Kisah Wak Mik dari Desa 1000 Bubu

Fasilitator Sekaya Maritim bersama Pak El dan Wak Mik
Fasilitator Sekaya Maritim bersama Pak El dan Wak Mik

Daerah Muara Sungai Mempawah, Kalimantan Barat senantiasa bergeliat seiring waktu. Semenjak kedatangan Opu Daeng Manambon, seorang pengembara Bugis yang akhirnya mampu mempersatukan suku-suku di Mempawah beberapa abad silam. Kedatangan Opu Daeng Manambon menjadikan daerah ini terus bertumbuh menjadi negeri makmur oleh hasil laut yang melimpah. Sejak masa Hindia Belanda hingga sekarang, status Kuala Mempawah tetaplah tenar dengan hasil lautnya.

Desa Kuala Secapah dan Kelurahan Pasir Wan Salim adalah dua wilayah pemukiman di Kuala Mempawah yang saling berbatasan sungai. Mayoritas penduduknya adalah nelayan. Sumber ikan di Pontianak dan kota-kota lain di Kalimantan Barat berasal dari Desa Kuala Secapah.

Kuala Secapah sendiri merupakan desa dengan jumlah nelayan paling banyak di Kabupaten Mempawah. Beragamnya jenis ikan dan udang secara alami memberikan pilihan kepada para nelayan untuk memilih alat tangkap utama yang paling mereka andalkan. “Kami bisa menggunakan alat tangkap apa saja,” kata Ibrahim (29 tahun). Ibrahim adalah seorang Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB). Ia menggunakan alat tangkap jaring togok untuk menangkap udang. Lantaran itu nama KUB mereka adalah Udang Kuning.

Muahammad Jamil (50 tahun) akrab disapa Wak Mik, Kepala Dusun Karya, Desa Kuala Secapah mengisahkan, masa remajanya sebagai anak nelayan dilaluinya dengan keberhasilan-keberhasilan kecil sebagai nelayan mandiri pemula.

“Awalnya saya punya satu satu piece jaring togok, dan masih numpang kapal orang melaut. Hasil tangkapan bagus, jaring togok saya jadi tiga, lalu saya beli sampan dan mesin sentak Kawasaki.” Kenang Wak Mik. Seiring waktu, Wak Mik punya sembilan piece jaring togok, sampan seluas enam depa dan mesin TS series Yanmar. Kini, Wak Mik mempekerjakan dua orang karyawan. “Saat itu saya berani mimpi dan yakin mampu untuk menyejahterakan keluarga dan menyekolahkan anak,” tutur Wak Mik

Mimpi indah Wak Mik itu tiba-tiba terhenti setelah diberlakukannya Kepres No. 39 Tahun 1980. “Hambatan saya berhenti togok ini gara-gara trawl. Semenjak Laut Mempawah diganggu trawl kehidupan nelayan menjadi sulit. Saya yakin nelayan Kuala Secapah bisa lebih sejahtera jika trawl tak berkuasa di sini,” terang Wak Mik. Sesepuh kampung ini juga mengaku masih selalu terpengaruh amarah jika membicarakan trawl. Betapa dia telah dirugikan, mata pencahariannya terganggu, bahkan pernah terancam nyawa. Dia sempat hampir celaka ketika terjadi konflik antara nelayan Kuala Mempawah dengan para nelayan pengguna trawl.

Jaring Togok yang digunakan nelayan Kuala Secapah
Jaring Togok yang digunakan nelayan Kuala Secapah

“Dulu itu, meskipun harga ikan masih murah, uang tiga juta gampang didapat dalam sehari, sekarang kadang nda dapat hasil,” ujar Asmuni (65 tahun), nelayan sepuh Kuala Secapah. Ia memiliki perahu dengan bobot kurang dari 5 GT.

Sejak adanya aturan pelarangan, tidak butuh waktu lama masyarakat Kuala Mempawah benar-benar meninggalkan trawl. Hanya saja masyarakat lain di pesisir Laut Mempawah masih tetap menggunakannya. Mereka yang merasa dirugikan kemudian melawan, dan sempat beberapa kali membakar jaring trawl. Kejadian terbesar yang dianggap tidak pernah menyelesaikan masalah mendasar terjadi di tahun 1990, Wak Mik masih menyimpan dokumen konflik itu. “Nelayan Kuala Secapah ini rata-rata nelayan kecil dan banyak yang nelayan buruh, mengandalkan hasil tangkapan. Sekarang rasa-rasanya saya tidak mampu lagi membangun rumah seperti zaman saya togok dulu.” kata Wak Mik.

