Kuala Mempawah Melawan Badai

IMG_20151209_083310_119

“Togo di Kuala udah habis semuanye bang, habis dikena ribut semalam bang,” potongan sms berdialek Melayu Kalimantan Barat dari Feri, pemuda yang selalu bangga menjalani pencahariannya sebagai nelayan. Dia mengabarkan jaring penangkap udang masyarakat Kuala Mempawah telah porak-poranda diamuk badai semalam. Sekilatan saja, warta ini menarik seluruh kesadaranku pada realitas nelayan togo (nelayan penangkap udang memakai jaring togo), menerbitkan kesedihan membayangkan putaran nasib yang sedang berlaku sial bagi mereka.

*

Kabar bencana melanda beberapa titik di tanah air berseliweran di lini masa media sosial hari ini. Banjir melanda Padang, banjir dan longsor di beberapa kabupaten di Jawa Tengah, dan ancaman cuaca buruk siap menerkam nusantara, hadir kembali menguji seberapa tanggap negara dan seberapa peka masyarakat terhadap warta seperti ini. Saya hanya berharap, semoga nestapa sebagian dari kita adalah nestapa kita juga, meski harapan ini sepertinya sungguh sulit memindahkan lampu sorot dari wajah Ibu Saeni, Mojokdotcom, Kompas, dan FPI yang lagi memuncaki klasmen pewacanaan oleh media-media berpaham jurnalisme pemburu klik.

Tentu saja, bencana yang sedang dihadapi masyarakat nelayan di beberapa kampung di Kuala Mempawah sulit kita temukan di lini masa kita. Mereka sedang hanya diuji Tuhan, tidak sedang berurusan dengan rente, iluminati, politik, teroris, dan banyak hal yang sejak dulu tidak berniat mensejahterakan orang-orang biasa, tetapi memenuhi setiap kanal aliran informasi. Perihal hidup mereka adalah urusan mereka sendiri, jarang kita bertemu kedaulatan negara berada di pihak mereka.

Saya sangat yakin mereka akan mampu menghadapi badai kali ini, meski itu dengan perjuangan sangat besar. Rumah-rumah togok di tengah laut telah terkapar, lambat laun akan tergantikan. Itu akan mereka bayar dengan segenap perjuangan, melewati hari-hari Ramadan dengan menguras segala harta yang tersisa agar produksi mereka di laut berlanjut lagi. Agar bisa bertahan hidup.

Bencana kali ini bagi Feri adalah ujian Tuhan, yang diyakininya mencintai mereka, kepadaNya jugalah Feri mengharap kasih pertolongan. Sehingga mereka akan berjuang penuh sabar, memulai lagi memasang pancang-pancang yang harganya tidak murah itu. Mereka tidak berani berharap banyak kepada siapapun, mereka tahu itu. Mereka sedang menghadapi kealamiahan, musim selatan selalu membawa petaka. Meski sebenarnya efeknya bisa diredam dengan rekayasa dari yang lebih berkuasa, tapi itu terlalu muluk bagi mereka.

Akhir tahun lalu, saya menghabiskan waktu lebih sebulan bergembira bersama mereka. Dari balik jaring-jaring togok, wajah-wajah ramah para penyintas ini seringkali berubah merah jika trawl menajuk pembicaraan. Sejak pertengahan 1980an, trawl telah menjadi musuh utama nelayan Kuala Mempawah. Berbagai konflik horizontal telah mereka lalui, kadang berakhir di surat pernyataan, atau kesepakatan-kesepakatan. Tapi tidak pernah menghentikan praktik biadab penangkapan ikan ini. Sejak pemerintah menghimbau melalui aturan resmi di awal 1980, mereka tidak butuh waktu lama untuk ikut aturan. Hanya saja, nelayan lain dari luar wilayah laut mereka tidak turut aturan pemerintah.

Selama lebih dari 20 tahun, penurunan produksi telah menjauhkan kata nelayan sejahtera dari benak mereka. Semua karena ulah trawl, yang entah karena apa memiliki imunitas hukum yang begitu kuat. Atau mungkin hukum sedang impoten, tidak sedang ingin dijalankan untuk mereka yang taat. Hasil jerih payah harian mereka, hanya untuk menjaga siklus ekonomi yang cenderung konstan menurun, yang penting hidup terus berlanjut.

Selama lebih dari 20 tahun, negara bagi mereka adalah KTP dan Pemilu saja. Telah terlampau banyak alibi normatif yang lebih drama dari sinetron, labih dari sekadar lip service dialamatkan kepada mereka oleh pihak-pihak yang mewakili negara. Tidak ada satupun berubah aksi, tidak ada niatan serius dari penyelenggara negara memihak mereka, yang taat hukum.

Hari ini mereka menanggung beban hidup yang jauh lebih berat dari biasanya. Mereka akan melewati itu, perlahan-lahan, tanpa negara, sekali lagi. Bencana adalah masalah parsial di mata mayoritas. Bisa jadi, bencana alam adalah urusan privat orang-perorang dengan Tuhannya, yang lain tidak usah peduli, termasuk negara, apalagi ini bukan berita viral. Mungkin sama halnya dengan berbagai kampung-kampung nelayan di tanah air menghadapi cuaca buruk, atau kampung-kampung orang-orang biasa lainnya, hadapi sendiri.

