Sepasang Jendela Sabtu Pagi

shutters-1067422_1280

Kisah-kisah menemukan pengulangan pada hitungan berbeda, pada wajah-wajah berbeda. Seperti sepasang jendela hijau setia menunggu matahari memberinya bayang-bayang. Ceritaku adalah tentang benda-benda, berjalan diam.

Kita bukanlah matahari, datang bersama kebaikan, pergi meninggalkan kebaikan. Kita adalah sepasang jendela hijau, bersama sejak pagi hingga sore, lalu ditiggal matahari. Sepi menggerogoti lipatan kitab-kitab, takluk pada sangsi sejak petang hingga fajar.

Jendela hijau tidak berbincang, dia bercerita kisah-kisah tersembunyi. Jendela hijau selalu bergerak, barangkali hanya aku dan kau menyaksikannya. Yah, aku dan kau adalah seribu jendela, kita adalah rahasia di baliknya. Sementara aku selalu ada dalam rahasiamu, menyaksikan segala yang kau sembunyikan dariku. Gerak kita seperti kota tua menyempurna, berubah wujud.

Kisah-kisah berulang, tentang kehancuran, duka-duka nestapa. Tetapi seperti itulah perjalanan, kita tidak menengadah pada matahari, meski di Sabtu pagi saat dia sedang lemah-lemahnya. Mata hati akan terpapar, mempercepat perjalanannya, dalam sepi dalam diam.

Kisah-kisah berulang, tetapi hidup tidak demikian. Maka, bersenandunglah merdu bersama bunyi-bunyi hentakan detik-detik. Kita adalah apa yang di balik jendela, menjumpaimu dalam derap keraguan, dalam malam pekat.

Hidup tidak menemukan pengulangan, sebab ia bukan pagi, bukan sore, bukan petang, bukan fajar. Dia senantiasa melangkah menuju benda-benda berlari-larian. Kau dan aku adalah saksi sepi perjalan, kelindan bisu gelap tersembunyi. Teruslah berjalan bertebaran di udara. Aku menjumpaimu dalam terang kerendahan, dalam remang kesemuan, dalam gelap ketinggian.

Hidup tidak berulang, kisah berputar kembali, maka urailah sinar mentari kepada setiap gelap. Biarkan sisanya tertinggal di bulan baru. Bukalah jendela setiap pagi, agar kita bisa berkelana mencari bayang-bayang.

Kisah boleh berulang, tetapi malam gelap tidak memiliki bayangan. Purnama bukanlah kebenaran kita, aku bukan pendarnya di jendela hijau, aku berjalan bukan di situ. Gemintang di langit jauh akan sirna dalam langkah pulang. Sehingga kau tahu, aku ada di setiap gulita mengantarkan pelita di minggu terakhir, seperti Sabtu pagi.

The Servant Rhapsody

6
Sepertinya hujan musim ini meneteskan air yang tidak cukup untuk memadamkan bara api mengenai berbagai tanya tentang hidup. Bukannya sok platonian, hanya saja, jalan panjang untuk ditempuh membutuhkan peletakan makna di titik awal yang memaksa memberikan penghargaan lebih kepada hubungan antar sesama daripada sekadar peruntungan material. Kedirian dan eksistensinya serta bagaimana menghargainya, benar-benar menempati peringkat teratas dari klasifikasi harga tersusun. Ceritakanlah tentang remeh temeh tanpa kesan komodifikasi, cukup kepedulian immaterial.
Kehidupan pelayan telah mengajarkan bagaimana rasa derita-derita. Jadilah saudara, sahabat karena hanya itu yang mampu menawar sakit. Derita bersama saudara itu lebih indah daripada kehidupan nyaman bergelimang harta dimana memperbudak diri adalah harganya. Ketika tawaran itu sama, telah lama itu tidak meruang bagi pelayan. Kehidupan yang hanya saling tegur sapa untuk pekerjaan adalah derita yang sebenarnya.
Pundak, bagi sahabat adalah pijakan, itu kebanggan pelayan. Perut boleh terluka menahan lapar atas nama persaudaraan adalah kesehatan jiwa pelayan. Menampik setiap belaian nasib untuk tidak berpisah dengan saudara adalah etika pelayan. Hanya saja, persaudaraan itu mestinya saling memanusiakan. Jika kepedualian hanya untuk hal material dan gilang gemilang kalkulasi kejayaan, itu adalah derita baru. Jika kepedulian hanya tampak dari pandangan mata, terdengar telinga yang berdekatan, itu bukanlah persahabatan. Biarlah rumah bagi pelayan adanya hanya dijalan yang terbiasa dengan derita, sesak oleh debu, terik mentari dan dinginnya hujan yang karib membasahi.  Derita-derita masih teratasi, entah sampai kapan hingga bendera putih benar-benar harus dikibarkan, tapi bukan sekarang. Semoga Tuhan selalu mengasihi semua mahlukNya.