Tarian Kekeringan September

sumber gambar: stat.ks.kidsklik.com

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember” -Efek Rumah Kaca-

Setidaknya, dalam beberapa hari terakhir, awan kembali lagi menggantung di atas langit Makassar. Pemandangan ini jarang bisa ditemui dalam beberapa bulan terakhir. Siang malam langit Makassar bersih tanpa guratan, tanpa awan menghiasinya.

September memang selalu dinanti untuk datang membawa hujan. Hingga minggu kedua, belum juga ada hujan, masih sebatas awan tipis. Meski kian hari kian tebal, tetapi kabar hujan masih berupa angin lalu. Beruntung saja Makassar memiliki pasokan air yang cukup sehingga derita kekeringan tidak terasa bagi sebagian besar warga.

Jumat kemarin, sempat tercium aroma tanah ketika hujan tipis mencium wajah bumi. Tidak ada kesan hujan yang tersisa, semuanya masih terasa kering, siang yang terik dan malam yang serasa benua.

Black September atau September Kelabu tidaklah terjadi di kota ini. Kalaupun iya, mungkin karena debu dan asap kendaraan penyebabnya. Debu di sini sepertinya menggantikan kehadiran awan selama kemarau, mewarnai pandangan selain biru.

September Kelabu seperti yang terjadi di kota New York akan selalu dikenang karena adanya media massa yang selalu mengingatkan. Tragedi WTC di New York menyisakan kontradiksi pendapat mengenai dalang di balik peristiwa. Kekuasaan menyudutkan dunia Islam sebagai yang tersangka. Tetapi masyarakat luas sebagian tidak percaya.

Kita bisa melupakan Tragedi WTC sebagai penyumbang catatan hitam di bulan September. Di negeri kita ini kasus pembunuhan aktivis HAM Munir juga belum menemukan aktor utamanya. Orang-orang besar di balik layar hitam itu belum tersentuh tangan hukum. Serupa berbagai kasus besar lainnya, seperti Century, dsb., adalah berbagai kasus yang berada di jantung kekuasaan negara, seusatu yang hampir pasti tidak akan selesai selama penguasanya masih sama.

September tidak hanya menjadi derita sinetron dalam bentuk berita oleh media-media massa. Di sebagian tempat di negara ini, banyak petani yang gagal panen. Desa-desa yang kekeringan, bahkan untuk air minum warga pun sangat susah. September juga adalah bulan kebakaran hutan di tanah air versi saya.

Saya membayangkan, jika desa-desa kekeringan, lahan pertanian gagal panen lalu di mana peran pemerintah? Dana besar pesta olahraga seperti PON sama sekali tidak mungkin menyejahterakan rakyat. Terlalu konyol jika mengatakan bahwa alam lah yang bersalah untuk bencana kekeringan dan gagal panen sementara UUD 45 pasal sekian mempercayakan negara mengurusi tanah, air, dan udara. Hanya saja, ini kan Indonesia.

Sama dengan anak terlantar, hajat hidup orang banyak lebih banyak dipelihara oleh LSM asing termasuk tanah, air, dan udara. Warga Indonesia yang hidup di pedalaman sudah banyak yang swasembada energi dari swadaya dan bantuan LSM asing. Anak terlantar dan sumber daya yang menguasai hajat hidup orang banyak mungkin bukan barang dagangan yang bisa cepat laku untuk mengisi kas-kas keungan pribadi para penguasa, makanya ditelantarkan tanpa peduli UUD. Lagian, siapa juga yang akan menuntut mereka. Moral? Hahahahaha, no thanks!

Bagaimana mungkin desa yang lebih hijau kekeringan. Sementara kota yang tidak memiliki hutan pasokan airnya selalu cukup. Dan jika gagal panen terjadi, bukankah itu adalah keuntungan besar bagi penguasa untuk segera mengumpulkan selisih anggaran untuk impor bahan pangan? Entahlah. Indonesia gitu loh.

Biarlah Efek Rumah Kaca bersuka cita menari dalam hujan di bulan Desember. Mungkin itu adalah tarian penguasa di atas proyek-proyek mengatasi bencana tanah longsor dan banjir. Lalu siapa yang akan menari dalam kekeringan September? Apakah para santri pesantren-pesantren di Jawa Timur menjawab tantangan ini dalam shalat istighosah mereka?

@koridor FIS