Kisah Planet Lino

Planet Lino

Tersebutlah kisah di masa lampau, di sebuah planet permai bernama Lino, penghuninya disebut Malino. Orang-orang hidup rukun dan damai. Keluarga selalu menjadi ruang-ruang hangat, menumbuhkan anak-anak penyayang penuh kasih sesama. Tetangga adalah sahabat, senantiasa ada di kala senang maupun sedih. Malino saling memandang sebagai manusia satu dengan lainnya, sama-sama makhluk bertuhan yang setara derajat kehormatannya. Pemimpin mereka bijak bestari, seorang ratu rupawan. Ratu Bulawan, meski usia sengit menggerogoti kecantikannya, namun seiring waktu dia memperoleh hadiah gurat-gurat saga dari balik kulitnya.

Di dalam istana Ratu Bulawan, terdapat sebuah perpustakaan. Ruangan indah itu terbuka kepada siapa saja. Selalu ramai dikunjungi para pecinta ilmu pengetahuan. Mereka menganggap datang ke perpustakaan adalah mengunjungi makam suci, bukan hanya pengetahuan tetapi turut menjabat erat tangan cendikia sepuh leluhur.

Perpustakaan itu dijaga beberapa orang, terpilih berdasar garis keturunan. Setiap dari mereka membawa pesan rahasia dari orang tuanya, agar jangan sesekali membuka pintu ruang kecil di sebelah barat ruangan. Orang-orang tua pendahulu mereka telah mengemban amanah itu setiap generasi. Tiada dari mereka yang lalai hingga masa Ratu Bulawan bertahta. Pesan rahasia itu bahkan tidak diketahui keluarga inti istana.

Hingga suatu siang, Pangeran Sose sedang asik membaca sebuah buku petuah. Banyak pesan indah ditemui dalam lembaran-lembaran tua kitab di hadapannya. Tidak jauh dari meja bacanya, dua orang penjaga perpustakaan sedang berbincang dalam suara rendah. Meski demikian, Pangeran Sose memiliki kemampuan pendengaran yang baik, dia bisa mendengar jelas setiap suara yang bersumber dalam radius 25 kaki. Tidak pernah dia terusik jika sedang membaca, seolah dia tenggelam dalam lipatan-lipatan aksara yang dibacanya. Hanya saja, tidak pernah juga dia mendengar percakapan nyaris bertengkar seperti kedua penjaga itu.

“Kamu tidak pernah bertanya alasan amanah ini?” Kata salah seorang dari mereka. “Aku tidak berani” jawab temannya. “Sesungguhnya saya sangat ingin tahu alasannya saja, saya tidak perlu tahu ada apa di ruangan barat itu,” kembali dia memperjelas arah pertanyaannya. temannya menimpali, “bukankah keingin tahuan pada yang bukan hak sudah cukup jadi larangan untukmu tidak melanjutkan semua ini?”

Perdebatan seperti itu bukanlah hal biasa bagi Malino, termasuk Pangeran Sose. Suara-suara itu mengganggunya, membuatnya penasaran, hingga ia menyimaknya tuntas.

*

Tiba-tiba, kehidupan di Lino berubah. Malino memandang sesama dalam tatap kerendahan. Entah bermula sejak kapan dan karena apa, hati masyarakatnya kehilangan gelombang satu dengan lainnya. Kehormatan sangat tergantung pada sektor mana mereka tinggal. Selain kaum istana, hanya mereka yang dari Sektor 14 dianggap terhormat, sebab mereka memiliki banyak madu, benda pemanis paling berharga di Lino.

Pangeran Sose adalah pemimpin warga Sektor 14. Telah lima tahun dia tidak lagi hidup di istana, tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan. Sayang sekali, meskipun tidak semua Malino Sektor 14 berperangai buruk, tetapi mereka terkenal kikir, tidak suka berbagi antara sesamanya, apalagi dengan warga di luar sektornya.

