Selera Buruk Negeri 1001 Masalah

2010-03-17_14-03-18_bt_logo_m_rgb
image source: handball-hsc.de

Salam.

Apa kabar? Jangan tersinggung jika kutanyakan kabar, meski kau tahu kalau aku tahu bagaimana kabarmu. Kita tidak sedang baik-baik saja kan? Setelah kobaran api politik kemarin mengabukan segalanya, kini kita memasuki periode baru. Orang-orang berganti, rezim serupa tetap eksis. Bisa jadi lebih parah, yang dianggap kejahatan terbesar adalah berkata tidak, berbeda dan jadi waras. Bahasa ekonomi politik dan ideologi sampai pada bentuknya yang paling menjijikkan setauku.

Gairah ku mulai tumbuh untuk berceloteh lagi denganmu, dengan serampangan bahkan gadungan. sebelum benar-benar gila seperti mayoritas anak bangsa yang mulai melayari samudera individualis borjuis, aku datang kepadamu berharap kau memiliki imun untukku.

Kita harus kuat karena “kelas menengah ngehe” semakin banyak dan semakin konfiden mempertontonkan buruknya selera mereka. Kita sepakat, tidak ada manusia bodoh, yang ada adalah pilihan pada selera buruk yang massif. Semoga kau mau memberiku imun, karena besok-besok aku akan bermain sampai lelah, mengejar sebanyak mungkin jelaga pada setiap gejala. Seperti buruknya selera pilihan tempat wakil rektor III dalam berpesta sabu , sama buruknya dengan seleranya memilih anak gadis yang menemaninya.

Bukan hanya dia yang berselera buruk hari ini, ada juga Ibu Susi, menteri yang fenomenal itu. Beberapa hari lalu di koran maya dia menuduh benda mati sebagai biang masalah. Buruk kan selaranya dalam menuduh, masa sih benda mati punya salah. Dia menuduh BBM bersubsidi itu sumber maksiat , setan mungkin, karena hanya dimanfaatkan oleh para penyelundup dan mafia BBM, sehingga nelayan tidak kebagian. Dia meyakini sekitar 150 trilyun rupiah raib di laut, wilayah kekuasaannya sehingga dia seperti sedang ditantang.

Dia bahkan menganggap BBM bersubsidi amat tidak sehat bagi perekonomian RI. Jadinya, untuk sehat subsidi harus dicabut. Ibu Susi yang fenomenal, aku tidak bermasalah dengan riwayat status endidikan formal anda, yang telah membuat banyak warga Republik Dunia Maya meradang dalam ketersinggungan yang memang mereka sangat sukai. Tapi benar-benar harus menepuk dahi atas selera berlogika Ibu yang macet.

Mungkin sama buruknya dengan selera bos Ibu yang entah harus pakai otak yang mana untuk menerima pilihan silogisme penaikan harga BBMnya. Ibu bilang setengah dari nilai subsidi sebesar 150 trilyun rupiah dari 300 trliyun hilang di laut karena diselundupkan. Lalu Ibu yakin BBM diselundukan karena bersubsidi, selera berlogika Ibu benar-benar macet.

Mengapa Ibu tidak berselera membiarkan nelayan menikmatinya dengan menata penegakan hukum di laut? Mengapa bos Ibu lebih bahagia dengan seleranya mengerahkan aparatnya memukuli wartawan, dosen dan mahasiswa ketimbang menangkap para penyelundup sehingga 150 trilyun rupiah itu terselamatkan? Sudahlah, menentukan selera memang bukan perkara bersama.

Itulah mereka, maka aku ingin imunisasi biar tetap waras. Kau mau kan memberikannya, besok-besok banyak lagi jelaga yang akan kita obral, dengan serampangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s