Advertisements

Sepasang Jendela Sabtu Pagi

shutters-1067422_1280

Kisah-kisah menemukan pengulangan pada hitungan berbeda, pada wajah-wajah berbeda. Seperti sepasang jendela hijau setia menunggu matahari memberinya bayang-bayang. Ceritaku adalah tentang benda-benda, berjalan diam.

Kita bukanlah matahari, datang bersama kebaikan, pergi meninggalkan kebaikan. Kita adalah sepasang jendela hijau, bersama sejak pagi hingga sore, lalu ditiggal matahari. Sepi menggerogoti lipatan kitab-kitab, takluk pada sangsi sejak petang hingga fajar.

Jendela hijau tidak berbincang, dia bercerita kisah-kisah tersembunyi. Jendela hijau selalu bergerak, barangkali hanya aku dan kau menyaksikannya. Yah, aku dan kau adalah seribu jendela, kita adalah rahasia di baliknya. Sementara aku selalu ada dalam rahasiamu, menyaksikan segala yang kau sembunyikan dariku. Gerak kita seperti kota tua menyempurna, berubah wujud.

Kisah-kisah berulang, tentang kehancuran, duka-duka nestapa. Tetapi seperti itulah perjalanan, kita tidak menengadah pada matahari, meski di Sabtu pagi saat dia sedang lemah-lemahnya. Mata hati akan terpapar, mempercepat perjalanannya, dalam sepi dalam diam.

Kisah-kisah berulang, tetapi hidup tidak demikian. Maka, bersenandunglah merdu bersama bunyi-bunyi hentakan detik-detik. Kita adalah apa yang di balik jendela, menjumpaimu dalam derap keraguan, dalam malam pekat.

Hidup tidak menemukan pengulangan, sebab ia bukan pagi, bukan sore, bukan petang, bukan fajar. Dia senantiasa melangkah menuju benda-benda berlari-larian. Kau dan aku adalah saksi sepi perjalan, kelindan bisu gelap tersembunyi. Teruslah berjalan bertebaran di udara. Aku menjumpaimu dalam terang kerendahan, dalam remang kesemuan, dalam gelap ketinggian.

Hidup tidak berulang, kisah berputar kembali, maka urailah sinar mentari kepada setiap gelap. Biarkan sisanya tertinggal di bulan baru. Bukalah jendela setiap pagi, agar kita bisa berkelana mencari bayang-bayang.

Kisah boleh berulang, tetapi malam gelap tidak memiliki bayangan. Purnama bukanlah kebenaran kita, aku bukan pendarnya di jendela hijau, aku berjalan bukan di situ. Gemintang di langit jauh akan sirna dalam langkah pulang. Sehingga kau tahu, aku ada di setiap gulita mengantarkan pelita di minggu terakhir, seperti Sabtu pagi.

Kisah Wak Mik dari Desa 1000 Bubu

Fasilitator Sekaya Maritim bersama Pak El dan Wak Mik
Fasilitator Sekaya Maritim bersama Pak El dan Wak Mik

Daerah Muara Sungai Mempawah, Kalimantan Barat senantiasa bergeliat seiring waktu. Semenjak kedatangan Opu Daeng Manambon, seorang pengembara Bugis yang akhirnya mampu mempersatukan suku-suku di Mempawah beberapa abad silam. Kedatangan Opu Daeng Manambon menjadikan daerah ini terus bertumbuh menjadi negeri makmur oleh hasil laut yang melimpah. Sejak masa Hindia Belanda hingga sekarang, status Kuala Mempawah tetaplah tenar dengan hasil lautnya.

Desa Kuala Secapah dan Kelurahan Pasir Wan Salim adalah dua wilayah pemukiman di Kuala Mempawah yang saling berbatasan sungai. Mayoritas penduduknya adalah nelayan. Sumber ikan di Pontianak dan kota-kota lain di Kalimantan Barat berasal dari Desa Kuala Secapah.

Kuala Secapah sendiri merupakan desa dengan jumlah nelayan paling banyak di Kabupaten Mempawah. Beragamnya jenis ikan dan udang secara alami memberikan pilihan kepada para nelayan untuk memilih alat tangkap utama yang paling mereka andalkan. “Kami bisa menggunakan alat tangkap apa saja,” kata Ibrahim (29 tahun). Ibrahim adalah seorang Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB). Ia menggunakan alat tangkap jaring togok untuk menangkap udang. Lantaran itu nama KUB mereka adalah Udang Kuning.

Muahammad Jamil (50 tahun) akrab disapa Wak Mik, Kepala Dusun Karya, Desa Kuala Secapah mengisahkan, masa remajanya sebagai anak nelayan dilaluinya dengan keberhasilan-keberhasilan kecil sebagai nelayan mandiri pemula.

