Lagu Perang dan Kekalahan

Dia tidak akan lupa bagaimana dulu ketika semuanya berawal. Ketika burung camar terbang rendah bermain di atas buih-buih gelombang. Ketika angin sepoi berhembus malu-malu. Ketika hari sore hanya mengintip dari sudut matanya.
Dia tidak akan lupa mengucapkan terimakasih untuk setiap sungging senyum mengawali pagi. Untuk setiap gelak tawa, riuh rendah bahkan bulir-bulir embun di kelopak cakrawala.
Dia tidak akan lupa bagaimana raut wajah mereka yang memperkenalkan hidup. Telah banyak Intelektual meninabobokan mereka yang kelaparan. Dia tahu mengapa dapur di setiap rumah di tanah ini letaknya bukan di ruang tamu.
Inilah lagu perang dan ode kekalahan. Tanpa lipur dan perundingan. Ketika malam mendekat tanpa warta cerah mentari esok hari. Rima kekalahan kami merasa berarti. Pagar-pagar pemukiman dibangun semakin tinggi bahkan tidak menyisakan celah untuk suara seruling dan kepakan bangau persawahan.
Tembang kekalahan membahana mengabadikan kenangan kisah-kisah penuh harap. Kepastian adalah kabar buruk atas harapan-harapan yang tidak mewujud.
nb: pict source – asyikabdulrazak.blogspot.com – without permission