Alam selalu memiliki batasannya, waktu regenerasi biota laut tidak lagi berjalan normal selama puluhan tahun. Hasil tangkapan nelayan Kuala Mempawah senantiasa menurun dari tahun ke tahun. Keserakahan dan pengabaian aturan negara dipertontonkan ramai di perairan Laut Mempawah oleh banyak nelayan yang menggunakan trawl.

Suasana kapal-kapal parkir di Kuala Mempawah
Suasana kapal-kapal parkir di Kuala Mempawah

“Berbagai macam cara telah kita tempuh, masalahnya pengguna trawl itu sangat banyak, terkonsentrasi di daerah selain Kuala Mempawah.” keluh Teddy Prawoto, Kabid Perikanan Tangkap DKP Mempawah. Masalah lainnya yang ia sebutkan bahwa kadang ada juga aparat keamanan yang memiliki trawl. Diapun membenarkan mengenai konflik-konflik horisontal antar nelayan yang terjadi akibat masih ramainya penggunaan trawl. Upaya mendekati nelayan pengguna trawl dan melarangnya juga belum berhasil. Mereka selalu berkilah seperti itulah caranya cari makan. “Mereka bilang buat cari makan, kitapun masih bisa cari makan tanpa pake trawl.” Kata Asmuni.

Masyarakat Kuala Secapah sejak enam tahun lalu saling menggalakkan apa yang mereka sebut Desa 1000 Bubu. “Namanya Desa 1000 Bubu, kenyataannya bubu yang ada lebih dari 3000 buah,” kata Mawardi, Kepala Desa Kuala Secapah. Sebutan ini sebenarnya serupa strategi mereka untuk meningkatkan hasil tangkap. Caranya dengan membuat bubu sebanyak-banyaknya. Membuat banyak bubu biayanya tidaklah murah. Dengan begitu, pun masih sering mereka kehilangan bubu di laut akibat adanya penjaring trawl di lokasi pemasangan bubu. “Tahun lalu saya membuat 100 bubu tapi akhirnya bangkrut karena trawl,” cerita Yandi (40 tahun). Bubu yang bisa bertahan biasanya yang dipasang di daerah “aman” terumbu karang.

Nelayan Kuala Secapah, dengan impian 1000 bubunya saat ini belum memadai untuk peningkatan taraf hidup mereka. Masalah mendasarnya tidak pernah terselesaikan, jika trawl tak bisa dihentikan.

***

*tulisan ini diterbitkan di newsletter Sekaya Maritim I oleh DFW Indonesia dan KKP

*foto & teks Darmadi Tariah

Transit Pertama Trajectory: Catatan Pembukaan Makassar Biennale 2015

maxresdefault

Suasana Gedung Kesenian Makassar masih lengang ketika saya sampai di sana. Sekitar sejam lagi acara pembukaan akan dimulai jika sesuai jadwal. Pelan-pelan, semakin banyak orang berdatangan. Panitia pelaksana masih ada yang sibuk memberesi beberapa hal, berlarian sana-sini. Beberapa orang berjalan cepat-cepat, melintas dan bersapa kilat, seolah saling menahan nafas.

Beberapa penampil dalam balutan kostum hitam-hitam tampak berusaha mengalami keadaan, berusaha rileks. Mereka bergerombol di salah satu sudut berbayang, sedikit terhindar sorot lampu yang terhalang dedaunan. Sebentar lagi mereka akan memerankan sesuatu. Tampak juga beberapa orang mengenakanpassapu hitam, mungkin mereka penabuh gendang atau alat musik lainnya.

Sejenak saya memperhatikan panggung rendah yang telah siap, tampak sederhana. Sebentar lagi panggung itu akan menjadi pusat kontrol perhelatan, setidaknya untuk beberapa saat. Layaknya kegiatan seremonial di tanah ini, panggung itu juga ditata dengan nuansa akar budayanya. Beberapa penanda tradisi seperti gendang telah terpasang, akan ditabuh sebagai penanda dimulainya serangkaian perhelatan, seperti pistol yang akan diletupkan untuk perlombaan lari.

