Tinggal Aku, Kalian Berlari

Untuk sejenak, aku terduduk nanar menatapmu membusuk dalam caramu menyiksa diri. Sepertinya seluruh indera kita habis dayanya, mata buta, telinga tuli, dan akal yang mulai mengakal-akali.

Bahasa terlalu bening untukmu bersembunyi, jangan, kita sedang berjalan di pesisir barat menanti sunset. Kau harus tahu bahwa telinga ini memiliki pemindai yang lebih mutakhir dari seluruh maksud segudang kata-kata di kepalamu. Semoga kita masih sefaham bahwa bahasa mewujud, kata-kata bernyawa.

Lihailah kepada dirimu sementara, karena malam selamanya akan gelap dan kita akan bertemu lagi esok pagi di telaga janji. Hanya kita yang tahu semua hal yang kita buang pada setiap tepi dipan yang menghalangi lelap.

absensi Januari

Seperti Petang Ini

Memberi makna kertas kosong.
Tanpa gambar tanpa tulisan.
Lalu berharap kehilangan harapan.
pengulangan maka mencari makna.

Langit yang biru tak pernah indah.
Pelangi pasti butuh air.
Ubur-ubur tak akan jadi pasir.
Sekeras apapun ombak membuainya.

Seperti petang ini.
Lalui jalan yang sama.
Basah dan licin.
Menuju sudut yang sama.

Dari Depan atau Belakang, Sama Saja

Siapa yang butuh Xanax? Aku tidak butuh. Katanya itu untuk penenang, anti depresan.

Aku butuhkan akhir kisah ala Bollywood, hepi ending. Bukan Xanax yang dibaca dari depan ataupun belakang akan sama saja, tetap XanaX. Jadi siapa yang butuh?

Menurutku kelas menengah di negeri ini yang paling butuh. Hasrat ingin naik kelas, terhisap kelas atas dan dihantui kejatuhan ke kelas bawah adalah alasan yang cukup untuk menderita depresi. Tingkat pajak yang sangat tinggi dari semua barang dan jasa yang dikonsumsi…BBM yang anomali tidak turun harga meski harganya telah melampaui daya beli masyarakat negara utara yang makmur. Pak Kumis itu,┬ámending dia yang di kasih xanax, siapa tau bisa berpikir waras. Dasar pedagang, apa saja jadi jualan. Termasuk menjual kehidupan rakyat negeri ini