Makassar Masih Makassar

contributor
image source: http://goo.gl/e7fafJ

Harapan itu masih menggantung di langit Makassar pagi ini, Rabu, 19 November 2013. Harapan langka tentang pentingnya menyuarakan ketidaksetujuan. Harapan tentang “tidak” yang masih mewujud dalam kamus keseharian yang semakin monotonik, sama rata digilas dan dihaluskan narasi-narasi besar. Harapan yang pohonnya telah ditebang Orde Baru silam, pokok batangnya dibakar Rezim-Rezim Reformasi, dan akarnya yang mulai dicabuti satu-persatu rezim terbaru saat ini. Relatif dengan wicara yang sama, bahasa kuasa pembentuk keseragaman, kalimat-kalimat lalim, dan kosa kata mematikan.

Kini hari-hari memerah, bara abadi perlawanan kembali menyala-nyala di jalan-jalan utama. Asap hitam tirani kuasa memburamkan langit kota. Batu-batu beterbangan, anak panah memercik bunga api setiap kali menghantam aspal sebelum melenting menyasar kepala-kepala tanpa nama demonstran. Pelangi warna-warni jas almamater memerah bersimbah darah dan cokelat debu.

Para vanguard itu tetap bertahan. Mereka masih mampu berkata tidak meski anak panah telah menembus rahang, rusuk dan betis. Bibir-bibir mereka bilang tidak meski telah pecah oleh pentungan dan tembakan. Mata mereka masih menyala meski perih oleh gas air mata. Gelora mereka berkobar meski telah dihujani caci-maki dan sumpah serapah masyarakat indiviualis borjuis unyu-unyu. Mereka mampu menanggung luka-luka gigitan anjing penjaga kapital dan viral nyinyir dunia maya ciri khas kelas menengah ngehe.

Pengadilan jalanan masih hidup di sini, saat kota-kota lain seolah mati tidak bisa bangkit lagi. Saya yakin kalian bukan pembuat onar, karena kata tidak bukanlah tindak kriminal. Saya yakin kalian bukan perusuh, karena keamanan dan pengamanan bukan tugas kalian. Gerbang kampus-kampus kalian adalah pintu-pintu keadilan yang pondasinya adalah nyawa kalian yang dicabut para preman berseragam penjaga kekuasaan, yang disiarkan sebagai penjaga keadilan dan pengayom masyarakat. Gapuranya dibangun dari darah kalian yang ditumpahkan preman bayaran dan kriminal peliharaan yang disiarkan bernama warga.

image source: http://goo.gl/ei2JCq
image source: http://goo.gl/ei2JCq

Malam tadi bukanlah hal yang baru, malam panjang berdarah penuh kebuasan kuasa terkomando. Malam tadi adalah sama dengan malam-malam panjang lalu saat kebuasan dipertontonkan oleh kriminal peliharan. Persis di pelupuk mata penjaga keamanan yang melakukan pembiaran. Selanjutnya seragam dan non-seragam tergabung menjadi wajah asli kuasa pemerintahan, peradilan dan hukum kita, memaksa kalian setuju atau diburu. Ujung lensa dan pena media-media kemudian menjadi pilar demokrasi yang baik, membersihkan noda hitam para tuan dalam bahasanya yang paling advertisif.

Para vanguard tadi malam sekali lagi membentengi kewarasan. Meski kebuasan para penjaga kapital, dengan seragam atau non-seragam, siap memecahkan batok kepala kalian. Meski angle kamera betah melanjutkan tradisi FOX dan CNN dalam membusuki kalian. Meski para penikmat musik pagi dan penggemar reality show petang tidak memberikan sedikitpun ampunan pada tataran moral mereka berupa viral dunia maya dan kutukan kepada kalian. Meski para akademisi dan intelektual muda gencar membunuh logika kalian untuk menjadi seperti mereka menginjak ke bawah menjilat ke atas.

Untuk setiap tidak yang kalian ucapkan, kelas menengah ngehe telah menyiapkan kafan logika absurd. Untuk setiap tidak yang kalian teriakkan, intelektual kita telah menyiapkan tuduhan amoral kepada kalian, dari ruang-ruang korup, pengap berasap opium dan lembab keringat syahwat birahi. Untuk setiap tidak yang membuat kecemburuanku semakin pekat pada kalian, merajalah. Teruslah berdendang, “takkan berhenti meski tak ada yang peduli, takkan peduli meski semuanya berhenti.”