Menunggu untuk waktu satu jam bukanlah perkara yang mudah. Serasa ada jarak antara kata yang perlu dimaknai. Spasi tersebut memberikan pilihan-pilihan, di sana terletak keasingan yang mesti dibunuh, menggantinya dengan beberapa latar.

Segera saja saya mendekat ke ruang galeri melintasi pita kick off yang masih sementara dipasang. Saya melintasinya untuk bisa membaca dengan jelas tulisan dinding (wall text), semacam siaran pers yang dicetak dikertas berdimensi seperti backdrop untuk photobooth. Memang benar, tulisan itu seperti pengantar yang memuat banyak poin sehubungan kegiatan yang disusun oleh dewan kurator. Saya sempat menemukan satu huruf yang tidak semestinya mengada, nama Pierre Bourdeiu ditulis Bourdiau.

Saya tidak berniat memasuki ruang galeri, belum dibuka secara resmi. Saya hanya menyempatkan menikmati patung-patung mini di beranda ruang galeri, seperti patung terracotta yang disusun seolah sedang bermusyawarah. Sementara itu, persiapan-persiapan semakin paripurna.

Semakin dekat ke waktu yang telah ditentukan untuk pembukaan, semakin banyak orang yang datang. Tidak banyak orang yang kukenal. Tapi kebanyakan dari yang datang itu sepertinya mahasiswa.

Telah lewat beberapa belas menit dari jam 7 petang, belum ada tanda-tanda acara pembukaan akan segera dimulai. Dalam jadwal acara yang dibagikan, semestinya acara telah dimulai beberapa belas menit yang lalu. Waktu lowong itu saya sempatkan berbincang dengan Suwarno Wisetrotomo, kurator utama Makassar Biennale 2015, seorang akademisi dari ISI Yogyakarta.

Tidak banyak hal yang bisa kami obrolkan dalam waktu sesingkat itu. Belum lagi seliweran orang-orang yang menjadikan Suwarno sesekali harus bertegur sapa dengan mereka. Kami mengobrolkan sedikit mengenai permasalahan lingkungan hidup yang saat ini menjadi masalah di semua tempat.

Selain masalah lingkungan, terdapat beberapa hal menarik yang ia sampaikan termasuk keterlibatannya di Yogyakarta Biennale atau lebih sering disebut Biennale Jogja selama 26 tahun.

Sepertinya dana penyelenggaraan Makassar Biennale memang kecil jumlahnya, belum sesuai harapan penyelenggara untuk memaksimalkan kegiatan. Suwarno sempat menyinggung hal tersebut, hal yang sama juga pernah dialami Jogja Biennale ketika dihelat pertama kali pada tahun 1988. Jogja Biennale saat itu mengelola dana Rp 50 juta, berbeda jauh dengan saat sekarang yan telah mencapai Rp 1,5 miliar.

Selain persoalan dana, Suwarno juga memberikan apresiasi yang baik terhadap para penyelenggara Makassar Biennale. “Mereka orang-orang baik yang bekerja bukan untuk dirinya saja,” katanya. Dia menganggap tugas penyelenggara sedemikian beratnya, dengan dana seadanya mereka menceburkan diri dalam pusaran konflik seni di Makassar. Mereka berani memulai sesuatu, memperjuangkan harapan akan keadaan kesenian yang lebih baik di Makassar, utamanya dunia seni rupa. Oleh Suwarno, panitia digambarkan sebagai mereka yang berani menerjang badai.

Dalam tulisan dinding, eksplisit digambarkan adanya kubu-kubu yang seolah saling berhadap-hadapan, yang dari mereka diharapkan untuk bisa saling bersinergi. Dituliskan perupa akademis dan otodidak, kaum tua dan muda, sebagai pihak-pihak yang dimaksud. Dituliskan juga dua perguruan tinggi yang bagi dewan kurator mungkin dianggap sebagai representasi dunia pendidikan seni rupa di Sulawesi Selatan yaitu Universitas Negeri Makassar dan Universitas Muhammadiyah Makassar. Kedua universitas itu memang memiliki fakultas seni rupa.

