Harry Potter and the Deadly Followers Part I

Hahahahaha…semoga kalian kecewa karena  tidak akan menjumpai manisnya hidangan perjamuan kali  ini.  Semoga tulisan ini membuat ketersinggungan kepada para Potters Deadly Hollows. Dan semoga mampu memutuskan benang-benang siliturrahim yang selama ini hanya sebatas permukaan saja, penuh intrik, basa-basi dan omong kosong. Semoga…

Tanpa teori tapi sejuta kutukan. Tanpa berusaha mengingatkan tentang kerendahan selera dan kelupaan pada afeksi dunia sosial yang kadang memang sialan.  Toh, makian ini akan berakhir pada analisa serampangan yang sering didominasi oleh modal-modal sosial yang pastinya dominan disekitar kita.

Bioskop kini tak mampu lagi menyajikan makanan untuk mengenyangkan selera rendahan para Deadly Hollows, Deathly Swallowed. Selera yang mungkin saja tidak akan dirasakan oleh para penyapu kampus, apalagi penikmat film bajakan dan downloadtan. Dolby 5 dan semburan AC, mendinginkan kobaran nyali dari mereka yang terlanjur menderita ketakutan dan tertunduk kalah kepada masa depan yang niscaya tidak akan pernah pasti.

Mari bercerita tentang fiksi-fiksi. Tentang politik media dan asuransi sampai beasiswa luar negeri. Tentang tabungan pendidikan, karena dengan demikian, secara pasti akan membebaskan kita dari tanggung jawab terhadap ruang-ruang sosial dan sejarah. Setelahnya, kita akan membuka etalase gadget dan review film terbaru. Tentang keindahan bioskop, tentang apresiasi air seni dan bursa dunia kerja. Lalu kalian mulai melihatku berdasarkan kalkulasi nominal rekening prudential dan kartu kredit.

Aku yakin, tidak akan ada yang mengerti bisikan ini karena selera terlalu hingar bingar sehingga telinga semakin tuli. Zaman terlampau silau menjadikan mata semakin rabun. Dansa semakin panas sehingga kaki kaki pun saling menginjak.  Karena manifestasi itu jauh lebih jelas daripada memperhalusnya dan menjadikannya semakin menipu. Karena hari ini semua orang akan menutup telinga untuk teriakan, lebih sopan katanya kalau bisik-bisik, dan cerita di belakang.

Harry Potter baik-baik saja, kita sakit parah…

…. to be continued

ps: nantikn part II nya, format blueray

Konstruksi Budaya Islam dalam Film AAC


Menilik tulisan Hanung Bramantyo tentang kisah dibalik produksi film Ayat-Ayat Cinta mengenai kekagumannya terhadap tokoh Ahmad Dahlan dan kedekatannya dengan Muhammadiyah memberikan petunjuk bahwa latar belakang Hanung memahami Islam tidaklah jauh dari patronase kedua hal tersebut.

Muhammadiyah dalam pandangan sarjana dalam dan luar negeri memiliki kemiripan dengan Reformasi Kristen di Eropa sebagai reformasi keagamaan dalam konteks Islam Indonesia. Salah satu kesamaan antara Muhammadiyah dengan Calvinisme di Eropa bahwa keduanya sama-sama mengajarkan Skripturalisme yaitu hanya berdasarkan pada skrip kitab suci dalam hal ini Al Quran dan Bibel.

Hal inilah yang kemudian mempengaruhi kekaguman Hanung terhadap Kairo sehingga menganggapnya sebagai Islam itu sendiri. Kehidupan di Kairo dengan segala macam aktivitasnya menjadi daya tarik awal Hanung untuk memproduksi film ini. Universitas Al Ahzar menjadi representasi sentrum studi dan budaya Islam bagi Hanung, kemudian Arab adalah Islam. Pandangan ini sangat skriptualis jika dilihat dari kacamata Weber. Di sisi lain, Hanung bukanlah seorang santri yang total, dia adalah sarjana lulusan IKJ yang bukan berdasaskan pada nilai kegamaan secara dominan. Kedua sisi ini akan berpengaruh terhadap penggambaran Islam dalam film Ayat-Ayat Cinta.