Sekali dua kali beredar rumor mengenai menguatnya keluhan-keluhan warga Sektor 14. Beberapa dari mereka mengaku selalu kehilangan beberapa liter madu. Lain halnya dengan warga luar Sektor 14, banyak di antaranya mengeluhkan kekejian majikan kerja mereka yang juga adalah warga sektor itu. Tidak sedikit yang merasa diupah jauh lebih rendah dari perbandingan tingkat kerumitan dan lama waktu kerja. Ada yang bahkan kadang tidak mendapat upah sama sekali pada sekali periode pengupahan.

Warga Sektor 14 yang merasa dirugikan karena selalu kehilangan madu senantiasa melapor ke Pangeran Sose. Setiap kali mereka melapor, sesaat itu juga menuai kekecewaan. Pangeran Sose mereka anggap tidak berusaha serius menyelesaikan masalah, meski upeti keamanan selalu mereka setor. Pekerja dari sektor luar 14 mengalami hal serupa, laporan mereka kepada Pangeran Sose tentang beberapa nama majikan warga wilayahnya juga berakhir di ujung jalan kekecewaan.

Kecurigaan dari warga Sektor 14 kepada warga sektor lain sebagai pencuri madu saban hari semakin meningkat, meski tidak ada saksi dan bukti atasnya. Desas-desus beredar di seantero Lino, berhembus kabar para pekerja untuk majikan di Sektor 14 akan melakukan sesuatu untuk menuntut hak mereka.

Kedua kubu yang kecewa ini sebenarnya memiliki masalah yang sama. Penguasa Sektor 14 tidak menunjukkan itikad baik sebagai pemimpin. Pangeran Sose gagal menyajikan jaminan keamanan warga sektornya, dia gagal menegakkan hak pekerja. Api dalam sekam semakin lama semakin besar, kedua kelompok menyimpan bara dalam hati, siap-siap membakar sesiapa yang di luar kelompoknya.

Kehidupan di Lino tidak baik-baik saja, kekacauan melanda, perang berkecamuk hingga pelosok planet paling jauh. Ratu menghilang entah ke mana, tiada teladan dan pemimpin panutan. Kata permai ikut raib dari wajah-wajah penduduk Lino.

Bala tak terbendung, menyasar setiap lorong gelap malam. Memangsa sesiapa yang bertahan dalam harap. Menebar ancaman kehinaan di setiap jengkal langit kota-kota. Menghembuskan racun ke udara hingga ke desa-desa. Lino dalam titik terlemahnya.

Tampillah beberapa penyihir berwajah jelita, merapal mantra-mantra cemerlang. Tetapi mereka tidak tulus dan hanya memanfaatkan kekacauan saja. Tujuan mereka adalah untuk diri mereka sendiri saja, mereka ingin menguasai perkebunan lebah sebisanya. Masyarakat Lino yang terpuruk telah banyak yang setia dan tertipu pada kata-kata penyihir ini, sesungguhnya mereka golongan hitam.

Sedikit orang pengikut penyihir jelita mulai tersadar akan suasana. Mereka mendapati kenyataan pahit, para penyihir panutan itu ternyata cecunguk peliharaan Pangeran Sose. Dari yang sedikit itu, beberapa berhasil keluar dari pusaran kekacauan, beberapa mati terbunuh saat mencoba lari.

Dalam suasana tak tentu arah, setiap sudut kemungkinan rasanya akan berakhir sama pada kehancuran. Tampillah Tifa, pemuda istana pewaris kebajikan kerajaan, mulai menerabas segala duri-duri kekacauan di tengah masyarakat Planet Lino. Dia putra Ratu Bulawan, kakaknya adalah putra mahkota, telah terbunuh bahkan saat ibu mereka belum menghilang. Sebelum tampil di tengah pergolakan Planet Lino, dia menimba ilmu di desa jauh bernama Sare Lopi, sebuah desa terpencil di Perbukitan Dante Lopi.

