulkan) pendapat dan imajinasi. Dari pagi sampai pagi, seluruh stasiun TV nasional benar-benar memiliki acara yang seragam. Bahkan tidak butuh buku sosial mutakhir untuk mengatakan tontonan kita adalah sampah. Tidak perlu teori kritis untuk menyatakan kesamaan KFC dan McD dengan semua stasiun TV nasional kita, mereka memaksa kita mengonsumsi segala hal “junk”  dalam tontonan, keyakinan hingga makanan.

Saya tidak sedang ingin membahas hal-hal di atas terlalu jauh, takut terkesan trendy dan momentum (eh, kalau iya memangnya kenapa? Hahahahah). Yah, tanpa apologi, hanya suplemen serampangan, “hal-hal tersebut telah cukup dominan mengisi segala sendi kehidupan kita”. Bolehlah sejenak menegasinya lebih ke pinggir, bukan melupakan.

Saya berusaha berbagi rasa mengenai kecapanku terhadap Ramadhan kali ini. Tentu saja, saya menganggap Ramadhan sebagai liburan. Seperti sedang berada di pulau Cangke, memiliki uang sedikit tidak jadi soal apalagi kalau banyak. Hanya saja status material ini memiliki pertalian, sama-sama membuat kita kesusahan mencari fungsinya. Untuk Ramadhan sekarang, saya mengalami hal serupa dengan penggambaran di atas, hampir setiap sorenya. Punya uang sangat sedikit dan mau memberikannya kepada orang lain tetapi harus bepergian ke jalan. Sama ketika ingin membelanjakan uang di Pulau Cangke harus menyeberang ke Pulau Pala, berat saudara-saudari.

Saat Ramadhan, hukum bersedekah menjadi nyaris wajib. Cinta selalu kekurangan kosa kata untuk menggambarkannya, cinta akan terasa “gombal” kalau diumbar pada situasi dan tempat yang salah, seperti itu mungkin rasanya. Biarkan afeksinya hanya kita yang rasa.

Untuk postingan ini, saya hanya mampu menulis salah satu dari banyak dimensi Ramadhan, itupun sangat cuil. Bersedekahlah, jika ingin membuktikan bahwa kebahagian itu sederhana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s