The Cangke Saga Part II

Found path to going home
Menguliti Kenangan
Lelaki itu terbangun bersama matahari membawa warta di bianglala. Pesta semalam tidak menyisakan lemas dan kantuk ataupun botol-botol minuman alkohol. Pesta semalam hanya meninggalkan bara dan arang  yang mulai bersujud di hadapan matahari. Bukan pesta selat Gibraltar atau kemerlap dunia malam Iberia, hanya dentuman djimbe dan seringai serat nilon yang bahkan tidak bisa memecah bisikan ombak yang tampil genit malam tadi.  
Matanya mulai awas, menjelajah setiap sudut yang masih mungkin. Rekan-rekannya tampak lelap terbuai usapan angin laut, mungkin sedang beterbangan di angkasa mimpi-mimpi. Segera dia membasuhi tenggorokannya, mengucap selamat pagi kepada lambung. Tetes-tetes air dari wajahnya membawa netra mencapai horizon.
Sebilah golok dan pisau dapur di tangan kiri-kanannya. Seperti ada yang memburunya, dia tergesa menuju sebatang pohon berjarak beberapa meter dari hammock kantongnya menembus malam. Dengan mudah dia berlompatan memanjat pohon itu, meloncat dari tangkai satu ke yang lainnya. Sepertinya dia telah lama berkenalan dengan pohon kenangan hingga akhirnya terduduk disalah satu dahannya.
Pohon itu dinaminya pohon kenangan. Pohon tempat orang-orang memahat kenangan di tengah-tengah pulau. Mungkin juga kenangan yang mereka bawa ke pulau itu. Sebagian besar  nama dia kenal  terpatri hampir disetiap kulit pohon. Ada yang telah terhapus berganti kulit, sebagai resistensi  pohon seakan lelah menanggung beban cerita-cerita. Sejenak dia melihat namanya bersama inisial kekasihnya, “hmmmhh mungkin butuh waktu tiga tahun lagi sampai nama-nama itu memudar”, gumamnya. Sementara tepat di kulit dahan yang didudukinya, juga terukir panjang nama lengkap kekasih yang selama tiga tahun lebih bersamanya membangun asa angan-angan.
Dia mulai menguliti kenangan. Menguliti pohon dimana kegembiraan dan bahagia pernah dia ukir di sana. Ternyata menguliti pohon itu tidak semudah yang dia bayangkan. Butuh waktu lumayan lama sampai goresan-goresan itu benar-benar bersih. Sama halnya dengan kesadarannya bahwa menghapus kenangan tidak akan pernah mudah, malah tidak mungkin. Selamanya kenangan akan hidup dalam ruang dan waktunya sendiri. Sembari menguliti, hadir beterbangan keping-keping romansa masa lalu yang berakhir dua minggu sebelumnya. Ada yang tersenyum ada juga yang menatap tajam dan sinis kearahnya.
Dia tahu pasti seperti apa rasa sakit yang ditanggung pohon saat dikuliti, sama seperti perih yang hampir saja membobol bendungan kelopak matanya kali ini. Perih yang dia tanggung bertumpahan berasa air laut malam-malam awal dua pekan lalu. Perih dari ingatan yang tidak mungkin terlupakan, tidak seperti pohon yang jika tergores, hanya menunggu waktu hingga bekasnya akan lenyap.
 The Black Joker
             Kau tahu aku suka main solitaire. Permainan kartu remi tanpa joker disertakan. Permainan yang sampai kapanpun tak mungkin kutamati.  Aku beranggapan bahwa, seperti solitairelah kesepian kita hari ini. Sesuatu yang besar selalu memparmainkan kita dalam aturannya yang tetap. Aku seperti memilih Joker hitam diantara merah dan hitam. Joker hitam yang tidak hadir dalam permainan. Aku yakin kau tahu, hitam dan merah warna kesukaanku, hampir untuk segala hal.
               Hitam dan merah yang kadang sukar kau pahami. Sepertinya kita sedang berada dalam permainan mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi yang membuatmu tertawa di hadapan layar kaca, melihat Sule ataupun Tukul. Mimpi-mimpi yang membuatmu kenyang, dengan oriental bento atau chicken fillet. Kadang aku merasa kau melihatku seperti kanal dan sampah kota kita padahal mereka adalah resiko dari mimpi-mimpi seperti yang kau puja. Resiko dari kelupaan tentang pasar-pasar tradisional dan orang-orang kecil seperti kami. Kadang aku curiga layar kaca menjadi cerminmu. Karenanya,  aku berusaha mengubur seleraku akan semua itu, biar aku tidak melupakan asalku dan kemana mestinya aku melangkah. Biar aku tidak lupa di mana dan di sebelah siapa aku sedang berdiri. Walau demikian, aku selalu tidak sanggup menolak setiap rengekanmu untuk mengunyah remah-remah saat bersama. Jujur saja, aku lebih berselara dengan indomie goreng yang kau masak disetiap malam indah dulu. Itu selalu mampu membekukan bara amarahku. Aku sangat menikmati teh hangatmu yang kurang gula dibanding pepsi yang penuh karbon. Aku bukan pohon, aku tidak bernafas dengan karbon.
                Kau lumayan mengenalku dengan warna hitam dan merah. Kadang kita saling melukai untuk hal itu. Tapi aku tidak akan pernah lupa bagaimana kerasnya kau mempelajari itu. Aku juga tidak akan lupa bagaimana raut wajahmu berubah masam saat semangatmu berkenalan dengan Karl Marx atau Freud selalu kupatahkan dengan diam. Saat itu, aku merasa kau lebih butuh belajar memasak agar kita bisa bertanding. Aku kadang jengkel ketika kau sepertinya berfikir bahwa aku mengetahui semua hal. Aku hanya berusaha mengetahui sebanyak dan sedalam mungkin tapi tidak mungkin semuanya. Aku memang tidak pernah bisa menjadi Joker hitam di hadapanmu. Kau selalu punya empat buah kartu As untuk menghentikanku.
                Bukannya aku tidak ingin menemani menjangkau harapanmu, aku hanya takut menyongsong kehidupan seperti itu, terlalu mengerikan bagiku. Sepertinya kita dipaksa mengurangi bahasa untuk menjalaninya. Walau aku tahu kau sangat peka dengan sekelilingmu, bagiku kadang berlebihan. Aku memberimu beberapa buku agar kita memiliki mata tambahan melihat sekeliling, memiliki telinga tambahan untuk mendengar, lidah tambahan untuk mengecap dan hati tambahan untuk merasa atau tidak terburu-buru cepat merasa. Agar keindahan yang kau jejal bukan hanya dari Tukul, tapi akhirnya aku harus sesegukan ketika kau mengakhiri ini. Kau tahu aku benar-benar Joker hitam handal di ruang-ruang lain. Biasanya kau marah dan membenci aku untuk peran itu. Tapi kau tahu aku benar-benar menikmati Freud dalam permainan solitaire.
                Kukatakan kepadamu dihadapan pohon kenangan, aku bisa menghadapi hari-hariku tanpa mu. Semuanya telah kuhapus, benar-benar terhapus. Aku menulis bukan untuk mendapatkanmu kembali. Satu hal yang membuatku sedih karena kau mengatakan tidak lagi percaya padaku. Aku juga telah memiliki pembungkus kado untuk membalut semua luka ketika melihat semua hal yang dulu kau berikan padaku.  Aku ingin kau belajar menjalani pilihan yang kau tentukan sendiri. Aku juga belajar menjalani pilihan yang kau tentukan untukku.
                Karena kau sudah tahu the Black Joker, akan kuceritakan beberapa hal yang kupendam tiga tahun bersamamu. Kau mungkin pernah dengar Gosho Aoyama, Tsun Zu, Sherlock Holmes, Ace Ventura, James Bond atau Indiana Jones. Aku sangat suka dengan mereka. Kujalani hari-hari sepanjang usia berdasarkan kitab yang mereka susun. Kau boleh mengurai setiap karakter yang kusebut dan yakinlah sebagian besar aku perankan. Sering aku menyamar untuk misi sosial tertentu. Aku senang permainan, yang benar-benar hidup. Sesuatu yang patut kusukuri karena tidak semua orang mampu menjalankan atau merasakannya. Hanya saja, wawasan yang kukumpul tiap hari mungkin belum menyamai kepekaan mereka, tapi aku bahkan berencana melampauinya. Denganmu, aku tidak menganggapnya sedang bermain, dan kau tahu itu. Walau kisah telah henti, aku bukanlah James Bond untuk cerita cinta, aku senantiasa menjaga kepercayaanmu. 
beloved daengbro and daengsist
 Sunset Pulau Cangqe, Epilog
 Setelah misinya selesai, lelaki itupun mulai mencoba menikmati pesta yang menghampar di sela cemara. Pagi berlalu cepat bersama tawa membumbung ke langit, menyentil awan hingga menangis. Seorang Sage yang telah lama mendiami pulau itu menemaninya tergelak akan hidup.  Sejenak dia berhasil melupakan ‘matahari’.
Satu yang belum mampu dia buang ke laut. Adalah janji untuk membawa gadis itu suatu saat ke tempat ini. Begitu rapat dia memendam janji itu, tetapi sebersit ragu mulai menghantui kelam harapannya. Akankah janji itu berakhir kebohongan. Bukankah janji adalah jujur saat ditepati, tetapi bohong jika sebaliknya.Sepertinya janji itu akan bohong.
Setidaknya sore ini sunset masih indah. Dia rekam baik-baik dalam ingatannya. Dia berjaga-jaga untuk menyimpannya. Cerita tentang sunset akan melipur janji suatu saat nanti kepada gadisnya dua minggu lalu. Sementara malam segera hadir, memeriahkan lantai dansa mengantar kita menjadi tarian kenangan.
dkDNsea, awal Juli