“Celaka jika pemerintah abai terhadap ruang publik dan apresiasi kesenian,” demikian penegasan Suwarno mengurai model pembangunan negara dan kebangsaan di Indonesia, khususnya keadaan di Makassar. Ruang publik sebagai salah satu permasalahan integral perkotaan selama ini cenderung diabaikan. Makassar misalnya, sebagai kota yang sedang girang membangun sarana fisik abai terhadap ruang publik, kawasan hijau kota yang sesuai tuntutan konstistusi, ketersediaan ruang-ruang publik sedikit dan susah diakses, pedestrian yang seolah dihapus. Kemudian, dukungan pemerintah yang minim terhadap berbagai kegiatan dan pengembangan dunia kesenian. Logika pembangunan kota yang mementingkan kaum elite pengusaha dan penguasa serta kerakusan personal dan kelompok politik pemerintahan dianggap sebagai awal malapetaka.

Tentang Publikasi Tulisan Dinding

Sebenarnya, sedikit banyak perbincangan saya dengan Suwarno tergambarkan dalam tulisan dinding di depan ruang galeri pameran. Serupa ucapan sambutan selamat datang kepada siapa saja yang mengunjungi pameran. Berbagai permasalahan yang kami obrolkan juga terdapat dalam tulisan itu, meskipun tidak semuanya. Tulisan dinding itu bahasanya lebih padat. Tulisan itu memuat semacam latar belakang, masalah-masalah, dan tawaran-tawaran solusi serta cita-cita dari Makassar Biennale.

Beberapa poin penting tulisan itu adalah pengelakan tegas terhadap glorifikasi masa lalu, bisa jadi karena bentuk karya seni rupa masa lalu memang belum menemukan data yang memadai untuk dikemukakan ke publik.

Tulisan itu menegaskan tema maksud dari tema Makassar Biennale 2015, yakni “Trajectory”. Trajectory di sini dimaknai sebagai lintasan seni rupa Makassar sejak dulu hingga kini. Lukisan dinding purba Gua Leang-Leang diambil sebagai titik berangkat. Aspek kesejarahan ini dianggap meiliki saripati nilai budaya silam yang bisa direaktualisasi sesuai konteks hari ini. Juga ditegaskan bahwa hal ini bukan soal romantisme, tetapi soal aktualisasi nilai untuk berekspresi dan tampil dalam pergaulan antar kebudayaan. Termasuk menggagas penciptaan perlambang Kota Makassar dari sendi seni rupa melalui Makassar Biennale yang dicanangkan akan terus berlangsung setiap dua tahunan.

Terkait tema, Faisal MRA, salah seorang kurator MB, mengatakan, tema Trajectory ini salah satu maksudnya adalah untuk menunjukkan eksistensi seni rupa di Makassar selama ini. Bahwa, terdapat banyak perupa dan masih berkarya. Hal ini juga menjadikan dewan kurator memberikan “toleransi”, dengan tidak memberlakukan kriteria yang ketat untuk karya yang didaftarkan.

Menyorot trajectory kekaryaan di Makassar, menurut Faisal, memang seni rupa itu diidentikkan dengan lukisan. Setiap pameran seni rupa selalu karya lukisan yang dipamerkan. “Kita ini dominan selalu lukis, itu pun wacananya tidak memiliki isu (tertentu, mungkin politik) akhirnya terkesan umum,” demikian penggambarannya.

“Sekarang saya lihat karya-karya 2D terlalu fotografis, mimesis (terlampau naturalis-realis) – akhirnya kurator-kurator di Makassar itu berbicara hal-hal teknis saja,” ungkapnya lebih jauh. Menurutnya, persoalan prosedur kreatif tidak terlalu diperhatikan. Praktik seni rupa selama ini masih seputar inter-estetik yaitu tentang ekspresi karya. Sementara ester-estetik mengenai bagaimana hubungan praktik seni dengan kebudayaan, agama, pendidikan dsb, dianggapnya belum banyak yang mempraktikkan.

