Kisah Wak Mik dari Desa 1000 Bubu

Fasilitator Sekaya Maritim bersama Pak El dan Wak Mik
Fasilitator Sekaya Maritim bersama Pak El dan Wak Mik

Daerah Muara Sungai Mempawah, Kalimantan Barat senantiasa bergeliat seiring waktu. Semenjak kedatangan Opu Daeng Manambon, seorang pengembara Bugis yang akhirnya mampu mempersatukan suku-suku di Mempawah beberapa abad silam. Kedatangan Opu Daeng Manambon menjadikan daerah ini terus bertumbuh menjadi negeri makmur oleh hasil laut yang melimpah. Sejak masa Hindia Belanda hingga sekarang, status Kuala Mempawah tetaplah tenar dengan hasil lautnya.

Desa Kuala Secapah dan Kelurahan Pasir Wan Salim adalah dua wilayah pemukiman di Kuala Mempawah yang saling berbatasan sungai. Mayoritas penduduknya adalah nelayan. Sumber ikan di Pontianak dan kota-kota lain di Kalimantan Barat berasal dari Desa Kuala Secapah.

Kuala Secapah sendiri merupakan desa dengan jumlah nelayan paling banyak di Kabupaten Mempawah. Beragamnya jenis ikan dan udang secara alami memberikan pilihan kepada para nelayan untuk memilih alat tangkap utama yang paling mereka andalkan. “Kami bisa menggunakan alat tangkap apa saja,” kata Ibrahim (29 tahun). Ibrahim adalah seorang Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB). Ia menggunakan alat tangkap jaring togok untuk menangkap udang. Lantaran itu nama KUB mereka adalah Udang Kuning.

Muahammad Jamil (50 tahun) akrab disapa Wak Mik, Kepala Dusun Karya, Desa Kuala Secapah mengisahkan, masa remajanya sebagai anak nelayan dilaluinya dengan keberhasilan-keberhasilan kecil sebagai nelayan mandiri pemula.

“Awalnya saya punya satu satu piece jaring togok, dan masih numpang kapal orang melaut. Hasil tangkapan bagus, jaring togok saya jadi tiga, lalu saya beli sampan dan mesin sentak Kawasaki.” Kenang Wak Mik. Seiring waktu, Wak Mik punya sembilan piece jaring togok, sampan seluas enam depa dan mesin TS series Yanmar. Kini, Wak Mik mempekerjakan dua orang karyawan. “Saat itu saya berani mimpi dan yakin mampu untuk menyejahterakan keluarga dan menyekolahkan anak,” tutur Wak Mik

Mimpi indah Wak Mik itu tiba-tiba terhenti setelah diberlakukannya Kepres No. 39 Tahun 1980. “Hambatan saya berhenti togok ini gara-gara trawl. Semenjak Laut Mempawah diganggu trawl kehidupan nelayan menjadi sulit. Saya yakin nelayan Kuala Secapah bisa lebih sejahtera jika trawl tak berkuasa di sini,” terang Wak Mik. Sesepuh kampung ini juga mengaku masih selalu terpengaruh amarah jika membicarakan trawl. Betapa dia telah dirugikan, mata pencahariannya terganggu, bahkan pernah terancam nyawa. Dia sempat hampir celaka ketika terjadi konflik antara nelayan Kuala Mempawah dengan para nelayan pengguna trawl.

Jaring Togok yang digunakan nelayan Kuala Secapah
Jaring Togok yang digunakan nelayan Kuala Secapah

“Dulu itu, meskipun harga ikan masih murah, uang tiga juta gampang didapat dalam sehari, sekarang kadang nda dapat hasil,” ujar Asmuni (65 tahun), nelayan sepuh Kuala Secapah. Ia memiliki perahu dengan bobot kurang dari 5 GT.

Sejak adanya aturan pelarangan, tidak butuh waktu lama masyarakat Kuala Mempawah benar-benar meninggalkan trawl. Hanya saja masyarakat lain di pesisir Laut Mempawah masih tetap menggunakannya. Mereka yang merasa dirugikan kemudian melawan, dan sempat beberapa kali membakar jaring trawl. Kejadian terbesar yang dianggap tidak pernah menyelesaikan masalah mendasar terjadi di tahun 1990, Wak Mik masih menyimpan dokumen konflik itu. “Nelayan Kuala Secapah ini rata-rata nelayan kecil dan banyak yang nelayan buruh, mengandalkan hasil tangkapan. Sekarang rasa-rasanya saya tidak mampu lagi membangun rumah seperti zaman saya togok dulu.” kata Wak Mik.

Alam selalu memiliki batasannya, waktu regenerasi biota laut tidak lagi berjalan normal selama puluhan tahun. Hasil tangkapan nelayan Kuala Mempawah senantiasa menurun dari tahun ke tahun. Keserakahan dan pengabaian aturan negara dipertontonkan ramai di perairan Laut Mempawah oleh banyak nelayan yang menggunakan trawl.

Suasana kapal-kapal parkir di Kuala Mempawah
Suasana kapal-kapal parkir di Kuala Mempawah

“Berbagai macam cara telah kita tempuh, masalahnya pengguna trawl itu sangat banyak, terkonsentrasi di daerah selain Kuala Mempawah.” keluh Teddy Prawoto, Kabid Perikanan Tangkap DKP Mempawah. Masalah lainnya yang ia sebutkan bahwa kadang ada juga aparat keamanan yang memiliki trawl. Diapun membenarkan mengenai konflik-konflik horisontal antar nelayan yang terjadi akibat masih ramainya penggunaan trawl. Upaya mendekati nelayan pengguna trawl dan melarangnya juga belum berhasil. Mereka selalu berkilah seperti itulah caranya cari makan. “Mereka bilang buat cari makan, kitapun masih bisa cari makan tanpa pake trawl.” Kata Asmuni.

Masyarakat Kuala Secapah sejak enam tahun lalu saling menggalakkan apa yang mereka sebut Desa 1000 Bubu. “Namanya Desa 1000 Bubu, kenyataannya bubu yang ada lebih dari 3000 buah,” kata Mawardi, Kepala Desa Kuala Secapah. Sebutan ini sebenarnya serupa strategi mereka untuk meningkatkan hasil tangkap. Caranya dengan membuat bubu sebanyak-banyaknya. Membuat banyak bubu biayanya tidaklah murah. Dengan begitu, pun masih sering mereka kehilangan bubu di laut akibat adanya penjaring trawl di lokasi pemasangan bubu. “Tahun lalu saya membuat 100 bubu tapi akhirnya bangkrut karena trawl,” cerita Yandi (40 tahun). Bubu yang bisa bertahan biasanya yang dipasang di daerah “aman” terumbu karang.

Nelayan Kuala Secapah, dengan impian 1000 bubunya saat ini belum memadai untuk peningkatan taraf hidup mereka. Masalah mendasarnya tidak pernah terselesaikan, jika trawl tak bisa dihentikan.

***

*tulisan ini diterbitkan di newsletter Sekaya Maritim I oleh DFW Indonesia dan KKP

*foto & teks Darmadi Tariah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s