Puisi REFLEKSI Setengah Windu Purnama

 

Ku tidak meminta Tuhan menjadi pelayanmu.

Ku tidak meminta setan merasukimu.

Kau hanya sedang sakit.

Aku sakit.

 

Katamu,

Kau ingin aku berjalan tegak, jangan membungkuk.

Kau ingin aku tidak sujud, agar kepala menjauhi dubur dan kelamin.

 

Katamu,

Kau ingin aku melepaskan sedikit dua hal pengganti  Tuhan dan setan.

Kau ingin aku membuang sedikit dua hal yang memenuhi batok kepalaku.

Tai dan kelamin.

 

Katamu,

Jangan perut jadi kepala dan kepala jadi perut.

Karena aku ingin jadi brengsek, menggandeng setan menuju Tuhan.

PS:
Setengah windu yang lalu Purnama berawal. Saat itu, kegiatan ini berlangsung setiap malam bulan purnama di teater terbuka dekat danau Unhas. Biasanya ramai dan sebagian besar orang-orang yang hadir telah saling kenal mengenal. Ibarat pelangi, banyak warna yang berpadu, ada hitam, merah, hijau, kuning, biru, putih dan sebagainya. Semua mendapat giliran membaca puisi, apa saja.
Aku senang dengan Purnama, setidaknya semua orang bisa berpuisi tanpa tetek bengek seni dan sastra, apalagi politisasi wacana puisi dominan.  Bagiku, Purnama bukan tempat menyanjung Sultan Hasanuddin ataupun para penguasa semacamnya. Purnama penuh keriangan dan terasa hidup. Tidak jarang  rima dan bait-baitnya adalah kutukan buat pemerintah. Biramanya kadang satir penuh ironi. Biasanya menjelang Purnama aku membuat puisi,  kadang juga membaca puisi dari buku-buku yang sengaja disiapkan bagi yang belum menyiapkan puisi. Setelah beberapa lama Purnama vakum, mungkin karena satu-persatu pesertanya telah terpencar mengikuti langkahnya masing-masing. Walau langkah berjauhan, semoga tujuan kita tetap sama.
Tahun lalu, Purnama ada lagi tetapi tidak semeriah dulu dan bukan lagi di tempat yang sama. Beberapa kali mengambil tempat di atap sebuah gedung berlantai empat di Tamalanrea. Sampai sekarang Purnama tetap ada, tetap sepi. Purnama selalu mengingatkan ku pada seorang kawan yang berpesan, “Jangan berhenti jadi brengsek.” Aku senang dengan apa yang disebutnya brengsek, semoga di sebelah sana, dia juga masih tetap brengsek.
dkdnwelt

Seperti Petang Ini

Memberi makna kertas kosong.
Tanpa gambar tanpa tulisan.
Lalu berharap kehilangan harapan.
pengulangan maka mencari makna.

Langit yang biru tak pernah indah.
Pelangi pasti butuh air.
Ubur-ubur tak akan jadi pasir.
Sekeras apapun ombak membuainya.

Seperti petang ini.
Lalui jalan yang sama.
Basah dan licin.
Menuju sudut yang sama.