Trajectory juga tidak melulu berbicara kekaryaan, tetapi juga mengenai manajeman eksebisi selama ini yang berlangsung di Makassar. Faisal mengungkapkan, penyelenggaran pameran seni rupa kita selama ini “minim” manajemen. Hal ini dianggap tidak berkontribusi baik terhadap perkembangan seni rupa di Makassar. “Jadi begitu selesai pameran, tidak ada wacana tertinggal, segala sesuatunya menguap begitu saja,” jelasnya.

Berangkat dari penggambaran tersebut, Faisal mengatakan bahwa tingkat apresiasi seni masyarakat Makassar yang rendah bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat, tetapi pelaku seni juga harus bertanggung jawab. Menurutnya, sekarang ini masyarakat menganggap seni sebagai pelipur lara saja, profan, banal, jadi tontonan. “Jadi sampai di mana letak pemahaman ideologi berkarya, itu juga akan diikuti oleh masyarakat,” ungkapnya.

Menyoal tulisan dinding, tentu saja Makassar tidak memiliki modal kuat yang lain selain latar belakang budayanya sendiri. Produksi pengetahuan di masa lalu sepertinya jauh lebih gemilang dibandingkan saat sekarang di mana orang-orang Makassar beramai-ramai melupakan akar budayanya. Budaya “beton” yang diperkenalkan sejak zaman kolonial memiliki korelasi pada bagaimana kebendaan kemudian dianggap lebih penting dari nilai kemanusiaan.

Pengaruh paradigma pembangunan ini jelas juga terjadi pada gaya berkesenian. Karya senantiasa dianggap lebih penting dibandingkan proses interaksi dan cenderung melupakan aspek sosial yang melatari eksistensi karya. Imbasnya, kesenian menjadi sangat berjarak dengan masyarakatnya. Meski dalam karya juga kadang berisi pesan kritik sosial, tetapi gerakan kesenian belum bisa berbuat banyak untuk orang banyak.

Hal yang sama juga saya lihat pada tulisan dinding Makassar Biennale. Alih-alih membicarakan isu kekinian masyarakat secara luas, semangat trajectory malah membangun mimpi untuk tampil menjadi “the center point of Indonesia”, pusat “lain” kesenian di luar Jawa. Memang benar, ini adalah kali pertama, dan kita memiliki banyak masalah. Tetapi bukankah ini juga berarti bahwa kuasa untuk tidak peduli terhadap kontestasi konflik kesenian di Makassar terbuka untuk dijajaki. Setidaknya, gagasan mengenai kesenian untuk semua orang tidak dibatasi sebagai kesenian untuk semua orang kesenian saja.

Persoalan MC

Setelah acara molor hingga beberapa jam, akhirnya MC tampil di panggung, memulai acara. Saya mencatat beberapa hal menarik yang disampaikan MC, memuat penanda-penanda yang bisa menjelaskan sedikit gambaran situasi kuasa sosial dalam seni rupa di Makassar. Panggung pembukaan adalah ranah publik di mana praktik sosial boleh jadi mencerminkan keadaan suatu masyarakat. Di antara banyaknya kalimat yang bisa digunakan dalam penggunaan bahasa, tentu saja ada konteks yang melatari pemilihan kalimat-kalimat tertentu.

Saya sendiri belum mengalami secara langsung bagaimana konflik yang disebutkan seperti pada tulisan dinding Makassar Biennale. Setidaknya, lewat pemilihan-pemilihan kalimat MC, saya mendapati sedikit gambarannya. MC beberapa kali menyebutkan predikat “seniman senior” yang mengarah kepada tamu-tamu tertentu. Meskipun samar, ada kesan yang sepertinya menegaskan kalimat ini juga memiliki maksud tertentu, mungkin mengarah pada identitas konflik perkubuan. Tentu saja kalimat ini tidak bermaksud negasi maupun negatif, tetapi menghadirkannya ke ranah publik bisa jadi menunjukkan betapa konflik itu memengaruhi.