Perlahan, dia membangunkan tidur derita masyarakatnya. Mengajak Malino pelan-pelan meninggalkan mimpi-mimpi indah seperti janji para penyihir, bangkit bergerak dan melawan tirani jahat yang sedang merajalela. Dia menumbuhkan harapan baru di hati sebagian kecil masyarakatnya,

Jumlah pengikut Pangeran Tifa tidaklah banyak, mereka pasti akan hancur berantakan jika harus berhadap-hadapan dengan pasukan penyihir-penyihir jahat Pangeraan Sose. Mereka mimilih menghindari kekacauan menuju tanah baru, Dante Lopi, tanah yang masih menjajikan kedamaian.

Menuju Dante Lopi, mereka harus menyeberangi jembatan merah yang berbahaya. Di sana, mereka bertekad membangun masyarakat baru, yang berbeda dengan masyarakat Lino saat ini. Untuk memulai cita luhurnya, mereka menyusun strategi pamungkas agar selamat keluar dari pusat kekacauan di Ibukota Planet Lino.

Hari yang dinanti pun tiba, mereka menjalankan strategi pamungkas nyaris tanpa cacat. Seluruh madu yang tersisa ditumpahkan bersama-sama di suatu lapangan sehingga para pengacau dan pasukan penyihir teralihkan berebutan madu. Mereka tidak lupa menanam bilah besi sebelum menyeberangi jembatan merah. Bilah-bilah itu ditanam melingkar membentuk taman besi, di tengah-tengahnya mereka meletakkan batu lempeng berbentuk bulat seperti roda. Suatu saat mereka akan kembali ke taman itu, mereka menamakannya Taman Linoraya. Pangeran Tifa memimpin Malino pengikutnya menyeberangi jembatan merah.

Advertisements

Sepasang Jendela Sabtu Pagi

shutters-1067422_1280

Kisah-kisah menemukan pengulangan pada hitungan berbeda, pada wajah-wajah berbeda. Seperti sepasang jendela hijau setia menunggu matahari memberinya bayang-bayang. Ceritaku adalah tentang benda-benda, berjalan diam.

Kita bukanlah matahari, datang bersama kebaikan, pergi meninggalkan kebaikan. Kita adalah sepasang jendela hijau, bersama sejak pagi hingga sore, lalu ditiggal matahari. Sepi menggerogoti lipatan kitab-kitab, takluk pada sangsi sejak petang hingga fajar.

Jendela hijau tidak berbincang, dia bercerita kisah-kisah tersembunyi. Jendela hijau selalu bergerak, barangkali hanya aku dan kau menyaksikannya. Yah, aku dan kau adalah seribu jendela, kita adalah rahasia di baliknya. Sementara aku selalu ada dalam rahasiamu, menyaksikan segala yang kau sembunyikan dariku. Gerak kita seperti kota tua menyempurna, berubah wujud.

Kisah-kisah berulang, tentang kehancuran, duka-duka nestapa. Tetapi seperti itulah perjalanan, kita tidak menengadah pada matahari, meski di Sabtu pagi saat dia sedang lemah-lemahnya. Mata hati akan terpapar, mempercepat perjalanannya, dalam sepi dalam diam.

Kisah-kisah berulang, tetapi hidup tidak demikian. Maka, bersenandunglah merdu bersama bunyi-bunyi hentakan detik-detik. Kita adalah apa yang di balik jendela, menjumpaimu dalam derap keraguan, dalam malam pekat.

Hidup tidak menemukan pengulangan, sebab ia bukan pagi, bukan sore, bukan petang, bukan fajar. Dia senantiasa melangkah menuju benda-benda berlari-larian. Kau dan aku adalah saksi sepi perjalan, kelindan bisu gelap tersembunyi. Teruslah berjalan bertebaran di udara. Aku menjumpaimu dalam terang kerendahan, dalam remang kesemuan, dalam gelap ketinggian.