Secara sederhana kami memberikan asumsi awal bahwa jika sutrada yang menjadi pengarah dalam produksi film ini menganggap garapannya sebagai film Islam maka hal yang ditonjolkan secara dominan adalah visualisasi tafsirannya terhadap objek yang difilmkan tersebut. Hal ini berarti bahwa apapun yang tersaji sebagai hasil produksi adalah paduan dari kedua sisi yang mempengaruhi cara sutradara menafsirkan Islam.

Dari tinjauan Barthes kami melihat bahwa ada proses naturalisasi makna terhadap konsep Islam awal yang diyakini sutradara. Ketidak sesuaian antara tokoh Fahri dalam novel dengan film. Hal ini diakui sendiri oleh Hanung dalam penggalan tulisannya. Bahkan Hansung memisahkan realitas film dengan konsep Islam semestinya yaitu terdapat dua adegan yang meskipun dalam film itu mungkin Islami tetapi terhadap penonton itu adalah representasi Islam. Adegan ketika Fahri dan Maria berduaan di tepi sungai Nil dan malam pertama Fahri dengan Aisha. Mazhab apapun dalam Islam tetap menganggap ini sebagai tontonan yang tidak Islami selama mereka berdasar pada Al Qura’an dan Hadist Nabi SAWW.

Latar belakang sutradara yang dekat dengan Muhammadiyah dan sarjana IKJ adalah sesuatu yang menjadikan makna film sebagai sekunder atau konotatif. Hanung menggambarkan Islam dalam film ini sebagai agama yang damai dengan konsepnya yang sempurna yang terwakilkan oleh para tokoh sedangkan tempat dan bahasanya digambarkan bahwa Islam itu Arab. Mempertontonkan konsep poligami ala Islam versi sutradar yaitu sangat terpaksa oleh keadaan, bukan atas dasar wahyu Tuhan atau petunjuk Nabi, sisi lain Hanung bermain di sini. Belum lgi ketidak sukaannya dengan ustad-ustad di TV dan pada tokoh-tokoh dalam yang menurutnya sangat membosankan dan Hanung sama sekali tidak berempati dengan hal itu.

Dari pembahasan singkat di atas tergambar bahwa Hanung melakukan dekonstruksi terhadap konsep Islam Skriptualis Muhammadiyah meskipun tetap menonjolkan sebagian besar konsep Islam tersebut pada panggung depan film sehingga memitoskan pandangan Hanung sendiri. Sedngakan ideologi yang ditawarkannya jelas jauh lebihdinamis dari sekedar Ideologi Puritan ala Muhammadiyah. Hanung menyisipkan perkelahian Ideologinya pada adegan perkelahian Fahri di atas metrobus dengan seorang Islam Eksposure. Secara konotatif, Hanung menggambarkan cacatnya konsep Islam ini dengan berbagai konspirasi dibalik pakaian gamis Arab Islami yang ingin mencelakakan Fahri.

KESIMPULAN

Berepa hal yang dapat kami simpulkan dari penelitian ini adalah ringkasan jawaban terhadap pertanyaan penelitian sebelumnya, yaitu bagaimana sutradara mengkonstruksi budaya Islam dalam filmnya dan iedeolgi yang ditawarkannya.

Sutradara mengkonstruksi filmnya didominasi oleh konsep Islam Skriptualis yang sangat Arabis, seolah-olah Islam adalah Arab. Meskipun demikian bukan hal ini yang menjadi poin utamanya melainkan kritikan terhadap budaya Islam yang telah menjadi “mitos” bagi kebanyakan masyarakat Islam Indonesia dengan adanya berbagai adegan berlawanan dengan kekakuan dan selubung kepentingan atasnama Islam. Sedangkan Ideologi yang ditawarkan sutradara sangat jelas yaitu Islam yang lebih dinamis yang tidak menganggap film itu sebagai barang haram tetapi sebagai refleksi atas kesucian diri dari tiap-tiap ummat.

Demikian tulisan hasil penelitian kami. Secara sadar, kami mengakui bahwa penelitian ini sangat jauh dari kategori kelayakan dan terdapat berbagai kekurangan bahkan kerancuan disana-sini. Menurut kami hal ini murni karena keterbatasan kami dan minimnya waktu penelitian dan penyusunan tulisan ini. Olehnya itu kami tetap mengharapkan masukan dan kritikan yang proporsional dan membangun agar bisa lebih baik di kesempatan lain.