MC juga tidak pernah lupa melakukan penyebutan gelar akademik kepada seseorang yang disebutkannya, kecuali kepada para kurator Makassar Biennale. Sekilas, rasa-rasanya kita sedang dalam ruang-ruang akademik. Mungkin laku seperti ini adalah kewajaran untuk masyarakat Sulawesi Selatan, tempat patron-klien menjadi satu-satunya asas yang paling kuat dipraktikkan dalam relasi-relasi sosial. Mungkin juga semacam ruang ketidaksadaran yang menegaskan umur panjang primordialisme masyarakat kita. Mungkin juga serupa sanggahan kepada yang menganggap bahwa ada irisan yang kabur antara dunia seni akademis dengan yang bukan, bahwa batas itu sebenarnya tidak ada, perihal akademis juga meruang di luar ruangannya. Dan bisa jadi, inilah bentuk-bentuk nyata “toleransi” yang dimaksud di luar kekaryaan seni.

Sambutan-sambutan

Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Direktur Makassar Biennale, Rahmat Arham, ketika memberikan pidato sambutan bahwa kesenirupaan di Makassar penting untuk merambah sisi lain dari seni yang belum terjamah selama ini. Mewakili penyelenggara, mereka bermaksud membuka ajang untung memperbincangkan banyak hal, bukan hanya persoalan estetika dalam seni tetapi juga gagasan. Pameran seni rupa, menurut Arham, bukan hanya persoalan pajang-memajang karya semata. “Makassar Biennale adalah ajang yang peruntukannya bukan sekedar pajang-memajang karya, tetapi diskursif kesenian,” katanya.

Arham juga menyampaikan kabar gembira sehubungan proses pengumpulan karya untuk pameran Makassar Biennale 2015 ini. Mereka menemukan perupa-perupa muda yang dianggap tidak biasa, mampu melampau sekadar estetik, yang berani melakukan eksplorasi pada tawaran kemungkinan-kemungkinan artistik. Pernyataan-pernyataan Arham merupakan keberhasilan awal mengatasi kegelisahan perihal kemandegan perkembangan wacana kesenian di Makassar. Penyampaian pesan ini sebagai semacam tawaran, atau solusi atas kondisi seni rupa kita selama ini. Olehnya itu, Arham mengungkapkan tugas berat ke depannya adalah menjaga kontuinitas atau keberlangsungan Makassar Biennale.

Setelah Arham, beberapa orang bergantian memberikan kata sambutannya. Ibu Susianti, mewakili Menteri Pendidikan menyampaikan satu hal penting kepada publik Makassar Biennale. Sokongan kementeriannya kepada kegiatan ini dibarengi dengan harapan bahwa akan tumbuh semangat dan budaya berkesenian yang lebih baik lagi. Baginya, idealnya seni tidak bicara terhadap dirinya sendiri, tidak seperti seseorang yang sedang bicara dengan bayangannya dalam cermin. Susianti mengingatkan betapa kesenian itu harus peduli akan konteksnya, di antaranya masyarakat di mana seni itu dipraktikkan. Setelahnya, perwakilan Walikota Makassar memberikan sambutan, bahasanya normatif—seperti umumnya siaran publik pemerintah kota Makassar saat ini—sehingga saya tidak tertarik membuat catatan.

Tibalah giliran Suwarno sebagai kurator utama memberi sambutan. Sebelum memulai, ia mengajak keempat kurator pendampingnya untuk sama-sama berdiri di atas panggung. Terdapat beberapa poin yang disampaikan Suwarno. Pada dasarnya, pidato ini memuat pesan yang sama dengan tulisan dinding, hanya saja dibawakan dalam bentuk poin-poin dan dengan bahasa pidato tentunya.

Poin pidato pertama mereka hasratkan sebagai upaya memetakan seni rupa di Makassar. Peta berupa lini masa ini berusaha melakukan pencatatan peristiwa-peristiwa kesenian yang penting dalam rangkaian waktu. Hal ini serupa seruan mengenai pentingnya kesadaran sejarah yang digali dan dipelajari dengan dasar orientasi untuk masa depan.

Poin kedua berupa penyampaian mengenai upaya membangun penanda kota sebagai milik bersama, Makassar Biennale berpandangan bahwa kota sebagai milik bersama meniscayakan keterlibatan semua pihak. Di sisi lain, hal ini juga berarti bahwa upaya ini tidak ingin merawat dikotomi yang ada selama ini. Sehingga, semangat Makassar Biennale akan tercapai yaitu sebagai ruang kebebasan untuk aktivitas seni.