“Awalnya saya punya satu satu piece jaring togok, dan masih numpang kapal orang melaut. Hasil tangkapan bagus, jaring togok saya jadi tiga, lalu saya beli sampan dan mesin sentak Kawasaki.” Kenang Wak Mik. Seiring waktu, Wak Mik punya sembilan piece jaring togok, sampan seluas enam depa dan mesin TS series Yanmar. Kini, Wak Mik mempekerjakan dua orang karyawan. “Saat itu saya berani mimpi dan yakin mampu untuk menyejahterakan keluarga dan menyekolahkan anak,” tutur Wak Mik

Mimpi indah Wak Mik itu tiba-tiba terhenti setelah diberlakukannya Kepres No. 39 Tahun 1980. “Hambatan saya berhenti togok ini gara-gara trawl. Semenjak Laut Mempawah diganggu trawl kehidupan nelayan menjadi sulit. Saya yakin nelayan Kuala Secapah bisa lebih sejahtera jika trawl tak berkuasa di sini,” terang Wak Mik. Sesepuh kampung ini juga mengaku masih selalu terpengaruh amarah jika membicarakan trawl. Betapa dia telah dirugikan, mata pencahariannya terganggu, bahkan pernah terancam nyawa. Dia sempat hampir celaka ketika terjadi konflik antara nelayan Kuala Mempawah dengan para nelayan pengguna trawl.

Jaring Togok yang digunakan nelayan Kuala Secapah
Jaring Togok yang digunakan nelayan Kuala Secapah

“Dulu itu, meskipun harga ikan masih murah, uang tiga juta gampang didapat dalam sehari, sekarang kadang nda dapat hasil,” ujar Asmuni (65 tahun), nelayan sepuh Kuala Secapah. Ia memiliki perahu dengan bobot kurang dari 5 GT.

Sejak adanya aturan pelarangan, tidak butuh waktu lama masyarakat Kuala Mempawah benar-benar meninggalkan trawl. Hanya saja masyarakat lain di pesisir Laut Mempawah masih tetap menggunakannya. Mereka yang merasa dirugikan kemudian melawan, dan sempat beberapa kali membakar jaring trawl. Kejadian terbesar yang dianggap tidak pernah menyelesaikan masalah mendasar terjadi di tahun 1990, Wak Mik masih menyimpan dokumen konflik itu. “Nelayan Kuala Secapah ini rata-rata nelayan kecil dan banyak yang nelayan buruh, mengandalkan hasil tangkapan. Sekarang rasa-rasanya saya tidak mampu lagi membangun rumah seperti zaman saya togok dulu.” kata Wak Mik.

Alam selalu memiliki batasannya, waktu regenerasi biota laut tidak lagi berjalan normal selama puluhan tahun. Hasil tangkapan nelayan Kuala Mempawah senantiasa menurun dari tahun ke tahun. Keserakahan dan pengabaian aturan negara dipertontonkan ramai di perairan Laut Mempawah oleh banyak nelayan yang menggunakan trawl.

Suasana kapal-kapal parkir di Kuala Mempawah
Suasana kapal-kapal parkir di Kuala Mempawah

“Berbagai macam cara telah kita tempuh, masalahnya pengguna trawl itu sangat banyak, terkonsentrasi di daerah selain Kuala Mempawah.” keluh Teddy Prawoto, Kabid Perikanan Tangkap DKP Mempawah. Masalah lainnya yang ia sebutkan bahwa kadang ada juga aparat keamanan yang memiliki trawl. Diapun membenarkan mengenai konflik-konflik horisontal antar nelayan yang terjadi akibat masih ramainya penggunaan trawl. Upaya mendekati nelayan pengguna trawl dan melarangnya juga belum berhasil. Mereka selalu berkilah seperti itulah caranya cari makan. “Mereka bilang buat cari makan, kitapun masih bisa cari makan tanpa pake trawl.” Kata Asmuni.

Masyarakat Kuala Secapah sejak enam tahun lalu saling menggalakkan apa yang mereka sebut Desa 1000 Bubu. “Namanya Desa 1000 Bubu, kenyataannya bubu yang ada lebih dari 3000 buah,” kata Mawardi, Kepala Desa Kuala Secapah. Sebutan ini sebenarnya serupa strategi mereka untuk meningkatkan hasil tangkap. Caranya dengan membuat bubu sebanyak-banyaknya. Membuat banyak bubu biayanya tidaklah murah. Dengan begitu, pun masih sering mereka kehilangan bubu di laut akibat adanya penjaring trawl di lokasi pemasangan bubu. “Tahun lalu saya membuat 100 bubu tapi akhirnya bangkrut karena trawl,” cerita Yandi (40 tahun). Bubu yang bisa bertahan biasanya yang dipasang di daerah “aman” terumbu karang.

Nelayan Kuala Secapah, dengan impian 1000 bubunya saat ini belum memadai untuk peningkatan taraf hidup mereka. Masalah mendasarnya tidak pernah terselesaikan, jika trawl tak bisa dihentikan.

***

*tulisan ini diterbitkan di newsletter Sekaya Maritim I oleh DFW Indonesia dan KKP

*foto & teks Darmadi Tariah