FACEBOOK, SELAMAT (TENGAH) MALAM

Sekitar jam setengah dubelas Jumat(20/02/09) malam kemarin, saya hendak pulang dari Pasar SOSPOL ke PKM. Beberapa orang di sana saya perhatikan sedang menjalani aktivitas yang sama, online. Seorang temanku sedikit gusar karena sedang mengunduh dvd debian 5, driver linux produksi asli Free Software Foundation karena jaringan sedang timbul tenggelam. Beberapa orang lain yang baru datang setalah terkoneksi dunia virtual kadang tertawa cekikin layaknya sedang bercanda dengan layar kotak dihadapan mereka. Sudut mataku mencoba mencuri pandang apa yang sedang mereka hadapi. Ternyata sebuah situs dengan ciri khas yang sangat aku kenali, menu bar biru, primery picture sebelah kiri atas, dan aplikasi di apit kiri dan kanan halamannya. Aku ingat dengan sangat apa saja yang berada di situs itu, apit kanannya berupa kolom iklan, kadang caleg, komunitas atau link ke situs-situs komersialan lainnya. Yah, situs itu adalah Facebook, tentu saja.

Sejurus kemudian, aku serasa kembali kepertengahan tahun 2007 lalu. Saat itu seorang teman memperkenalkan situs ini kepadaku, jejaring sosial baru yang lebih komplit dan menyenangkan, itu katanya. Tanpa pikir panjang, saat itu juga aku segera sign up. Kuawali “akun buku wajahku” dengan mendaftar di group-group diskusi luar negeri. Group-group lamaku berbasis di kota besar dunia semacam Tehran, London, Liverpool, L.A dan N.Y. Teman-teman baruku pun kebanyakan dari sana. Saat itu, sangat susah mencari teman dari Makassar, hanya ada beberapa orang, kesemuanya dari komunitas Biblioholic dan Ininnawa, selainnya hanya ada Toar Andi Sapada. Bahkan untuk network Indonesia masih susah, Jakarta sama sepinya dengan Makassar.