Poin ketiga dari pidato ini sangat mungkin berupa pernyataan sikap terhadap pemerintah. Suwarno menyatakan alangkah buruknya suatu kota yang tidak memperhatikan kesenian. Poin ini kemungkinan lahir dari diskusi panjang dewan kurator dalam melihat keadaan pemerintahan dan pembangunan di Kota Makassar. Sebelumnya, Arham sempat menyatakan dalam pidato sambutannya bahwa Makassar Biennale adalah biennale termiskin di Indonesia. Pernyataan tersebut dilipur oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Makassar, Rusmayani Madjid, dengan menjanjikan menjadikan Makassar Biennale ke depannya sebagai agenda kota. Melalui poin ini, dewan kurator menyampaikan betapa Pemkot masih kurang perhatian dan dukungan terhadap aktivitas kesenian.

Wawancara dengan Mike Turusy

Setelah pembukaan, saya menyempatkan diri untuk mewawancarai Mike Turusy, seorang perupa Makassar yang tidak terlibat pada pameran Makassar Biennale 2015 ini. Menurutnya, meski tidak mengikutkan karya, tetapi penting baginya untuk menghadiri acara ini. Selain sebagai bentuk dukungan, kehadirannya adalah perwujudan sikap yang dikatakannya memiliki jiwa kesenian.

“Makassar Biennale bagus tapi bukan segalanya, saya tidak harus mengikutkan karya saya di sini,” katanya. Dia menyampaikan bahwa banyak perupa senior yang juga tidak berpartisipasi. Meski tidak berpartisipasi, dia menyampaikan bahwa banyak “muridnya” yang ikut dalam pameran ini. Dia sendiri tidak peduli dengan dikotomi seniman akademisi dan otodidak. Disebutnya bahwa, ia rajin menghadiri acara-acara seni rupa baik di kampus maupun di luar kampus.

Menurut Mike, tulisan dinding bukanlah hal yang terlalu penting untuk dibahas. Baginya, lebih baik melirik ke pamerannya sebab banyak karya yang dia anggap sudah tidak layak dipamerkan lagi namun masih ditampilkan juga. Dia menyampaikan bahwa ada beberapa karya yang sering dipamerkan berulang-ulang dari tahun ke tahun. “Seharusnya dalam ajang pameran besar Makassar Binnale harusnya karya tahun 2015 yang bisa ikut, agar kita dapat mengetahui seniman yang selalu berkarya, siapa seniman yang eksis,” katanya.

Dia menutup perbincangan kami dengan memberikan apresiasi terhadap Makassar Biennale. “Pameran ini segi positifnya tentu ada, bahwa Makassar sanggup mengadakan pameran binnale, walau masih terkesan dipaksakan.” Hal yang baik dia sampaikan itu bukanlah tidak beralasan, dewan kurator sendiri mengakui berbagai kekurangan yang masih ada.

Setelah beberapa saat, keadaan di sekitar gedung kesenian berangsur sepi. Keramaian yang tersisa adalah seperti biasanya Sabtu malam, kawasan ini ramai. Para pengunjung yang tadinya membludak satu per satu meninggalkan lokasi acara. Pembukaan Makassar Biennale berakhir, menyisakan beberapa agenda yang masih akan digelar hari-hari berikutnya. Acara meriah ini semacam persinggahan sejenak untuk trayektor seni rupa Makassar, selanjutnya akan melintas lebih jauh.

[Darmadi Tariah]

Makassar Masih Makassar

contributor
image source: http://goo.gl/e7fafJ

Harapan itu masih menggantung di langit Makassar pagi ini, Rabu, 19 November 2013. Harapan langka tentang pentingnya menyuarakan ketidaksetujuan. Harapan tentang “tidak” yang masih mewujud dalam kamus keseharian yang semakin monotonik, sama rata digilas dan dihaluskan narasi-narasi besar. Harapan yang pohonnya telah ditebang Orde Baru silam, pokok batangnya dibakar Rezim-Rezim Reformasi, dan akarnya yang mulai dicabuti satu-persatu rezim terbaru saat ini. Relatif dengan wicara yang sama, bahasa kuasa pembentuk keseragaman, kalimat-kalimat lalim, dan kosa kata mematikan.