Hidup tidak berulang, kisah berputar kembali, maka urailah sinar mentari kepada setiap gelap. Biarkan sisanya tertinggal di bulan baru. Bukalah jendela setiap pagi, agar kita bisa berkelana mencari bayang-bayang.

Kisah boleh berulang, tetapi malam gelap tidak memiliki bayangan. Purnama bukanlah kebenaran kita, aku bukan pendarnya di jendela hijau, aku berjalan bukan di situ. Gemintang di langit jauh akan sirna dalam langkah pulang. Sehingga kau tahu, aku ada di setiap gulita mengantarkan pelita di minggu terakhir, seperti Sabtu pagi.

Ramadhan Memang Holiday

our own courtesy

Tanpa proses pengalamiahan makna, saya mencoba melupakan sejenak riuhnya politik bangsa kita yang semakin spectacle. Jokowi mungkin tidak berniat menggangu tuan-tuan itu, tidak akan dia menghilangkan Central Park Jakarta atau berbagai kasus perebutan lahan oleh perusahaan-perusahaan properti gergasi. Akan tetap ada perebutan lahan dan penggusuran. Jokowi pada sisi tertentu tetaplah tontonan yang semakin menjauhkan kesadaran kelas dan kemanusiaan dari ranah wicara dan praktiknya. Akan dibangun menara-menara Babel baru yang menjauhkan pijakan orang-orang dari tanah, menjauhkan tetangga dari tetangganya, memilah kasih sayang dari maknanya dan memisahkan agama dari Tuhannya.

Konsumsi didesain melalui kanal-kanal segala media benar-benar mendapatkan panggung perayaan sekaligus pesta perkawinan kapitalis dan agama.  Sebenarnya bahkan tanpa Ramadhan media-media tontonan ini telah didesain seragam, juga untuk menyeragamkan (juga baca: menumpulkan) pendapat dan imajinasi. Dari pagi sampai pagi, seluruh stasiun TV nasional benar-benar memiliki acara yang seragam. Bahkan tidak butuh buku sosial mutakhir untuk mengatakan tontonan kita adalah sampah. Tidak perlu teori kritis untuk menyatakan kesamaan KFC dan McD dengan semua stasiun TV nasional kita, mereka memaksa kita mengonsumsi segala hal “junk”  dalam tontonan, keyakinan hingga makanan.

Saya tidak sedang ingin membahas hal-hal di atas terlalu jauh, takut terkesan trendy dan momentum (eh, kalau iya memangnya kenapa? Hahahahah). Yah, tanpa apologi, hanya suplemen serampangan, “hal-hal tersebut telah cukup dominan mengisi segala sendi kehidupan kita”. Bolehlah sejenak menegasinya lebih ke pinggir, bukan melupakan.

Saya berusaha berbagi rasa mengenai kecapanku terhadap Ramadhan kali ini. Tentu saja, saya menganggap Ramadhan sebagai liburan. Seperti sedang berada di pulau Cangke, memiliki uang sedikit tidak jadi soal apalagi kalau banyak. Hanya saja status material ini memiliki pertalian, sama-sama membuat kita kesusahan mencari fungsinya. Untuk Ramadhan sekarang, saya mengalami hal serupa dengan penggambaran di atas, hampir setiap sorenya. Punya uang sangat sedikit dan mau memberikannya kepada orang lain tetapi harus bepergian ke jalan. Sama ketika ingin membelanjakan uang di Pulau Cangke harus menyeberang ke Pulau Pala, berat saudara-saudari.

Saat Ramadhan, hukum bersedekah menjadi nyaris wajib. Cinta selalu kekurangan kosa kata untuk menggambarkannya, cinta akan terasa “gombal” kalau diumbar pada situasi dan tempat yang salah, seperti itu mungkin rasanya. Biarkan afeksinya hanya kita yang rasa.

Untuk postingan ini, saya hanya mampu menulis salah satu dari banyak dimensi Ramadhan, itupun sangat cuil. Bersedekahlah, jika ingin membuktikan bahwa kebahagian itu sederhana.