Harapan itu masih menggantung di langit Makassar pagi ini, Rabu, 19 November 2013. Entah sebentar akan berlangsung seperti apa. Akankah kalian berakhir jadi “Amarah”, ”Gunung Sari”, atau “Talang Sari”. Entah. Apapun itu, semoga api abadi tanah ini masih terus membara, jadi kerikil kecil dalam sepatu mengkilap para lalim itu. Maka, kepada para vanguard, jagalah Makassar jadi Makassar.

Selera Buruk Negeri 1001 Masalah

2010-03-17_14-03-18_bt_logo_m_rgb
image source: handball-hsc.de

Salam.

Apa kabar? Jangan tersinggung jika kutanyakan kabar, meski kau tahu kalau aku tahu bagaimana kabarmu. Kita tidak sedang baik-baik saja kan? Setelah kobaran api politik kemarin mengabukan segalanya, kini kita memasuki periode baru. Orang-orang berganti, rezim serupa tetap eksis. Bisa jadi lebih parah, yang dianggap kejahatan terbesar adalah berkata tidak, berbeda dan jadi waras. Bahasa ekonomi politik dan ideologi sampai pada bentuknya yang paling menjijikkan setauku.

Gairah ku mulai tumbuh untuk berceloteh lagi denganmu, dengan serampangan bahkan gadungan. sebelum benar-benar gila seperti mayoritas anak bangsa yang mulai melayari samudera individualis borjuis, aku datang kepadamu berharap kau memiliki imun untukku.

Kita harus kuat karena “kelas menengah ngehe” semakin banyak dan semakin konfiden mempertontonkan buruknya selera mereka. Kita sepakat, tidak ada manusia bodoh, yang ada adalah pilihan pada selera buruk yang massif. Semoga kau mau memberiku imun, karena besok-besok aku akan bermain sampai lelah, mengejar sebanyak mungkin jelaga pada setiap gejala. Seperti buruknya selera pilihan tempat wakil rektor III dalam berpesta sabu , sama buruknya dengan seleranya memilih anak gadis yang menemaninya.

Bukan hanya dia yang berselera buruk hari ini, ada juga Ibu Susi, menteri yang fenomenal itu. Beberapa hari lalu di koran maya dia menuduh benda mati sebagai biang masalah. Buruk kan selaranya dalam menuduh, masa sih benda mati punya salah. Dia menuduh BBM bersubsidi itu sumber maksiat , setan mungkin, karena hanya dimanfaatkan oleh para penyelundup dan mafia BBM, sehingga nelayan tidak kebagian. Dia meyakini sekitar 150 trilyun rupiah raib di laut, wilayah kekuasaannya sehingga dia seperti sedang ditantang.

Dia bahkan menganggap BBM bersubsidi amat tidak sehat bagi perekonomian RI. Jadinya, untuk sehat subsidi harus dicabut. Ibu Susi yang fenomenal, aku tidak bermasalah dengan riwayat status endidikan formal anda, yang telah membuat banyak warga Republik Dunia Maya meradang dalam ketersinggungan yang memang mereka sangat sukai. Tapi benar-benar harus menepuk dahi atas selera berlogika Ibu yang macet.

Mungkin sama buruknya dengan selera bos Ibu yang entah harus pakai otak yang mana untuk menerima pilihan silogisme penaikan harga BBMnya. Ibu bilang setengah dari nilai subsidi sebesar 150 trilyun rupiah dari 300 trliyun hilang di laut karena diselundupkan. Lalu Ibu yakin BBM diselundukan karena bersubsidi, selera berlogika Ibu benar-benar macet.

Mengapa Ibu tidak berselera membiarkan nelayan menikmatinya dengan menata penegakan hukum di laut? Mengapa bos Ibu lebih bahagia dengan seleranya mengerahkan aparatnya memukuli wartawan, dosen dan mahasiswa ketimbang menangkap para penyelundup sehingga 150 trilyun rupiah itu terselamatkan? Sudahlah, menentukan selera memang bukan perkara bersama.

Itulah mereka, maka aku ingin imunisasi biar tetap waras. Kau mau kan memberikannya, besok-besok banyak lagi jelaga yang akan kita obral, dengan serampangan.