Kini hari-hari memerah, bara abadi perlawanan kembali menyala-nyala di jalan-jalan utama. Asap hitam tirani kuasa memburamkan langit kota. Batu-batu beterbangan, anak panah memercik bunga api setiap kali menghantam aspal sebelum melenting menyasar kepala-kepala tanpa nama demonstran. Pelangi warna-warni jas almamater memerah bersimbah darah dan cokelat debu.

Para vanguard itu tetap bertahan. Mereka masih mampu berkata tidak meski anak panah telah menembus rahang, rusuk dan betis. Bibir-bibir mereka bilang tidak meski telah pecah oleh pentungan dan tembakan. Mata mereka masih menyala meski perih oleh gas air mata. Gelora mereka berkobar meski telah dihujani caci-maki dan sumpah serapah masyarakat indiviualis borjuis unyu-unyu. Mereka mampu menanggung luka-luka gigitan anjing penjaga kapital dan viral nyinyir dunia maya ciri khas kelas menengah ngehe.

Pengadilan jalanan masih hidup di sini, saat kota-kota lain seolah mati tidak bisa bangkit lagi. Saya yakin kalian bukan pembuat onar, karena kata tidak bukanlah tindak kriminal. Saya yakin kalian bukan perusuh, karena keamanan dan pengamanan bukan tugas kalian. Gerbang kampus-kampus kalian adalah pintu-pintu keadilan yang pondasinya adalah nyawa kalian yang dicabut para preman berseragam penjaga kekuasaan, yang disiarkan sebagai penjaga keadilan dan pengayom masyarakat. Gapuranya dibangun dari darah kalian yang ditumpahkan preman bayaran dan kriminal peliharaan yang disiarkan bernama warga.

image source: http://goo.gl/ei2JCq
image source: http://goo.gl/ei2JCq

Malam tadi bukanlah hal yang baru, malam panjang berdarah penuh kebuasan kuasa terkomando. Malam tadi adalah sama dengan malam-malam panjang lalu saat kebuasan dipertontonkan oleh kriminal peliharan. Persis di pelupuk mata penjaga keamanan yang melakukan pembiaran. Selanjutnya seragam dan non-seragam tergabung menjadi wajah asli kuasa pemerintahan, peradilan dan hukum kita, memaksa kalian setuju atau diburu. Ujung lensa dan pena media-media kemudian menjadi pilar demokrasi yang baik, membersihkan noda hitam para tuan dalam bahasanya yang paling advertisif.

Para vanguard tadi malam sekali lagi membentengi kewarasan. Meski kebuasan para penjaga kapital, dengan seragam atau non-seragam, siap memecahkan batok kepala kalian. Meski angle kamera betah melanjutkan tradisi FOX dan CNN dalam membusuki kalian. Meski para penikmat musik pagi dan penggemar reality show petang tidak memberikan sedikitpun ampunan pada tataran moral mereka berupa viral dunia maya dan kutukan kepada kalian. Meski para akademisi dan intelektual muda gencar membunuh logika kalian untuk menjadi seperti mereka menginjak ke bawah menjilat ke atas.

Untuk setiap tidak yang kalian ucapkan, kelas menengah ngehe telah menyiapkan kafan logika absurd. Untuk setiap tidak yang kalian teriakkan, intelektual kita telah menyiapkan tuduhan amoral kepada kalian, dari ruang-ruang korup, pengap berasap opium dan lembab keringat syahwat birahi. Untuk setiap tidak yang membuat kecemburuanku semakin pekat pada kalian, merajalah. Teruslah berdendang, “takkan berhenti meski tak ada yang peduli, takkan peduli meski semuanya berhenti.”

Harapan itu masih menggantung di langit Makassar pagi ini, Rabu, 19 November 2013. Entah sebentar akan berlangsung seperti apa. Akankah kalian berakhir jadi “Amarah”, ”Gunung Sari”, atau “Talang Sari”. Entah. Apapun itu, semoga api abadi tanah ini masih terus membara, jadi kerikil kecil dalam sepatu mengkilap para lalim itu. Maka, kepada para vanguard, jagalah Makassar jadi Makassar.