Lambat laun beberapa temanku mulai join. Aku ingat ketika beberapa dari mereka akan berangkat ke U.S.A, kupesankan agar join di facebook mulai dari sini, karena situs pertemanan di negara imperialis itu adalah facebook. Mereka memang join tapi setelah sampai di sana. Network mereka pun lokal sana. Salah seorang yang berangkat belakangan, join mulai dari sini tapi katanya buku wajah itu ribet.

Keping-kepingan memori yang mengisi perenunganku akhir-akhir ini. Aku pernah tertawa cekikin, kadang merasa elitis, bangga sekaligus narsis atau bahkan neurosis. Tentu saja karena fasilitas membuai khas facebook.

Akhirnya, tiga bulan terakhir aku merasakan sesuatu yang besar mulai terjadi di facebook. Semakin banyak orang bisa ditemukan buku wajahnya. Praktis buku ini menjadi buku favorit baru, menggantikan buku yang sebenarnya. Semacam aoutobiography atau riwayat hidup yang ditulis sendiri. Buku wajah memuat hampir semua kecenderungan dan data diri idael dari penggunanya. Mulai dari identitas diri, pandangan keagamaan, pandangan politik, aktivitas, sekolah, universitas sampai sedang berpacaran dengan siapa, pun ada di buku ini. Berbagai argumentasi pernah kulontarkan sebagai pembenaran. Ajang silaturrahim, lebih keren, banyak aplikasinya, komplit dan seterusnya. Aku tidak pernah curiga terhadap hal-hal disebaliknya, mungkin sama dengan kebanyakan penggunanya. Aku yakin, saat itu aku senang seperti senangnya Mark Zuckenberg telah membangun situs ini.
Setelah jenuh dengan tag photo, chatting dan wall comment, kualihkan kesenanganku kepada gaming. Triumph, werewolf, zombie, slayer, vampire, band battle, premier football, street premier football, dan hooligan wars adalah deretan game yang mengadiksiku saat itu. Berbagai urusan di dunia nyata banyak yang terbengkalai, karena jelas facebook lebih menarik.

Rentetan masalah yang timbul oleh kesenangan ini lah yang menerbitkan niatku berencana menutup akun. Ada pilihan lain, seperti pengurangan intensitas berfacebook, menjadi penghalang. Tekadku tidak berhenti begitu saja, aku ingat ketika Kang Jalal mengatakan kalau facebook menjadi salah satu penyumbang besar zionis dalam genocide di Gaza Strip. Ada yang malah mengatakan Facebook digunakan C.I.A untuk memantau dan mengontrol dunia. Sedangkan aku percaya beberapa perusahan besar transnasional mendapat keuntungan pangkat dua karena tidak perlu lagi membuat anggaran untuk melakukan survey khalayak calon konsumen produk mereka. Semuanya tersedia di facebook.

Beberapa hari yang lalu aku berhasil menutup akunku selamanya berkat bantuan seorang saudara. Sebelumnya hanya bisa deactivated account tapi selalu bisa login lagi. Titik kulminasi tercapai, ternyata mampu untuk “berkata tidak” adalah sesuatu yang membahagiakan. Buncahan meletup, bahkan pertemanan itu lebih indah secara langsung. Masih banyak space bebas jika hanya untuk chating selain buku wajah. Menyenangkan memang bermain facebook, saya hanya tidak ingin merasa sedang diawasi, menyumbang untuk penghapusan etnis dan neurosis.

Sepanjang jalan mulai dari FIS III, aku lihat lumayan ramai di depan sekretariat HMJ-HMJ SOSPOL. Aku yakin mereka sedang bermain facebook. Kuteruskan langkahku dengan tarikan nafas dalam-dalam, langkah kaki yang ringan menembus malam. Sepanjang trotoar jalan di sekitaran Sastra hingga depan dan beranda gedung Rektorat kulihat banyak orang duduk berjejer rapi dan semuanya sedang berfacebook ria. Aku merasa bahagia mampu melawan diriku untuk terbebas dari virus mematikan (terurama otak) ini. Wajar ketika beberapa kakak menyampaikan kekesalan mereka terhadap pelayanan beberapa perusahaan publik yang menyebalkan akibat staff mereka lebih memilih dicandui facebook daripada melayani kostumer.

Sesampainya di PKM aku lansung tidur tenang dan sempat berucap dalam hati, Selamat malam Facebook. Kita tidak akan bertemu lagi hingga esok ketika mentari kecewa melihat aku mampu bangun pagi.